1. My first

13 4 0
                                        

Gadis itu masih menangis di dalam gelapnya kamar, sungguh tidak ada yang bisa mengganggunya, dia sedih dia menyesal bahkan dia menyalahkan dirinya sendiri atas keadaanya sekarang.

"Kak ayo buka, makan malam dulu" ketokan pintu terdengar, tapi gadis itu tidak membuka, bahkan dia tidak menjawab seseorang yang mengetok kamarnya tersebut

Pengetuk kamar hanya bisa menghela nafas, "Enggak ada jawaban lagi ma?" kata seorang laki-laki yang duduk di meja makan, mengetahui tidak ada jawaban mereka akhirnya makan terlebih dahulu

Dia masih memegangi Laptop merahnya, gadis itu masih menatap layar itu dengan mata sembab, bahkan mungkin tubuhnya sudah seperti zombie, belum makan seharian dan bahkan tidak mandi dari kemarin, hanya menangis dan menangis

Laki-laki yang sudah makan akhirnya memutuskan menghampiri gadis itu "Kak sudah ya, itu mungkin takdir kakak ayo bangkit kaK, ayo tunjukin ke ayah kalo disana kakak bisa jadi nomer satu" Kata sang ayah di depan pintu sang gadis itu

Gadis itu keluar dari kamar, membersehkan tubuh dan mulai makan, dia harus bisa menerima keadaannya, dia harus bisa bangkit, itu kata dari hatinya tadi. Dia mengambil handphone dan mengetikan sesuatu

Arza

Za aku nebeng ya ke sekolah

 Loh? di SMA Merdeka juga zel?

Hmm, jemput di rumah ya

Teks singkat itu ia kirimkan ke slah satu teman lamanya, teman dia waktu Sekolah Dasar, Gadis itu memiliki  nama Keisya Zelina, gadis yang gagal masuk SMA impiannya, gadis dengan kapasitas kepintaran yang sangat terbatas

~~~

Pagi ini matahari tampak kurang bersahabat, awan mendung sedikit menguasai langit, Zelin menatap dirinya didepan kaca, dia menghela nafas dan mulai menunggu Arza di gerbang rumah

"Ze beneran lu di SMA Merdeka?" kta Arza yang bertanya pada Zelin yang sedang ia bonceng, "hmm"

Arza memakirkan motornya di parkiran dan mulai berjalan keluar dari parkiran, hingga seorang perempuan melewati mereka berdua, "heii" kata Arza memanggil mereka berdua "Titip dia, temenin sampe ke ruangan daftarulang" Lanjut Arza sambil melirik Zelin, "Oke za" saut slah satu dari wanita tersebut

Zelin diam, dia bukan tipe orang yang suka memluai pembicaraan, tapi bukankah dia harus memulai pembicaraan dengan dua wanita ini? "Emm hai, aku Zelin" kedua wanita itu langsung menatap Zelin dan tersenyum. Mereka berkenalan dan benar saja sampai di ruangan, kedua wanita itu hilang dan Zelin sendiri lagi 

"Dasar manusia, gatau apa gue ga punya temen malah ditingalin, awas aja tuh Arza masa nitipin gue ke manusia ga bertanggung jawab" gerutu Zelin sambil mencari tempat duduk

Zelin duduk di kursi belakang, dia menyendiri karena tidak kenal siapa-siapa, bahkan dia juga tidak suka lingkungan ini 

Seorang perempuan dengan rambut di ikat ke belakang menghampirinya "Hai, boleh duduk sini?" katanya yang sedang berdiri disamping Zelin. "Iya"

"Naya" katanya mengulurkan tangan "Zelin" saut Zelin, sebenaranya di pikirannya bertanya, "Siapa si ni orang, gue kaya pernah lihat tapi dimana ya?"

Naya tersenyum melihat ekspresi Zelin "Kenapa Zee? oh kita sering ketemu loh dulu pas masih SMP, dulu lo naik angkuan umum juga kan". Otak Zelin berputar mencari kenangan itu dan ya dia mengingatnya "Oh itu elu Nay? yang suka dudukin bangku gue saat nunggu angkutan umum?" katanya becanda

"Haha tempat umum kali zee, anw lo?" Naya menggantung ucapannnya "Iya dari SMA Adinata" kata Zelin seakan tau apa yang akan dipikirkan Naya, Naya tersenyum "Kita sama Ze"

.

.

.

.

.

Hanya sebuah cerita kisah yang usai haha:)



EUNOIAOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz