Location Unknown

21 3 0
                                        


//Keseimbangan

Halte bus di sebrang jalan adalah tujuan awal Raya hari ini. Kota kecil tidak padat penduduk, jalanan lengang sehabis hujan, dan lampu jalan yang mulai menyala menandakan hari sudah mulai petang. Kombinasi yang mendebarkan. Raya sengaja memulai perjalanan hari ini di waktu hari sudah petang, jika kamu tanya kenapa, jawabannya sudah pasti karna keindahan lampu jalan jam 6 sore tidak pernah mengecewakan.

"Syukurlah, haltenya tidak terlalu ramai," gumamnya pelan. Raya bergegas menuju halte bus itu, dan segera duduk di bangku paling ujung. Tak sengaja ia melihat seorang gadis mengenakan mantel panjang se-lutut, tas selempang kecil berwarna hitam, dan sepatu boat kulit yang entah kenapa cocok sekali dengannya, sedang duduk termangu di bangku tengah halte. Matanya menatap jalanan lengang dengan tangan yang menggengam sebotol air mineral, sekilas, ia terlihat melamun. Namun, Raya yakin isi kepalanya sedang berenang-renang sekarang.

Tak lama bus datang, Raya dan beberapa penumpang lain bergegas bangkit menuju bus. Mata raya mencoba mencari salah satu bangku yang kosong, matanya menyisir seluruh sisi bus. "Ketemu! Oohh.. gadis itu." Batin Raya sedikit bingung. Pelan ia mendatangi bangku di samping gadis yang menggenggam air mineral sejak di halte tadi. Raya menundukan kepala pelan tepat dihadapannya, sebagai simbol sapaan yang cukup sopan untuk orang yang baru saja bertemu. Gadis itu hanya menatap Raya dan balas mengangguk pelan.

Suasana bus petang itu benar-benar tidak bisa dijelaskan. Raya mengamati beberapa orang didalamnya, ada seorang bapak yang duduk tepat di seberang Raya menggenggam sebuah tas penuh makanan dari restoran cepat saji yang baru-baru ini berkolaborasi dengan salah satu boyband asal korea yang paling dikenal sejagad raya. Bibirnya tidak dapat berhenti tersenyum, sambil memandangi makanan yang ia bawa, meksipun rambut dan pakaiannya terlihat mulai berantakan, namun, matanya yang terang menunjukan betapa bahagianya beliau. "Si bungsu di rumah pasti senang sekali aku bawakan ini." Gumam, bapak itu pelan sekali sembari tersenyum lebar. Raya pun ikut tersenyum. Hangat.

Lalu, ada sepasang kekasih yang baru saja pulang kerja, saling menggenggam tangan, bercerita banyak hal, sepertinya hari ini akan mereka tentang kesudahannya. Tak jauh, terlihat ada seorang mahasiswa duduk di pojok belakang, menyandarkan kepalanya di jendela sembari mendengarkan lagu dengan earphone yang sedari tadi tidak lepas dari telinganya. Hembusan nafas yang ia hela terlihat jelas, dalam dan berat, sepertinya hari ini cukup melelahkan untuknya.

"Mau minum air?" tiba-tiba suara itu mengagetkan Raya. Ternyata gadis yang duduk di sampingnya sedang menatap ke arah Raya sembari menyodorkan sebotol air mineral.

"Tidak. Terima kasih." Balas Raya sopan, sembari tersenyum.

"Tenang aja. Botol ini tidak aku beri racun ataupun obat bius. Mukamu terlihat pucat, setidaknya kamu harus minum air agar tidak dehidrasi." Terang gadis itu lugas. Membuat Raya sedikit terkejut dan menerima air mineralnya sambil berpikir kapan gadis itu memiliki waktu memperhatikan wajahnya.

"Kamu pernah kehilangan?" tanya gadis itu tiba-tiba. Lagi. Hampir saja Raya tersedak. "Hmm? Kehilangan?" jawab Raya hati-hati.

Gadis itu mulai menatap ke arah Raya, "Iya, Kehilang sesuatu atau seseorang. Menurutmu, kenapa sesuatu itu harus hilang?"

"Mmm... mungkin memang harusnya seperti itu. Karna akan ada sesuatu yang menggantikannya lagi. Akan ada sesuatu atau seseorang yang baru lagi, sehingga ia harus hilang."

"Hmm.. tepat sekali. Aku tahu jawabanya, tapi untuk menerima, ternyata tidak pernah semudah itu." Gadis itu tersenyum tipis. Lebih seperti menyeringai. "Sesuatu yang ada harus hilang dan pergi untuk digantikan dengan yang baru lagi, tepat seperti merek handphone tertentu yang harus upgrade setiap tahunnya. Tepat seperti beberapa jenis makanan yang harus dihapus dari daftar menu untuk digantikan dengan menu yang baru. Aku tahu. Sesuatu harus ada dan tidak ada."

"Menurutmu kenapa?" Raya mencoba menginterupsi. "Tentu saja, agar tatanannya tidak berubah dan rusak. Keseimbangan." Jawab gadis itu tegas namun terdengar remuk di dalam.

Raya tertegun sebentar, memperhatikan bahu kecil yang bebrapa kali berguncang pelan, mungkin ia hanya butuh rangkulan, mungkin ia hanya butuh didengarkan. Raya tidak tahu badai apa yang ada didalam sana, namun yang ia sadari bus sudah sampai di pemberhentian berikutnya dan gadis itu tampak bergegas untuk segera turun. "Terima kasih ya. Sudah mau menanggapi obrolanku yang ngalor-ngidul. Aku pergi dulu, hati-hati dalam perjalananmu." Gadis itu tersenyum dan berlalu dihadapan Raya.

Setengah bingung Raya mencoba memanggilnya, "Tunggu! Namamu?" gadis itu tersenyum "Tata. Tata Surya. Kamu?"

"Raya. Semesta Raya."

"Senang bertemu denganmu, Raya." Gadis itu turun dari bus, mulai pudar dan tak terlihat.

Petang itu Raya menemui satu jawaban, tepat ketika ia baru saja memulai perjalanannya. Sungguh permulaan yang mendebarkan. 

Raya's JourneyWhere stories live. Discover now