Hai

4 1 0
                                        

Biru Bersama Sendunya

     Hai biru, ini aku.. Langit.

Malam ini aku memikirkanmu lagi, iya, aku salah karena terlalu sering memikirkanmu yang entah sampai kapan hanya memberiku angan dan harapan. Tapi Biru, aku tidak pernah membencimu. Justru aku bersyukur pernah ditemukan dengan sosok lelaki penyayang, penuh perhatian, pemberani, dan kuat sepertimu. Bahkan aku merasa terjaga setiap kali kamu berada disampingku.

     Hai langit, lama tidak berjumpa..

Kamu tersenyum, itu bagian favoritku. Tanpa alasan yang jelas aku merasa hanya aku wanita beruntung yang pernah merasakan kenyamanan dari senyum tulusmu. Dari yang aku ingat, banyak sekali dari mereka yang berpikir kamu hanya sosok Biru yang tidak memiliki arti. Tapi menurutku, mereka salah, Biru. Kamu indah, dari setiap lekukan senyumanmu, dari setiap sendunya matamu, dari setiap rintihnya tawamu.

     Aku merindukanmu, Biru. Maaf aku telah lancang kembali.

Menunduk juga menjadi kebiasaan terburukku. Aku merasa malu, setiap mengatakan hal tersebut kepadamu. Sudah lebih dari setahun kita tidak ada saling sapa, namun dengan mudahnya aku melontarkan kalimat tersebut. Malu.

     Maaf aku mengecewakanmu, Langit.

Beberapa memori mulai berdatangan kembali, betapa menyedihkannya diriku selama setahun menahan pahitnya pendewasaan. Lembaran kusam itu terbuka kembali. Senyumanku perlahan menurun. Teringat sebuah janji yang ingkar.

Catatan LangitStories to obsess over. Discover now