"Aduh cakep banget gue." Ucap Algatar pada dirinya sendiri.
Mulutnya bersiul, matanya melirik jam dan mendengus kesal. "Lama banget sih tu babi, nggak sadar apa kalo gue nungguin dari tadi." Dumelnya.
"Yaelah nunggu lima menit aja pake ngedumel." Sinis seorang perempuan yang baru saja naik dijok motor Algantar.
"Mata lo! Gue nungguin lo sejam." Algatar menatap kesal ke arah Pingkan. Bukannya takut atau apa, Pingkan malah membalasnya dengan pelototan mata.
"Sarab ni bocah." Cibir Algatar.
"Al cepet nanti telat!" Pingkan memukul bahu Algatar dengan keras.
"Il cipit ninti tilit," ulang Algatar dengan gaya menye-menyenya. Emang ya perempuan itu selalu benar dan tidak mau disalahkan, buktinya makhluk satu ini tidak merasa berdosa sama sekali malah masih bisa ngedumel sepanjang jalan.
"Wah ada cewek nih, sama abang mau enggak dek?" Goda pengendara yang tiba-tiba sudah ada disamping motor Algatar.
Pingkan mendatarkan ekspresi wajahnya, ia benci pemandangannya saat ini. "Bacot lo Ga!" Algatar menambah kecepatan motornya.
Ia tak mau jika Saga melukai Pingkan, Pingkan cukup berharga dikehidupannya. "Pegangan sama gue." Tangan kiri Algatar meraih tangan Pingkan untuk memeluk pinggangnya.
Saga adalah musuh Algatar, semua itu terjadi karena kesalahpahamannya yang terjadi dimasalalu. Saga menyimpan banyak dendam pada Algatar, ia tak akan membiarkannya hidup dengan tenang.
Sial!
Motor Saga mampu menghadang motor Algatar. Motor teman-teman Saga membentuk lingkaran seperti membuat arena peperangan, sudah pasti Algatar kalah jumlah. Ia hanya sendiri, sedangkan Saga bersama dengan puluhan orang.
Sorot mata Saga menyala seperti bara api yang siap membakar musuhnya. Dengan senyum smirknya ia melepas helm-nya dan berjalan mendekati Algatar.
"Turun lo!" Teriak teman Saga.
"Kan lo disini aja ya, jangan kemana-mana. Kalo dia nyerang lo bilang ke gue, kalo dia ngajak lo jalan jangan mau." Algantar memberikan petuah kepada Pingkan.
"Ya nggaklah! Udah sono lo serang mereka, gue mau ngopi-ngopi dulu." Pingkan mengeluarkan kopi instan dari dalam tasnya dan meminumnya dengan santuy tanpa beban.
Algatar membelalakkan matanya tak percaya, manusia dajjal memang Pingkan. Ia kira Pingkan menjadi dingin, taunya tetap saja gila. "Babi lo!" Kesal Algatar.
"Semangat sayang!" Pingkan mengedipkan salah satu matanya.
"Najis."
Saga memutar bola matanya malas, malas melihat drama keduanya. "Nggak usah banyak drama deh lo!" Saga menonjok rahang Algatar.
Bug!
"Mati lo anjing!" Algatar membalas pukulan Saga yang tak kalah kencangnya.
Bug!
Bug!
Bug!
Satu persatu orang-orang mulai terluka, tetap saja satu orang tidak bisa mengalahkan sepuluh orang. Algatar hanya manusia biasa, ia bukan suparmin ataupun temannya.
Pingkan masih mengamati perkelahian itu dengan seksama. Mulutnya terus saja mengunyah cokelat, saat pelipis Algatar terkena pukul... mata Pingkan terbelalak. Sungguh naas, batinnya.
Pingkan memasukkan cokelatnya yang masih sisa setengah kedalam tasnya. Sayang kan kalau dibuang, mending sayang makanan daripada sayang dia yang enggak peka-peka.
YOU ARE READING
Algatar
Teen Fiction"Gue udah menjadikan dia sebagai semesta gue Al. Ketika dia pergi, semesta gue hancur dan hilang."
