Dengan semangat 45 Kana menggoyangkan sebuah lighstik di tangannya. Kegiatan seperti ini sudah sering terjadi dalam kesehariannya. Tak ingin terlewat sedikit pun bagian dari acara di laptopnya.
"Bosen gue ngeliat lo tiap hari teriak-teriak nggak jelas kayak gitu Kana."
"Berisik lo," sahut Kana.
Andin hanya memutar bola mata malas. Ia melanjutkan kegiatan memakan camilan sambil sibuk memperhatikan penjelasan cara merawat kulit wajah di ponselnya.
"Duh ganteng banget bias gue. Omo, liat keringatnya yang mengalir berasa ingin ngelapin."
Lagi Andin berdecak tak habis pikir. Se-excited itu teman satu kamarnya. Padahal idolanya itu tau dia hidup pun tidak. Fangirl. Itulah istilah yang Kana sematkan pada dirinya, dan bangga mengakui hal itu. Jelas dong, orang dia tiap hari bisa liat wajah tampan para idolanya.
"Din, temenin gue jalan-jalan dong."
Andin melirik Kana yang sudah tak di hadapan laptop lagi, bahkan laptopnya sudah tertutup dan tersimpan rapi.
"Udah beres?" Kana mengangguk.
"Yuk," ajak Kana.
Dengan sikap malas-malasan, Andin berdiri dari posisi rebahannya.
****
Terkagum-kagum, Kana menelisik interior kafe ala Korea di hadapannya. Bahkan daftar menu yang tertera pun khas Korea. Hasil dari iseng mencari kafe bertema korea membawa Kana datang ke tempat ini.
"Hidup lo nggak bisa ya sekali aja jangan ada sangkut pautnya sama Korea," dumel Andin. Sahabatnya ini entah sejak kapan sangat tergila-gila dengan segala hal berbau Korea. Hal yang mengantarkan dia pada dunia Fangirling.
"Udah ah sewot mulu. Gue traktir, tenang aja." Kana menepuk singkat bahu Andin, menenangkan sahabatnya. Ia sudah berbinar senang begitu membaca menu makanan ditempat ini. Ingin mencoba semua yang ada di daftar menu.
Kana menyebutkan semua menu yang ingin ia pesan. Di hadapannya Andin hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Habis semua itu?"
"Kan ada lo yang bantu ngabisin," celetuk Kana santai seraya memamerkan cengiran khasnya.
Andin menghela napas, dia senang saja kalau di traktir tapi ini menghamburkan uang namanya. Lebih baik di gunakan secukupnya saja. Mau di nasehati seperti apapun, Kana tidak akan mendengarkan dirinya.
"Nggak khawatir uang lo habis, Na?"
"Jarang gini gue belanjain. Masih aman," ucap Kana menepuk tas di pangkuannya.
"Nggak lo simpan aja buat beli album? Kan bentar lagi idol lo mau ngeluarin album baru." Walaupun terlihat kesal dengan aksi Kana, tapi Andin masih menoleransi karena Kana tak pernah melewati batas atau sampai taraf yang mengkhawatirkan tentang Fangirling-nya. Masih normal.
"Udah gue siapin buat itu."
Andin mengangguk mendengar jawaban Kana. Ini juga sifat yang ia suka saat sahabatnya masuk dunia Fangirl. Sering menabung dan mengatur uang dengan baik.
"Din, kira-kira gimana menurut lo kalau gue ke negara tempat idol gue?" tanya Kana bersamaan dengan makanan yang di sajikan.
"Jangan aneh-aneh," peringat Andin.
"Pengen banget ngeliat mereka secara langsung, Din."
"Makan. Nggak usah bahas aneh-aneh."
Kana mengerucutkan bibir mendengar perkataan Andin. Persetujuan sahabatnya itu sangat penting, dia jauh dari orang tuanya. Merantau ke sini untuk mencari pekerjaan membuat Kana sangat beruntung bertemu Andin yang mau menampung dirinya hingga saat ini. Ia menganggap Andin selayaknya saudari. Harus dapat izin Andin untuk melakukan hal apapun itu. Bahkan pria yang mendekati dirinya harus lolos uji dari Andin dulu.
"Andin jahat," rengek Kana sebelum mengunyah makanan yang di sodorkan Andin.
"Nggak usah lebay." Andin menoyor kepala Kana.
