Part 33 - Ada Apa Dengan Senyumnya?

2 1 0
                                    

Pukul 07.30 pagi, mentari menyeruak. Menampakkan sinarnya dari balik gorden putih, menyentuh segar pada permukaan kulit.

Nisa mengemas beberapa barang miliknya ke dalam sebuah koper hitam, beriringan dengan isak tangis dan pilu.

Sedang di seberang sana, seorang pria tengah memperhatikannya dengan sangat lekat. Tatapan kosongnya tak dapat diartikan.

Menghampiri. "Aku antar kamu pulang ke rumah kamu," tawarnya. Menatap halus pundak Nisa.

"Nggak perlu!" Membalikkan badan. "Aku bisa sendiri." Sembari menenteng kopernya dan siap meninggalkan apartemen.

"Pulang dari sini, jangan bawa keras kepala kamu sampai ke sana," peringatnya penuh makna.

"Aku nggak berubah, aku tetap Nisa yang dulu," ucapnya yang kemudian langsung membawa dirinya pergi dari hadapan Dimas.

Menahan langkah Nisa, mengambil alih koper dari tangannya dan berjalan lebih dulu. Namun, langkahnya tiba-tiba saja tertahan oleh sosok yang berdiri tegap. Menatap seseorang di balik punggung Dimas.

"Rian," kaget Dimas saat mendapati Rian yang tiba-tiba muncul dalam permukaan bidang pandangnya.

"Gua ke sini buat jemput Nisa," ucapnya tanpa basa-basi.

"Biarin aku jalanin tanggung jawab aku dulu untuk terakhir kali, Ran. Baru lu bebas mau bawa Nisa ke mana."

"Tanggung jawab kamu udah selesai. Sekarang lepasin Nisa."

Merasa sudah tidak ada hak lagi, Dimas memilih mundur. Tidak ingin mencampuri hidup Nisa lagi.

"Oke, hati-hati." Dengan berat hati, ia melepas Nisa dari kediaman miliknya. Waktu enam bulan yang dihabiskannya bersama dengan Nisa, sudah memberitahu Dimas tentang makna hidup yang sebenarnya. Kini, ia hanya bisa meratapi kepergian Nisa.

***

Rupanya, kedatangan Nisa disambut meriah oleh keluarga dan para tetangga yang lain. Begitu bersyukurnya hati para sang tetangga, kini mereka tidak kehilangan bahan gosip lagi yang membuat lingkungannya terasa hampa!

"Nak Nisa," ucap Ibu Tut yang langsung memeluk Nisa.

"Apa kabar kamu Nisa? Udah lama bangat nggak lihat kamu di komplek ini," tambah Ibu Nining.

"Yuhui, belahan hati Akang akhirnya kembali juga," ucap Rangga penuh syukur.

"Alhamdulillah. Sehat-sehat terus ya, Nis," ujar Ustadzah Syaila. Ia pun terlihat senang dengan kembalinya Nisa beserta ingatannya.

"Ya udah, Nisa sudah datang. Silakan Ibu-Ibu ngobrolnya di dalam rumah aja ya," ajak Ibu Renata. Betapa bahagianya hatinya, melihat sang anak kembali menginjakkan kaki di rumahnya sendiri dalam keadaan yang sangat menyentuh.

"Ibu," ucap Nisa. Ia berjalan pelan menghampiri sang Ibu dan memeluknya.

"Maafin Nisa, Bu." Isak tangis terdengar dalam dekapan sang ibu.

"Nggak perlu minta maaf, Nak. Ini bukan salah kamu. Yang terpenting, anak ibu sudah kembali," ucap Ibu Renata dengan tatapan sendunya.

"Eh, ada Dokter Rian. Hm, jadi kapan nikahnya?" Ucapan Ibu Tut membuat Rian menjadi salah tingkah.

"Insya Allah, Bu. Selesai masa penugasan, kami menikah."

"Wah, bakal ada acara nih di komplek kita. Kalau bisa cepat-cepat nikahnya," ujar Ibu Nining yang terlihat menampakkan aura kegirangan.

Situasi kali ini sungguh pelik dirasakan oleh Rian dan Nisa. Bentuk pertanyaan yang selalunya saja mengarah pada pernikahan, membuat Nisa sedikit kewalahan.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang