"Alasan saya mengikuti organisasi ini adalah agar saya mempunyai pengalaman yang bagus di jenjang SMA ini dan juga menambah wawasan untuk saya," aku menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan wawancara ini, "selain itu saya juga sangat suka berorganisasi sehingga saya berminat untuk mendaftarkan diri di organisasi ini."
"Emm.. oke, kamu bisa kembali ke tempat duduk kamu, silakan," ucap wanita paruh baya ber-name tag 'Sasi' - pewawancara pada sesi kali ini -.
"Terima kasih, bu," ucapku menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat sebelum beranjak dari tempat itu.
"Selanjutnya.." instruksi Bu Sasi dengan lantangnya.
Seorang lelaki berbadan lebih tinggi dariku berjalan berlawan arah memenuhi panggilan Bu Sasi. Mataku tak lepas dari lelaki yang baru saja berpapasan denganku sehingga aku tidak memperhatikan arah jalanku dan, brakk!
"Eh maaf maaf, gak sengaja" ucapku reflek ikut membereskan kertas-kertas yang berserakan itu.
"Kalo jalan liatnya kedepan ya jangan liat kebelakang terus," ucap lelaki itu sembari tersenyum kearahku.
"Eh iya, maaf ya sekali lagi," ucapku merasa tidak enak.
Pikiranku mulai berperang sendiri. Apakah lelaki itu juga mendaftar menjadi calon pengurus OSIS disini. Mengapa banyak sekali pria tampan yang mencalonkan diri? Ah apa yang aku pikirkan. Aku berusaha membuang pikiran-pikiran itu dari otak ini saat aku sampai diurutan tempat dudukku.
Aku merupakan pen-calon urutan kedua terakhir dari sesi wawancara ini, dan pria yang berpapasan denganku tadi adalah pen-calon terakhir dihari ini dan ia sudah keluar dari ruang wawancara. Itu berarti sesi hari ini sudah selesai bukan?
*****
Baru saja aku tiba di kelas Elsa - sahabatku - sudah menyambut dengan heboh.
"Zell, bener gak?" tanya Elsa secara tiba-tiba.
"Apanya?" jawabku singkat.
"Yang kata orang-orang itu,"
Alisku terangkat sebelah menandakan aku tidak mengerti apa yang Elsa katakan.
"Banyak cogan gak disesi ini? Katanya banyak cogan yang nyalonin diri jadi pengurus OSIS," ucapnya dengan antusias.
"Biasa aja," jawabku tidak tertarik dengan arah pembicaraan Elsa.
"Ihhh seriuss, Zell, lo pasti bohong,"
"Yaudah besok liat aja sendiri, besok gue disuruh kumpul lagi sama para pen-calon disesi hari ini," jelasku.
Elsa menganggukkan kepala dengan cepat seperti anak kecil. Sedangkan aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku ini.
"Eh si Enzy dimana? Mojok lagi dia?" tanyaku saat sadar Enzy entah dimana.
"Gak tau. Tadi dijemput sama Kak Nanta, terus gue ditinggal deh sendiri, jahat banget ya," jelas Elsa dengan dramatis.
"Lebay lo. Makanya cari pacar," olokku pada gadis ini.
"Heh mba, ngaca yaa, emang situ udah ada 'pacar'," balasnya dengan menekankan kata terakhirnya.
"Ada lah. Enak aja,"
"Mana, mana? Boleh dong kenalin,"
"Gak mau ah. Ntar lo embat juga lagi,"
"Yee anda pikir saya cewe apaan," balas Elsa.
Tawaku memecah ditengah percakapan absurd dengan Elsa. Bisa-bisanya aku berteman dengan gadis seperti Elsa ini.
****
Nantinya cerita ini aku ambil dari kisah nyata tapi kita liat aja ya nanti lebih banyak kejadian nyata atau lebih banyak kejadian fiksinya xixixi
Kalian bisa nebak juga loh mana kejadian yang nyata dan mana yang fiksi. So, have fun guys! Happy Reading, Readers!
See u next chapter<3
YOU ARE READING
Forever Sunset
Teen FictionKamu itu seperti matahari terbenam. Indahnya hanya sesaat setelah itu hilang. Selalu kembali lagi dengan keindahan yang berbeda kemudian hilang lagi dengan semua kenangan yang ada. Start : Februari 2022 End : ? cover by Canva
