Lilin berbentuk angka 2 dan 7 berwarna merah itu baru saja padam. Suara tepuk tangan dan terompet kertas memenuhi ruangan.
"Selamat ya say ...," ucap wanita bertubuh sintal itu mengecup pipi kanan-kiri perempuan bertopi kerucut.
"Makasih, Ki ...!" perempuan itu tersenyum.
"Selamat ya ..., mudah-mudahan cepet kawin!" ucap satu-satunya lelaki di ruangan itu. Ia mengulurkan tangannya yang terkepal, disambut dengan kepalan tangan sama oleh perempuan bertopi kerucut. Selanjutnya gerakan tangan mereka membentuk jabat tangan, dengan menautkan ibu jari masing-masing. Perempuan bertopi kerucut mencebik, "harusnya Lu duluan, 'kan udah tuwir!" balas perempuan itu, tawanya berderai.
"Udah, udah. Nggak usah dilanjutin!" tukas perempuan berjilbab krem itu melerai. Tangannya terulur ke arah perempuan bertopi kerucut, "selamat ya, Gina sayang ..., semoga berkah umurnya, bahagia dunia akhirat. Aamiin ...," tak lupa perempuan itu mengecup pipi perempuan bertopi kerucut.
"Aamiin, makasih ya Mbak Ica ...!" sahut perempuan itu.
Ia mengambil pisau plastik bergerigi dan mulai memotong kue tart yang dihias cokelat batang dengan manisan cherry di atasnya. Namun, gerakan tangannya terhenti ketika ia melihat mata Farrel -satu-satunya lelaki di ruangan itu- berkedip cepat ke arahnya. Perempuan itu menggerakkan pandangan matanya ke belakang, dan seketika ia menarik bibirnya membentuk senyum tiga jari begitu melihat Hetty -mamanya- berdiri dengan menyilangkan tangan di dada.
"Eh ..., ada Mama. Sini Ma, ak-" kalimat yang sudah di ujung lidah itu menguap begitu Hetty bersuara.
"Bubar! Ini udah jam berapa Gina? Ya Allah ..., bubar semuanya! Bubar ....!"
Ketiga orang teman Gina bergegas mengemasi barang bawaan masing-masing. Mereka menyandang tas, lalu pamit pada Hetty. Ada senyum tak rela dari Gina melihat pemandangan itu.
"Ma ...," Gina menggamit lengan Hetty, berharap mamanya luluh.
"Tidur, Gina! Besok kamu kerja, kan?"
"Aku udah izin ke bos, Ma ...,"
"Tidur! Mama nggak mau kamu sakit,"
Blam!
Pintu berdebam membuat Gina menghempas topi kerucut di kepalanya. Terompet kertas berakhir di tong sampah.
"Aaargh ...!" Gina mengacak rambutnya, sebelum melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
***
Tuuuutt ....
"Halo," sahut suara di seberang telepon.
"El ..., tolongin gue!" Gina mengucap kalimat itu dengan setengah berbisik.
"Ada apa sih? lu bukannya izin hari ini?"
"Bukan masalah kerjaan, ya elah!"
"Terus?"
"Lu harus dateng ke rumah gue sekarang! Mama mau jodohin gue sama cowok nggak jelas. Tolongin gue, please ...!"
"Terus?"
"Terus-terus mulu kayak tukang parkir lu!" nada bicara Gina naik beberapa oktaf.
"Hahaha ...." terdengar tawa berderai dari telepon.
"Lu seneng ya ngeliat gue tersiksa?"
"Nggak, bukan. Oke, oke, gue ke sana habis magrib ya. Gue pulang cepet deh, demi lu!"
"Makasih ya, El!" ucap gadis itu sebelum menutup telepon.
Gina menatap diri di cermin, mengacak rambutnya, membuatnya terlihat seperti baru saja bangun tidur. Tak lupa, ia menempelkan telunjuknya pada lidah, kemudian mengoleskan air liurnya ke pipi.
"Beres!" ucapnya sebelum ke luar kamar menemui tamu yang diundang khusus oleh sang mama untuknya.
***
Bersambung ....
KAMU SEDANG MEMBACA
SETELAH 25
RomanceGina memasuki usia rawan untuk seorang perempuan. Sang mama mendesaknya untuk segera menikah. Namun, Gina tak ingin kehilangan haknya untuk memilih. Di saat mamanya sibuk mencarikan calon suami, Gina menyadari kehadiran seseorang yang membuatnya tak...