****
"Andin."
"Tidur Kana," ucap Andin kesekian kalinya. Sejak tadi Kana terus memanggil namanya dengan nada yang terdengar merengek. Umur Kana sudah 23 tahun, tapi kelakuan masih terlihat seperti anak berumur 5 tahun ketika menginginkan sesuatu.
"Nggak bisa."
"Matanya di tutup biar lo cepet tidur."
"Nggak bisa Andin," rengek Kana.
"Bisa. Coba aja."
"Nggak bisa."
Andin menghembuskan napas lelah. Dia serasa ibu yang berusaha membujuk anaknya untuk tidur. Ribet.
"Andin," panggil Kana. Lagi.
"Andin." Tak ada sahutan.
"Andin."
"Astaga Kana. Tidur." Kini Andin menaikkan nada suaranya. Bisa stress dia menghadapi Kana dalam mode seperti ini.
"Mau ke Korea."
"Tidur."
"Ish, gue mau ke Korea Andin."
"Iya makanya tidur."
"Emang bisa ke Korea kalau tidur?"
"Bisa."
"Bener?" Kana terlihat antusias.
"Iya, dalam mimpi." Andin membalikkan badan memunggungi Kana ketika kalimat itu telah terlontar dari bibirnya.
Kana memberengut kesal melemparkan bantal ke arah Andin.
~~~~~
Kana menatap layar laptop dengan serius. Bahkan ia sampai tak berkedip sedikitpun, dengan penuh keyakinan ia mengklik pembelian tiket konser dengan cepat. Berharap keberuntungan berpihak padanya saat ini.
"Ngapain sih?" tanya Andin begitu ia tiba di kamar dan melihat sahabatnya terlalu bersemangat mengklik mouse di tangannya.
"Sstt diem dulu deh, lagi sibuk nih," kata Kana sembari masih fokus dengan laptopnya.
"Bantuin doa dong Din, ini tuh lagi war tiket. Berharap banget kali ini gue kebagian," sambung Kana dengan suara lesu karena dari tadi tiket yang ia incar belum dapat juga.
"Nggak apa-apa deh day 2, atau pun dapat kursi paling jauh yang penting gue bisa dateng ke Korea ini."
Andin menghela napas lelah. "Ngebet banget pengen ke Korea?" tanya Andin memastikan.
"Iyalah, ini tuh impian paling utama seorang fangirl kayak gue," ujar Kana antusias.
"Yaudah, nih gue bantu doa." Andin melipat kedua tangannya dan menutup mata, mengambil sikap orang yang sedang berdoa. Demi sahabat ya kan? Biar seneng aja dianya.
"ANDINNN!!!" teriak Kana.
"Apa? Kenapa?" Andin segera berjalan mendekat kearah Kana yang mematung di depan laptopnya.
"Kenapa sih?"
"Itu... gue...." tunjuk Kana kearah layar laptop.
"Apa? Nggak ngerti gue," kesal Andin tak mengerti maksud yang tertera di layar laptop Kana.
"Ke Korea, Andin gue dapat tiketnya." Kana berdiri memeluk Andin, menyalurkan rasa bahagianya sebagai seorang fans yang sebentar lagi bisa melihat secara langsung idolanya tampil di atas panggung.
"Bener?" Kana mengangguk sebagai jawaban dalam pelukan Andin.
"Yuk kita list apaan aja yang perlu di bawa." Dengan semangat Kana menarik Andin duduk di atas kasur, lalu mengambil pulpen dan kertas untuk list barang bawaan.
"Kapan sih konsernya?" tanya Andin penasaran.
"Sebulan lagi," jawab Kana.
"Lama banget."
"Ya emang jadwalnya kan," kata Kana seraya fokus menulis. "Mau bawa apa nih?"
"Gue ikut?" tanya Andin.
"Ya iyalah ikut. Gue mana di izinin ortu pergi sendirian, kalau sama Lo pasti di izinin."
Andin menoyor kepala Kana. "Kebiasaan."
####
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet You
RomanceBukan cerita tentang Fans yang menjalin cinta dengan Idolanya, tetapi cerita seorang gadis bernama Kanara sebagai Fans untuk bertemu dengan Idolanya. "Harus ketemu semua bias gue dulu baru bisa menjalin hubungan sama pria di real life" -Prinsip Kan...
