Dara Adiya, cewek itu tidak berhenti mengumpat sambil menggeledah isi tasnya. Cewek itu melihat sekelilingnya, mencari-cari ponselnya. Merengek sambil mengumpat, Dara menarik kerah seragam cowok yang duduk disampingnya, Ronald.
"Lo sembunyiin dimana Handphone gue?" Tanyanya dengan sorot mata marah dan berkaca-kaca.
Ronald yang sedang asik menonton ASMR pun terkejut, dia menatap Dara yang masih mencengkram kerah kemejanya dengan tatapan terganggu. "Gue gak tau. Kenapa lo nuduh gue?"
Dara melepas cengkramannya dari kemeja sekolah Ronald, kali ini cewek itu memegang kedua pundak Ronald dan mengguncang-guncang tubuh cowok itu dengan kuatnya.
"Karena yang duduk sebangku dengan gue itu lo! Dan yang tau semuanya tentang gue itu lo!" Teriak Dara di depan muka Ronald dan semakin kuat mengguncang pundaknya.
Ronald melepaskan tangan Dara dari pundaknya dengan tidak sabaran, cowok itu benar-benar tidak tau dan dia sekarang benar-benar merasa terganggu.
"Denger, gue emang sebangku sama lo dan gue tau semuanya tentang lo. Tapi kali ini gue beneran gak tau dimana Handphone lo Dar!"
Dara melemas, "Terus sekarang dimana Handphone gue?" Tanyanya pada Ronald dengan tampang memelas.
Ronald membuang nafas kasar, dia ikut menggeledah tasnya dan juga lokernya, siapa tau Handphone Dara berada disana. Tapi ternyata tidak ada, handphone Dara tidak ada di sekitar bangku mereka.
Kalau seperti ini, Ronald pun ikutan takut. Bagaimana tidak takut, Handphone Dara masih baru, dan Handphone itu keluaran terbaru yang artinya harganya pasti mahal.
Ronald menatap Dara kasian bercampur khawatir, "Lo cari dulu aja deh ke setiap sudut kelas, gue bantuin." Katanya.
Dara menuruti ucapan Ronald, dia mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca agar tidak menangis dan menarik nafas dalam-dalam lalu bersiap untuk mencari ponselnya ke penjuru kelas 11 Bahasa.
Dara mulai mencari, dia menatap kemana-mana, menajamkan matanya. Cewek itu mulai menanyai semua teman-teman sekelasnya, tapi rata-rata jawaban mereka 'tidak tau' yang membuatnya semakin lemas.
Dara menghampiri ian, teman dekat Ronald dan Dara.
"Ian" Panggilnya lemas.
Ian yang sedang menggambar Naruto di buku tulis bagian paling belakang itu menoleh sebentar lalu melanjutkan kegiatannya lagi, "Kenapa Dar?" Tanyanya singkat.
"Lo tau handphone gue gak?"
"Tau."Jawabnya singkat tanpa menghentikan kegiatan menggambar Narutonya.
Mata Dara melebar, "Serius?"
Ian meletakkan pensilnya, cowok itu menatap Dara, "Serius. Samsung keluaran terbaru kan? Gue lupa namanya, tapi gue tau kok gimana Handphone lo. Bentuknya, warnanya, teksturnya, dan rasanya gue mah tau banget." Jawab cowok itu dengan cengiran lebar di wajahnya.
Dara semakin melemas. Rasanya dia ingin menghabisi Ian detik ini juga, tapi dia benar-benar tidak punya tenaga sekarang.
"Gue serius Ian, Handphone gue ilang."
Ian yang tadinya akan melanjutkan gambar Narutonya langsung mengurungkan niatnya dan menatap Dara dengan tidak percaya, "Serius lo Dar? Handphone lo ilang? Enggak Dar ini gak boleh di biarkan, itu Handphone mahal!"
Ian yang berteriak-teriak heboh membuat semua anak menoleh padanya dan Dara, termasuk Ronald. Ronald yang sedari tadi mencari Handphone Dara di sekitar papan tulis dan bangku guru pun menghampiri Ian dan Dara yang sedang berhadap-hadapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS
Teen Fictionberbeda, namun memiliki perasaan yang sama. mungkin itulah yang kita hadapi sekarang. tak bisa bersama, namun memaksa, itu perbuatan dosa. mengetahui itu perbuatan dosa, tapi tetap diam saja karena terluka, itu perasaanku sekarang. semuanya hampa, g...
