"Kau akan mematahkan kakimu"
Tubuh seorang gadis yang sedang bermain di bawah langit malam bersalju seketika membeku, bukan karena dinginnya cuaca, tapi karena sebuah lengan kokoh tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Menopang Aina yang hampir mendarat di teras yang licin saat tergelincir.
"Dan membeku dengan pakaian tipis ini"
Geram pria di belakangnya sambil mengeratkan dekapan. Suaranya berat dan rendah, membuat tengkuk Aina meremang.
Aina berada di luar sebuah gedung apartemen saat Baren yang baru saja turun dari mobil melihatnya. Gadis itu sedang menatap ke arah berlawanan. Ia hanya mengenakan gaun tidur semata kaki, sandal ruangan berbentuk rubah putih dan kaus kaki berwarna senada. Tanpa sweater, jaket, selimut atau apapun yang bisa memberikan kehangatan tambahan. Di suhu serendah ini, tidak akan mengherankan jika seseorang membeku kedinginan ketika berada di luar ruangan tanpa mengenakan pakaian tebal.
Aina masih tidak bergerak, terpaku pada posisinya beberapa saat, termanggu merasakan kehangatan maskulin di belakangnya. Dengan gugup, ia dongakkan kepala, berusaha melihat wajah pria rupawan yang sedang menatapnya dengan tajam. Baren jauh lebih besar darinya, sedikit terlalu besar dari kebanyakan orang, serta lebih mengintimidasi.
Mereka terdiam cukup lama, saling memandang satu sama lain, hingga tangan bebas Baren bergerak menyentuh wajah yang terlihat memerah karena terlalu lama terpapar udara dingin. Terdengar helaan nafas, bersamaan dengan usapan ibu jarinya, merasakan dinginnya pipi Aina, bibirnya bahkan terasa lebih dingin. Baren menggeram. Entah sudah berapa lama gadis ini berada di sini.
Saat ekspresi meminta maaf tergambar di wajah Aina, tatapan Baren berangsur melembut, terlihat sedikit lelah bercampur khawatir, ada guratan tipis senyuman hangat yang mungkin tidak disadari Aina yang kembali menunduk karena canggung ditatap si mata gelap.
Dengan mudahnya, ia angkat tubuh Aina layaknya seorang ayah menggendong putrinya yang masih berusia tujuh tahun. Terkejut, ia sontak mengalungkan kedua lengan melingkari kepala Baren, memeluk erat hingga tanpa sengaja mencengkeram rambut bagian belakang pria itu dan menghalangi penglihatannya. Ekspresi Baren seketika menggelap merasakan kedekatan yang tanpa sadar dilakukan gadis itu.
"Sepertinya kau juga akan mematahkan kakiku"
Kalimat bernada datar itu membuat Aina yang sempat panik tersadar. Berjalan dengan mata tertutup di jalan bersalju bukanlah ide yang baik. Bisa saja Baren terjatuh ketika menaiki tangga teras sambil menggendongnya dan ya, mematahkan salah satu anggota tubuh mereka.
Baren menunggu dengan ketenangan menegangkan hingga Aina melepas sendiri cengkeramannya. Jari-jemari mungil itu berpindah dengan gugup ke bahu yang lebar bersamaan dengan langkah tegap yang membawanya memasuki apartemen. Mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap mereka secara terang- terangan saat melewati lobi.
Sejujurnya, Aina sangat ingin menutupi wajahnya yang merona malu saat beberapa orang kembali menatap mereka ketika akan memasuki lift menuju lantai teratas apartemen, tapi ia tidak berani. Melepaskan pegangan di pundak Baren sama saja dengan mengambil resiko kehilangan keseimbangan dan berakhir mendarat di lantai. Bahkan saat salah satu sandal yang dipakainya terjatuh, Aina tak bergeming. Sedangkan sikap acuh pria itu dengan keadaan sekitar mereka tidak membantu sama sekali.
Pada akhirnya Aina hanya bisa menunduk, sedapat mungkin menyembunyikan wajahnya, pasrah dibawa memasuki ruangan bernuansa eksklusif dan dibaringkan di atas kasur berukuran besar.
Baren, yang awalnya hendak beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi menunda niatnya saat ekor matanya menangkap Aina. Gadis itu kaku tak bergerak dari posisinya. Gaun tidur semata kakinya tersingkap hingga lutut, memperlihatkan kulit putih pucat. Dengan bedcover berwarna marun gelap, ia kelihatan begitu mencolok, mungil, dan sedikit gemetar.
Melepas jas yang sedang dipakai, Baren perlahan menunduk sambil melonggarkan dasi, mengamati Aina yang sedikit tersentak saat ia mendekat. Ketika tangan besarnya menekan sisi matras di samping kepala Aina, gadis itu tergagap. Dan ketika jemarinya perlahan digenggam, ia menutup mata panik. Kegelisahan melandanya merasakan hembusan hangat nafas Baren di wajahnya.
Aina takut, ia belum siap dengan segala hal yang berhubungan dengan sentuhan laki-laki, rasanya masih begitu asing. Dirinya hanyalah gadis muda berusia belasan tahun tanpa pengalaman romansa apapun sebelumnya. Ingin ia dorong tubuh besar di depannya dan berlari sejauh mungkin.
Hanya saja Aina tidak bisa melakukannya, ia tak punya hak untuk menolak. Tidak saat ialah yang memutuskan untuk menyerahkan diri secara sukarela pada pria di hadapannya.
...END OF PROLOG...
My first story. I hope it suits your taste.
Terima kasih bagi yang berkenan membaca, vote hingga memberikan komentar
Salam mendebarkan dari Baren & Aina ♡
STAI LEGGENDO
A Hello Tears
Storie d'amore[17+ RECOMMENDED || Cerita yang ditarik akan diup lagi secara berkala (kemungkinan ads sedikit revisi disana sini ^^) Bukan explicit mature content, tapi karena pemilihan tema dan diksi yang kurang baik untuk early teens. A Hello Tears berkisah tent...
