Ayah

200 21 23
                                        

"Senyumku adalah gambaran keikhlasanku namun tak benar-benar menutupi kesedihanku."

***

Degup jantung meronta hingga membuat sang puan kewalahan, tulang yang begitu kuat menopang seakan lupa jati dirinya, otak seolah radio rusak yang terus berbunyi tanpa kendali

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Degup jantung meronta hingga membuat sang puan kewalahan, tulang yang begitu kuat menopang seakan lupa jati dirinya, otak seolah radio rusak yang terus berbunyi tanpa kendali.

"Ayo kita ke rumah sakit, apa yang kalian lakukan?" Perasaan takut, emosi, dan panik menguasai diri. Di mana sebenernya telinga mereka? Apa tidak berfungsi lagi?

"Kalian denger nggak? Ayo!" Ia tidak bisa menunggu lebih lama, ini adalah pertaruhan nyawa dengan waktu.

"Ck, biar Leona sendiri yang bawa Ayah ke rumah sakit." Sebelum kaki mungil itu mengambil langkah tubuhnya sudah ditarik mundur keluar dari kamar.

"Lepas!."

"Tenang Leona."

"Tenang lo bilang? Lo bisa tenang ayah lo baik-baik aja, tapi ayah gue? Ayah gue Kak, apa salahnya gue mau bawa ayah ke rumah sakit?" tangis Leona pecah di hadapan Elang, nafasnya memburu, bahkan panggilan yang semula aku-kamu telah berganti gue-lo.

"Na_"

"Apa? Mau bilang apa lagi, hah?" Sentaknya memotong ucapan Elang.

Tatapan iba Elang berikan kepada Leona, tubuhnya merengkuh tubuh ringkih itu, hanya pelukan yang bisa ia berikan, ia tidak memiliki kekuatan di luar nalar untuk memperbaiki keadaan.
"Leona kuat, Kakak yakin itu dan ayah pasti juga mengharapkan itu, ikhlas cantik, bukan air mata ataupun teriakan yang ayah butuhkan sekarang, ayah butuh ketenangan, ayah butuh doa, hapus air matamu, tuntun ayah cantik, Kakak tau kamu pasti bisa, bisikan nama Allah di telinga Ayah untuk terakhir kalinya." Sungguh sebenarnya Elang tak ingin mengucapkan ini, namun ia juga tak bisa menenangkan Leona dengan harapan juga kebohongan.

"Ayah pasti sembuh." Sangkal gadis itu disela tangisnya.

"Allah sayang ayah makanya ayah sembuh, udah nggak sakit lagi, udah nggak perlu cuci darah lagi, kita nggak punya waktu lama cantik, hapus air matamu temani ayah." Tangan Elang tak henti mengusap punggung gadis yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. "Ikhlas ya."

"Ayahhh." Tubuh gadis itu terguncang hebat.

"Sekarang atau nanti ini tetap akan terjadi, ikhlas cantik." Elang melepas pelukannya lalu menghapus air mata Leona

Helaan berat keluar dari bibir Leona, tangannya terulur menghapus sisa air mata, benar kata Elang, Ayahnya sembuh, dan ya bagaimana Bunda jika ia terus terusan begini.
"Leona kuat," bisiknya menguatkan diri.

"Ingat, ayah nggak butuh air mata." Senyum tipis muncul di bibir pucat Leona, dengan yakin ia mengambil langkah kembali memasuki kamar di mana ayahnya berada.

Hati Leona sungguh teriris melihat sang Bunda terisak memeluk kaki Ayah, begitu pun dengan Bibi yang ikut menitihkan air mata berusaha menenangkan majikannya, dialihkan fokusnya kepada Papa Elang yang tengah memeriksa denyut nadi ayah. Helaan berat kembali dikeluarkan Leona, dengan pelan gadis itu menaiki ranjang lalu mensejajarkan bibirnya di telinga seseorang yang bergelar cinta pertamanya.

"Allah, Allah, Allah, Allah," lirih juga bergetar, sekuat tenaga menahan genangan air yang siap meluncur bebas dalam satu kedipan mata, berusaha tenang di tengah kepanikan, ketakutan dan kemungkinan besar harus berakhir dengan keikhlasan.

Ini seperti mimpi, ya, ini mimpi, seseorang tolong bangunkan Leona lalu katakan ia benar-benar bermimpi.

