01 : mimpi

1K 69 0
                                        

Gemuruh.

Ketakutan.

Darah.

Air mata.

Matanya memandang dari ketinggian, bagaimana lautan manusia di bawah sana panik dalam ketakutan dan kehisterisan.

Chaos.

Sebagian lari menyelamatkan diri meski kenyataannya tak akan ada kata selamat pada mereka. Setidaknya mereka menunda waktu kehancuran mereka sebelum hancur seperti manusia-manusia lain yang tak beruntung tewas dengan cara mengenaskan.

Mati dengan tubuh yang hancur, organ yang berserakan, badan tergilas berantakan, dan darah menyiprat.

Mati diinjak oleh telapak kaki raksasa.

Lelaki itu memandang pilu, namun ia tak bisa berhenti. Tubuhnya terus bergerak maju sekalipun nurani manusianya terluka tiap kali mendengar jerit di bawah sana karena tindakannya sendiri.

Jika kita tak berjuang, kita tak akan menang.

Jika kita tak menang, kita akan mati.

Jika kita menang, kita hidup.

Berjuang.

Berjuang.

"Eren!"

"!!?"

Matanya terbuka lebar mendadak. Pikirannya masih belum stabil, pandangannya masih samar-samar. Sesaat kemudian baru bisa mencerna keadaan : Mikasa berdiri di hadapannya, membangunkannya yang tengah tertidur dalam posisi duduk bersandar di dinding.

Ah, kilasan itu, ternyata mimpi?

Mimpi yang buruk.

"Mikasa?"

"Kau ketiduran, ya?"

Eren tak langsung menjawab pertanyaan itu. Kepalanya terasa masih berat usai terbangun dari tidur. Lebih tepatnya bayang-bayang mimpi itu masih kuat melekat di kepalanya. Rasanya terlalu nyata untuk menjadi mimpi, tapi terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.

Tidak, itu mimpi.

Hanya mimpi.

Realita yang sebenarnya bukanlah itu.

Realita sesungguhnya adalah ia ada di sini, di suatu tempat terpencil di sebuah perbukitan bersama Mikasa.

Tanpa seorang pun tahu. Hanya berdua saja, menjalani kehidupan 'normal'.

Ya, inilah kehidupannya sekarang.

Bangkit dari duduknya, Eren berdiri kemudian tangannya dilingkarkan ke pinggang ramping Mikasa. Wajahnya didekap pada bahu Mikasa, sedikit terhirup wangi rambut hitam Mikasa yang mulai memanjang sebahu.

"Eren?" heran, Mikasa bertanya. Namun pelukan itu tak dilepasnya, dibiarkannya menunggu lelaki itu bercerita menjelaskan apa yang mungkin mengganjal pikiran sehingga ia tiba-tiba memeluk dirinya.

"Mikasa..." pelan, suara pria Yeager itu parau. "Biarkan aku memelukmu, sebentar saja..,"

Yah, mungkin Eren sedang mencari ketenangan setelah tidur singkatnya tadi.

Ketenangannya yang hanya ada pada Mikasa.

Mikasa tersenyum tipis, kemudian membalas pelukan itu. Tangannya mengusap punggung tegap si Yeager.

Keduanya tenggelam dalam pelukan syahdu.

Meneduhkan dan diteduhkan.

Selalu saling dalam setiap apapun.

Sebab hanya mereka berdua yang saling dimiliki dan memiliki.

.
.
.
.

to be continued

N.b :
Eyyoo akhirnya nulis lagi, kali ini dengan pair EreMika hehe terimakasii suda membaca :D

Jika Hanya Ada KitaStories to obsess over. Discover now