KRIIIIINNNGGG
Sudah 10 menit berlalu sejak pertama kali alarm itu berbunyi. Namun pemiliknya masih nyaman bergelung di balik selimut. Terdengar pintu diketuk dengan lembut. Bukannya segera bangkit dari tidurnya, gadis itu malah semakin merapatkan selimutnya. Pintu terbuka dan menampilkan Susan di baliknya.
"Yaampun anak ini. Belum bangun juga daritadi. Lana, bangun!" Gadis itu bergerak ringan, namun belum berniat untuk bangun.
"Bener-bener ya. ALANAAAA." Habis sudah kesabaran Susan pagi ini.
"Hoam.... Ibu, pagi-pagi sudah teriak saja." Lana mengerjapkan mata bulatnya beberapa kali.
"Kamu ini, malah makin nyantai. Ayo bangun, Lana. Sudah siang ini, nanti kamu terlambat ke sekolah."
"Iya, bu. Lima menit lagi, ya." Tawar Lana.
"No...no... Bangun sekarang. Mandi!" Susan menyingkap tirai jendela kamar Lana yang didominasi warna biru muda. Sinar mentari pagi seketika masuk dan menyambut Lana.
"Yah, bu." Rengek Lana. "Mandi sekarang, Alana!" perintah Susan tidak sabar.
"Iya iya, bu." Lana bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.
"Kalau sudah, langsung turun ya, Lan." Susan berjalan ke luar kamar dan menutup pintu.
Tak perlu waktu lama bagi Lana untuk menyelesaikan ritual mandinya. Dikenakannya seragam putih abu-abu yang telah disetrika dengan rapi oleh sang Ibu. Lana mengoleskan dengan tipis bedak bayi ke wajahnya. Dirinya tidak terbiasa menggunakan make-up, mungkin lebih tepatnya tidak bisa. Diraihnya ransel biru muda dari atas tempat tidur dan segera turun untuk sarapan. Begitu tiba di anak tangga terakhir, hidung Lana diserbu oleh harum aroma nasi goreng buatan sang Ibu. Dihirupnya dalam-dalam aroma itu dengan mata terpejam. Nasi goreng Ibunya adalah yang terbaik.
"Pagi, bu." Lana duduk berhadapan dengan Susan.
"Pagi, nih nasi gorengnya." Susan menyerahkan sepiring nasi goreng ke Lana.
"Makasih, bu."
"Hari ini Ibu antar saja ya. Takutnya kamu terlambat. Sudah setengah delapan ini." Tawar Susan khawatir.
"Tidak usah, Bu. Lana naik angkot saja." Lana tidak pernah mau diantar Susan ke sekolah. Dirinya tidak mau menyusahkan sang Ibu. Terlebih lagi, teman-temannya yang lain pasti sudah menunggunya di depan komplek. Setelah menghabiskan makanannya, Lana menenggak susu putih kesukaannya.
"Lana berangkat ya, bu." Diciumnya tangan Susan sambil mengucapkan salam.
"Hati-hati, ya. Jangan bolos." Peringatan yang terkahir dari Susan bukannya tanpa alasan.
Beberapa kali Susan dipanggil ke sekolah lantaran Lana ketahuan bolos untuk bermain basket di lapangan belakang sekolah yang sudah lama tak terpakai. Terkadang saat pelajaran seni budaya, Lana dan teman-temannya sengaja bolos dan nongkrong di sana. Lapangan itu sudah resmi menjadi basecamp mereka.
*
Lana berlari menuju depan komplek, dimana teman-temannya yang lain sudah menunggu. Setibanya disana, ditariknya napas dalam-dalam. Dengan polosnya, Lana nyengir ketika melihat wajah teman-temannya satu per satu.
"Lama banget sih, Lan." Omel Lily.
"Iya, panas nih daritadi nungguin kamu." Sambung Ijet.
"Hehe. Sorry atuh, tadi lihatin kucing aku melahirkan dulu."
