Abah

14 1 0
                                        

Bagiku, cerita Abah dulu sempat tidak menyentuh hati namun, ketika anak itu terlahir dari rahimku. Aku pun paham arti kesedihannya...

Kecil, saat itu aku masih kecil, mungkin sekitar tiga tahun tetapi, kata Mama untuk berucap, aku sudah cukup lancar. Dan aku anak yang suka makan, sangat suka. Sampai ketika Abah yang bahkan hanya memiliki uang untuk sekadar membeli satu liter bensin menggandeng tanganku.

"Abah, mau beli makan, ya?"

Mungkin sekarang, Abah bercerita padaku dengan tertawa. Tapi, kuyakin detik aku mengatakan itu, ada rasa sedih yang Abah tahan. Ada rasa sakit akibat goresan luka yang tak terlihat. Pun pernah saat aku berumur lima tahun dan perekonomian Abah mulai sedikit membaik, Abah membawaku menaiki mobil milik salah satu temannya.

"Mbak, suka naik ini?"

"Iya," sahutku riang.

"Nanti kita beli ya, Nak."

"Iya."

Cerita itu, kembali Abah ceritakan saat aku telah beranjak dewasa. Dan beberapa tahun lalu, Abah berhasil membelikan kami dua buah mobil dari hasil keringatnya sekian tahun. Namun, hidup manusia terus bergulir dan usia Abah pun semakin tua. Pimpinan Abah yang dulu menjadi perantara suksesnya meninggal dan sejak itu, Abah harus ke sana kemari mencari pekerjaan juga menjual semua mobilnya agar terpenuhi segala kebutuhan sehari-hari.

Sampai di titik, Abah memang harus berhenti mencari. Akibat banyaknya persaingan dan keterampilan yang terbatas, membuat Abah harus menetap di rumah. Dan aku, sebagai anak yang telah bekerja berkat usaha Abah, kini memiliki seorang putri kecil yang sedikit banyak telah mengerti arti dari berbelanja pun, mampu merasakan sedihnya Abah dulu.

Anakku, sore itu kami ajak dia jalan berkeliling, dan kulihat, dia menatap salah satu supermarket dengan sorot berbinar.

"Tu..."

Hanya itu yang keluar dari bibir kecilnya namun, aku tahu pasti apa yang dia ingin, dan dengan penghasilan yang sekarang harus kubagi sebaik mungkin agar juga bisa memenuhi kehidupan Mama serta Abah, terkadang sedikit membuatku sangat sedih. Tak jarang aku menangis karenanya.

Ada masa di mana aku kembali terbayang wajah Abah yang tidak pernah lelah membuatku bahagia. Ada masa di mana aku terbayang akan ucapanku tentang hal yang Abah ceritakan ketika akan membeli bensin. Entah tetapi, harapku, Abah Mama selalu sehat. Dan berharap, Tuhan memberikan sedikit waktu lagi agar kelak keduanya bisa merasakan kesuksesanku. Agar kelak kami bisa berlibur juga menikmati makanan yang Abah dan Mama ingin.

Untuk segala pengorbanan Abah yang dulu tak pernah kuhargai. Cerita pendek ini adalah ungkapan sayangku untukmu. Walau tidak banyak waktu berbincang yang kita habiskan tatkala Abah sibuk membahagiakan kami. Mbak mohon, teruslah sehat bersama Mama, karena kelak, kita akan berangkat Haji dan membangun klinik kesehatan bersama.

Dari anakmu yang selalu kau banggakan dengan sayang serta bahagiamu.

AbahDonde viven las historias. Descúbrelo ahora