"Allah, Allah, Allah." Bibir gadis itu terus saja berucap sedangkan matanya fokus pada dada Andi, Ayahnya.

Mengapa lambat-laut dada itu semakin lambat bergerak, batin Leona teriak, jangan, nggak, Leona nggak mau, ya Allah, selalu itu yang diulang.

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Tubuh Leona lemas mendengarnya, seketika teriakan juga isakan bunda bertambah nyaring.

Aron, Papa Elang menyedekapkan tangan Andi di antara dada dan pusar. "Ikhlas, Nak." Tangannya terulur mengelus puncak kepala anak dari sahabatnya itu. "Biar Om yang ngurus semuanya."

Kaki Aron melangkah menjauh, pupus sudah harapan Leona, telah berakhir juga penderitaan sang ayah.

Entah berapa banyak bawang di ruangan ini sehingga siapa pun yang melihatnya akan menyeka air mata, seorang istri yang menangis sejadi jadinya di samping suami juga anak yang terbaring lemas seolah kehilangan semangat hidup di sisi lain jenazah sang ayah.

"Bunda ikhlas ya, titip Bunda ya Bi, Leona mau keluar dulu," ucap gadis itu lalu bangkit.

Anak perempuan satu-satunya, jika bukan ia lantas siapa lagi dari pihak keluarga yang mengurus peristirahatan terakhir sang ayah? Kakinya harus kokoh, bahunya harus kuat, dadanya harus lapang.

"Kak apa yang harus Leona lakuin?" tanya pada Elang.

"Semua udah diurus papa, kamu tenangin diri dulu ya, tenangin bunda, Kakak tau ini pasti berat buat kamu tapi ini takdir terbaik dari Allah untuk Leona." Takdir, jika telah mengikut sertakan kata ini siapa yang bisa melawan? Berandai-andai pun tak ada gunanya.

"Leona tau dan in syaa allah Leona ikhlas." Tidak ada air mata yang menetes, hanya mata merah, kosong, tidak fokus. "Ah aku harus telpon Aunty dulu." Merogoh ponsel di sakunya.

"Kakak bangga sama kamu." Entah mengapa kini Elang yang menitihkan air mata, gadis di depannya ini sungguh luar biasa, ia tau betul beribu-ribu batu seolah menghantam tubuh Leona namun lihatlah, betapa kuat adiknya ini.

"Cengeng, terus Leona harus apa lagi? Apa sofa ini kita keluarin terus gelar tikar?" tanyanya lagi setelah mematikan sambungan telepon.

Elang tersenyum miris, menghapus air matanya kemudian berkata,"iya, ayo sebelum saudara juga tetangga dateng."

Satu per satu sofa dipindahkan, tetangga pun satu per satu berdatangan, dengan senyum palsu Leona menyambut kedatangan para tamu, Bunda? Beliau selalu disamping jenazah Ayah.

Leona ke sana kemari berusaha selalu memenuhi apa yang dibutuhkan sang ayah untuk terakhir kalinya, ia tak perduli berpasang-pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh arti, ia hanya ingin kehadirannya berguna, kapan lagi ia dapat ikut andil mengurus ayahnya.

Semua telah siap, tampan sekali ayahnya, ah jangan lupakan lengkungan tipis yang menghiasi bibir pucat itu, seakan sedang menunjukkan bahwa beliau baik-baik saja, tinggal menunggu waktu ayahnya diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir.

"Nak."

Leona yang tengah mencuci tangan di wastafel dapur menoleh. "Bunda."

"Maafin semua kesalahan Ayah ya, Nak." Tangan Bunda terulur mengelus kepala anaknya.

"Ayah nggak punya salah sama Leona Bunda, Leona yang banyak salah sama ayah, Leona belum bisa bahagiain ayah." Mengambil tanggan sang Bunda lalu menggenggamnya, tangan ini adalah tangan yang membesarkannya, tangan kasar yang selalu berusaha membuatnya nyaman, tangan yang tak pernah absen dari minyak juga goresan demi mengenyangkan perutnya, ia tak akan pernah melepaskan tangan ini sampai hari perpisahan itu tiba.

"Ayah pasti bangga punya putri sekuat kamu, bahkan Bunda nggak bisa sekuat kamu, Nak."

"Bukankah dia putriku?"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jangan lupa ⭐ juga komennya📑





Belum revisi 

KASHIFA (Teka-Teki 30 Hari)Stories to obsess over. Discover now