--> Prologue <--

10 5 0
                                        

bosen deh bikin cerita tema nya itu-itu mulu. percintaan anak sma lah, balas dendam lah, perundungan, cewek jagoan, gangster, dan blablablabla. kali ini, biarpun gue bikin cerita yang tema nya juga banyak mirip yaitu "cinta beda agama", tapi gue bikin cerita ini jadi lebih menarik dengan dibumbui oleh konflik-konflik yang nggak receh dan nggak tegang. kayak apa sih? yuk intip spoiler nya!

____♡____

Hari ini, dipaksa oleh situasi dan keadaan, Delisa akhirnya mengambil sebuah keputusan.

Sebuah keputusan yang tak hanya sakit bagi dirinya, namun juga sakit bagi suami tercintanya. Bagi ibu mertua dan adik ipar tersayang nya, serta bagi seluruh warga pesantren yang sudah ia anggap sebagai pengganti keluarganya.

Delisa akan pergi. Mengasingkan diri demi membuktikan pada semua wali santri yang tidak memercayai keislamannya. Dan suatu saat nanti, janin dalam kandungan nya akan kembali kemari untuk membungkam mereka yang lebih percaya hasutan seorang wanita dengki daripada lantunan syahadat yang ia ikrarkan bertahun-tahun yang lalu.

Ya, sebelum janin dalam kandungan nya ini bisa membuktikan kebenaran, maka Delisa berjanji, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di pesantren ini lagi.

》Spoiler End《

Segerombolan wanita dengan mantilla serba hitam sedang giat beribadah dalam sebuah gereja. Salah satunya adalah Delisa Maharani, seorang gadis berusia 20 tahun yang aktif dalam setiap acara yang gereja ini adakan. Tak hanya itu, segala keperluan gereja, dia juga yang bertanggung jawab.

Begitu selesai melaksanakan ibadah, gadis yang masih mengenakan mantilla itu keluar dari gereja, hendak pulang ke rumahnya.

Ia mematri langkah, menelusuri pinggir jalan raya tanpa menghiraukan hiruk-pikuk jalan dan bising riuh kendaraan yang sudah biasa terdengar.

Hingga akhirnya, sampailah gadis itu didepan sebuah rumah megah nan besar. Dibukanya pintu gerbang besi yang besar menjulang itu, lalu Delisa melangkah masuk ke dalamnya.

Delisa memasang senyum begitu indra penglihatannya menangkap figur seorang wanita tua dengan kacamata yang frame nya terbuat dari emas sedang menyiram tanaman hias.

"Hai, Oma. Mengapa tidak aku saja yang menyiraminya?" tawar Delisa, membuat selengkungan senyum timbul di bibir wanita tua yang merupakan neneknya itu.

Oma menggeleng pelan, meletakkan selang penyiram tanaman hiasnya di tempat dan menjawab, "Tidak usah, Nak. Kau ke dalam saja, sepertinya ibumu ingin bicara sesuatu."

Delisa mengangkat alis, bibirnya membentuk huruf O. "Oh? Baiklah." Ia kembali mematri langkah memasuki rumah besar itu, meninggalkan sang Oma yang memulai lagi aktivitas favorit nya.

Ketika didalam, terlihat seorang lelaki tua yang separuh rambutnya mulai ditumbuhi uban. Lelaki itu sedang anteng membaca koran ditemani makanan ringan sehat dan secangkir kopi.

Delisa menyapanya, "Opa. Aku pulang!"

Opa mengangkat pandangannya dari kertas buram berisi tulisan-tulisan berita itu ke wajah sendu jelita cucu tersayangnya. "Hai, Nak. Mau camilan?"

Namun Delisa menggeleng oleh tawaran kakeknya. Berkata ia, "Sepertinya ibu memerlukan ku. Aku harus menemui nya."

Alis Opa sedikit terangkat. "Hei, darimana kau tau itu? Apa sekarang kau juga belajar ilmu cenayang?" canda lelaki tua ini, membuat Delisa tertawa renyah menampakkan kedua lesung pipinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 06, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Guide From Allah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang