Prolog

20 2 0
                                        

Bugh

Tiba-tiba saja pandangan nya menghitam setelah mendengar teriakkan namanya. Ya, apalagi kalau bukan pingsan. Chania sedang terbaring di UKS ditemani sahabatnya Chyntia. Sudah setengah jam lamanya Chania belum juga sadar. Anggota PMR yang sedang berjaga terus mengontrol keadaan nya. Sedangkan Chyntia hanya mondar-mandir dari tadi, mengkhawatirkan keadaan Chania. Chyntia dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.

Ceklek

"Ci, gimana keadaan Caca. Tadi ada yang datang ke kelas nyariin Caca, katanya di suruh jumpain pak Jimmy di ruangan nya" jelas Dodi.

"Belum sadar Dod, nanti gue kasih tau ke Caca kalau sudah sadar" jawab Cici.

"Yaudah deh, gue balik ke kelas lagi ya. Lo ngak ada niatan masuk" tanya Dodi.

"Enggak deh Dod. Gue khawatir sama Caca. Tolong bilangin ya gue di UKS jagain Caca" balas Cici sambil berjalan ke arah sofa.

"Tenang aja" Dodi pun menutup pintu dan langsung ke ruang kelas.

Dari tadi Cici membolak-balik halaman ponselnya. Ingin rasanya menelpon orang tua Caca untuk memberi tau keadaan Caca. Tapi Cici tidak ingin melihat Caca marah lagi karena memberi tau keadaan nya.

"Kok, kepala gue sakit banget ya" ternyata Caca sudah sadar. Cici yang terkejut pun langsung menghampiri Caca.

"Ca, lo udah sadar. Lo masih kenal gue ngak? Lo ngak amnesia kan? Pusing ngak? Minum dulu ni. Mau duduk? Sini biar gue bantu" Cici memberikan air yang sudah dicampurkan dengan gula untuk menghilangkan rasa pusing nya.

Caca pun tertawa melihat sahabatnya yang satu ini ada saja tingkahnya yang berhasil menghibur "Gue mau nya sih ngak ingat sama lo, cuma ingatan gue ga segampang itu buat hilang. Pusingnya udah lumayan hilang. Cuma kepala gue masih sakit" jawab Caca yang memegang kepalanya sambil minum air yang diberikan Cici.

"Beruntung karena ada gue dalam ingatan lo maka nya ngak hilang. Kepala lo memang agak bengkak Ca, tapi udah di kompres kok. Lo tadi kena lemparan bola basket, cuma gue ngak tau siapa yang ngelempar lo. Waktu lo jatuh semua yang ada di dekat situ langsung ngelilingin lo. Eh iya, tadi kata Dodi lo di suruh jumpain pak Jimmy di ruangan" jelas Cici.

Caca mencoba bangkit dari duduknya, tapi keseimbangan nya masih belum stabil. Hampir saja dia terjatuh lagi, untung Cici dengan sigap memegang nya. "Lo mau kemana Ca."

"Mau nyari orang yang ngelempar gue" dengan mata yang melotot ke arah Cici. "Ya jumpain pak Jimmy lah, yakali mau buang-buang waktu nyari pelakunya" jawab Caca dengan tawanya.

"Perlu gue temenin nggak. Gue liat berdiri aja lo susah apalagi mau jalan" ledek Cici.

"Boleh deh" jawab Caca langsung berdiri dengan masih memegang tangan Cici. Tak lupa mereka berterimakasih dengan anggota PMR yang sedang berjaga.

Di ruang kepala sekolah

Hanya ada pak Jimmy dan Caca. Cici yang tadinya ikut menemani hanya menunggu di luar. Cici tidak mau mengganggu suasana, walaupun pak Jimmy tidak keberatan.

Tiba-tiba pak Jimmy memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepadanya. Caca menaikkan alisnya sebelah menatap pak Jimmy.

"Bukalah, baca dengan teliti" ujar pak Jimmy sebelum Caca bertanya.

Caca masih berpikir untuk membuka, dia kelihatan bingung dan penasaran apa isi yang akan diterimanya. Pelan tapi pasti Caca membuka segel amplop.

Dia membaca dengan teliti. Paris Science et Lettres-PSL Research University Paris France. Matanya membulat menatap pak Jimmy meminta kejelasan apa maksud semua ini.

"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Bukan kah kamu sudah membacanya dengan teliti." Caca masih terdiam menatap kertas itu dan pak Jimmy secara bergantian. "Baik, akan saya jelaskan lagi. Kamu sudah tau kan kalau itu surat undangan beasiswa. Kamu adalah murid pintar disekolah, kamu juga berpengalaman dalam olimpiade. Kamu adalah murid terpilih dari sekolah untuk mendapatkan kesempatan emas ini. Sebaiknya, kamu beritahu dulu orang tuamu. Jika nanti kamu berminat, jumpain saya kembali. Saya tau orang tuamu juga mampu membiayai walaupun tanpa beasiswa, tapi hanya ada beberapa murid yang mendapat kesempatan emas seperti kamu di kota ini" jelas pak Jimmy.

"Terimakasih pak, saya tidak menyangka bahwa saya bisa mendapatkan kesempatan emas ini. Nanti akan saya bicarakan lagi dengan orang tua saya. Sekali lagi terima kasih pak. Saya permisi balik ke kelas" Caca pun bangkit dan keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan campur aduk seakan lupa dengan kejadian yang tadi.

Ceklek

Cici terkejut mendengar pintu di buka dan langsung berdiri memegang tangan Caca. Pandangan Cici terarah ke amplop berwarna coklat yang di pegang oleh Caca. "Apaan tuh ca, tumbenan lo dapat begituan. Bukan surat yang aneh-aneh kan ca" Cici menatap Caca.

Caca terdiam sejenak. "Ya bukanlah. Ayo kembali ke kelas bisa-bisa kita ketinggalan pelajaran nanti" Caca mengalihkan pembicaraan,seperti tak ada niat sedikit pun untuk memberitahu Cici.

⭐⭐⭐⭐

Follow sebelum membaca
Ini cerita pertama, semoga aja ga berhenti di prolog
Vote dan komen
Masih banyak kekurangan 🙏

Bintang (C) di Secangkir KopiWhere stories live. Discover now