Ayana tersenyum sembari memperhatikan ponselnya, sekarang Ayana tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Walaupun ia harus melewati masa masa yang tidak menyenangkan. Hingga akhirnya, Ayana bisa tersenyum tanpa unsur kebohongan.
Azwan calling...
Ayana segera mengangkatnya lalu ia mendengar Azwan bertanya "Arka mana?"
"Lagi ngobrol sama Airin"
"Terus Lo sendiri?"
"Gue gak diluar sekolah ko, ini gue lagi nungguin Arka dikelas"
"Gue bakalan jemput Lo, jangan jauh jauh dari Arka"
"Iya bawel"
"Bagus, gue masih mau rapat sama anak anak basket. Kalo gue lama, pulang bareng Arka aja"
"Iya iya" ucap Ayana lalu mematikan ponselnya.
Ayana memasukan ponselnya kedalam saku sembari tersenyum, memang Ayana kesal karena Azwan selalu saja menghawatirkan nya, tapi itu juga membuatnya senang karena artinya Azwan benar benar care padanya.
Ayana menatap pintu kelasnya, ia sudah menunggu Arka lama. Tapi dia belum juga menampakkan hidungnya.
"Lama banget sih, pengen pipis lagi" ucapnya lalu beranjak dari duduknya keluar dari kelas dan melihat sekeliling
"Tenyata sekolah sesepi ini ya kalo waktu jam pulang" Ayana merinding saat bayangan bayangan yang tidak ia inginkan bermunculan dikepalanya.
"Fokus Na, Lo tinggal ke kamar mandi terus pipis. Udah deh keluar lagi. Gampang kan? Gak bakalan ada yang kaya gitu" ucap Ayana meyakinkan, walaupun pikiran nya tentang film film horor yang paling banyak itu di kamar mandi sekolah.
Ayana mempercepat jalannya menuju kamar mandi, saat sampai ia segera masuk. Dan menyelesaikan masalahnya. Namun, hal yang paling ia benci ini nih. Mendengar suara langkah kaki. "Gue udah kencing, gak mungkin gue pipis di celana. Palingan pingsan. Gak gak gak boleh itu terjadi" batinnya berkata
Dan cklek, Ayana membulatkan matanya saat suara pintu terkunci. Seseorang mengunci pintu kamar mandi yang ia pakai. Ayana beranjak dari duduknya setelah membereskan masalah kantung kemihnya. Dan membuka pintunya. "Gue gak suka yang kaya gini" ucapnya
"ini bukan drama. Woy buka" teriak Ayana yang terus terus membuka pintunya.
Ayana membulatkan matanya lebih kaget, saat melihat ada asap masuk kedalam kamar mandi. Kamar mandi yang tertutup membuatnya ketakutan akan hal yang tidak ia inginkan terjadi.
"Please jangan asap" ucap Ayana sembari mundur menghindari asap yang semakin banyak.
Ayana terbatuk batuk, Ayana terduduk lepas saat jantung nya terasa lemah. Ayana segera mengeluarkan ponselnya dengan tangan kanannya saat tangan kirinya menekan dadanya yang sangat kesakitan.
Ia segera mendial nomor yang terakhir ia hubungi.
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan me-
Ayana terus terusan memanggil namun tidak ada jawaban, lalu ia memanggil Arka, dan langsung dijawab.
Ayana menjatuhkan ponselnya, ia sudah tidak kuat lagi. Asapnya sudah berkumpul didalam kamar mandi dan batuknya tidak berhenti.
"Na kenapa Lo batuk batuk na?"
"Lo dimana?"
"Gue nyariin Lo!"
"Na jawab"
"Ka, to lo ngin gue" Ayana yang tidak kuat untuk berbicara hingga ia mendengar suara riuh diluar.
"Kebakaran kebakaran"
"Pa kebakaran!"
"Kok bisa?"
"Ada orang didalam tidak"
Ayana dengan sekuat tenaga mencoba berteriak "To- long"
"Pa ada orang pa"
Mereka membuka pintunya namun terkunci "dobrak pa dobrak" teriak seseorang
"Ada siapa didalam?" Itu suara Arka.
Ayana tidak lagi bisa berkata. Hingga terakhir yang ia dengar suara Arka, setelah itu Ayana tak sadarkan diri.
VOUS LISEZ
Kalian Berdua
Roman pour AdolescentsPerasaan Ayana terlalu labil, membuat Ayana bingung sebenarnya Orang yang ia sukai sahabat nya atau Orang yang ia kira akan menculiknya? Ketika Ayana akan memilih Arka, Arka sudah memiliki Airin dihidupnya. Ketika Ia akan memilih Azwan, Azwan masih...
