Sabtu, Jakarta pagi ini di guyur hujan deras. Setiap detiknya terasa begitu cepat, seiring air yang jatuh deras ke tanah dari Tuhan.
Jemari lentiknya menari dengan indah, mengalun merangkai kata di atas Mesin Tik yang ia beli bulan lalu.
Suasana hatinya masih sama, hampa.
Ditemani secangkir teh hangat melati, menatap guyuran hujan dari balik jendela kamar nya. Bahkan, rasa dan bau nya masih sama seperti pertama.
Ketika ia bertemu dengan dia , melupakan orangnya bukan berarti melupakan rasanya.
Tok Tok Tok
"Ya, siapa?" jawabku tanpa melihat ke arah pintu kamar.
"Ada surat untuk kamu, dari kemarin Ibu bilang kan, untuk balas surat-suratnya." suara lelah Ibu terdengar halus di telinga ku.
"Andir lupa, maaf merepotkan Ibu."
Ibu menaruh beberapa potong surat diatas kasur, lalu pergi tanpa mengucapkan apa apa lagi, seolah tahu bahwa semua perkataan nya tidak akan di lakukan atau di dengar.
Andir menatap surat dengan pias, bangun dari duduk nya mengambil surat itu, lalu membuang ke tempat sampah di sudut kamar.
Tempat sampah sudah penuh terisi puluhan surat, dengan amplop berwarna sama, gaya tulisan yang sama. Dan, satu penulis yang sama.
Membacanya saja, Andir tidak bisa apalagi untuk membalasnya. Ia tahu, besok sudah tidak ada surat lagi yang akan datang, karena penulis nya yang akan datang langsung kepadanya.
Andir harus siap, mau bagaimana pun hasilnya nanti. Andir berharap, semua cepat selesai tepat waktu. Tanpa halangan sedikit pun, seperti saat ini.
YOU ARE READING
SET 1
Short StoryKetika satu kesatuan rasa hancur oleh Ego masing-masing. Tidak hanya sampai disitu, semua yang mereka lakukan selama ini, menjalani, menghadapi terasa sia-sia. Jiwa mereka Raga mereka Hancur sudah, tidak ada lagi harapan. Hanya ada satu pertemuan...