"Ngarang kan kamu pasti." Curiga Nisa.
"Iya iya sorry. Ini angkotnya mana?" tanya Lana.
"Sudah lewat daritadi." Jawab Ijet.
"Yah... gimana dong kita ke sekolahnya?" Lana merasa sangat bersalah ke teman-temannya. Namun di sisi lain, Lana juga bersyukur. Ternyata teman-temannya setia kawan juga, bersedia menunggunya sampai-sampai melewatkan angkot terakhir.
"Ya sudah, kita lari saja. Masih sempat kayaknya." Cetus Lily.
Semuanya mengangguk setuju dan kemudian mulai berlari kencang. Jangan ragukan kemampuan berlari yang mereka miliki. Keempatnya tergabung dalam klub basket di sekolahnya. Jarak dari Rumah ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit dengan angkot. Namun Lana dan teman-teman hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan berlari. Setibanya di sekolah, pintu pagar ternyata telah ditutup.
"Yah. Sudah tutup nih. Gimana?" tanya Lily khawatir.
"Ya gak ada pilihan lain." Sahut Lana. Seperti sudah mengerti perkataan Lana barusan, keempatnya mengangguk dan berbalik arah menjauhi pagar depan. Mereka berputar menuju ke arah belakang sekolah. Lapangan basket.
Disana mereka merebahkan badan diatas sofa tua yang sudah lapuk. Lana mengibaskan tangannya di depan wajah. Berharap angin kecil yang singgah dapat memberikan sedikit kesejukkan. Dipejamkannya mata, berharap lelah di tubuhnya dapat terobati. Saat mereka tengah beristirahat, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Ijet mengintip ke arah datangnya suara dan seketika menjadi panik.
"Red code. Ada Pak Bambang." Ujar Ijet mengingatkan.
Semuanya segera bangkit dan berlari ke arah samping sekolah. Disana mereka sudah membuat jalan rahasia menuju aula. Hanya mereka berempat yang tahu jalan rahasia itu. Setelah tiba di depan aula, keempatnya berpisah dan bergegas menuju kelas masing-masing. Ya, keempatnya berada di kelas yang berbeda. Lana berada di kelas XII MIA I. Kelas unggulan di sekolah itu. Sebenarnya Lana adalah anak yang cerdas, namun dirinya terlalu banyak mencurahkan perhatian ke basket sehingga sedikit menyampingkan urusan sekolah. Lana sendiri terpilih menjadi kapten tim putri karena bakat luar biasa yang dimilikinya dalam menguasai si bola oranye.
"Parah ih Pak Bambang. Ganggu orang istirahat saja." Gumam Lana. Gadis berkuncir satu itu menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya. Setibanya di depan kelas, diliriknya sekilas ke dalam dengan hati-hati. Beruntung saat itu tidak ada guru di kelasnya. Lana masuk ke dalam kelas yang sangat berisik itu. Jika biasanya kelas unggulan akan adem ayem saat tidak ada guru, lain halnya dengan XII MIA 1 SMA Pelita. Semua murid di kelas itu terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bernyanyi dengan suara menggelegar, ada kumpulan murid tukang ghibah, dan tidak ketinggalan cowok-cowok yang bermain game mobile legend di pojokan kelas. Lana meletakkan ransel di kursinya kemudian mengambil tempat bersama kumpulan cowok yang tengah bermain game.
"Baru datang, Lan?" tanya Edward santai seperti sudah terbiasa .
"Iya, nih." Lana mengeluarkan ponsel dari saku.
"Keringetan banget, Lan. Habis lari-larian lagi?" kali ini Kevin yang bertanya.
"Iya, Vin. Biasalah. Join dong." Kevin mengangguk dan kemudian mengundang Lana untuk bergabung dengan tim nya di ML.
*
Halooo semuanya....
Selamat datang di cerita pertamaku. Semoga kalian suka, ya. Jangan lupa vote-nya. Gomawo....
