I. Bukan Prolog

11 2 0
                                        

On playing - Fine by Taeyeon

____Happy Reading!¡!____


Kereta cepat yang tidak memerlukan energi untuk berjalan itu telah hilang melewati Ayara dalam sekejap mata. Baru saja Ayara mengedipkan matanya, kendaraan yang selalu memenuhi pikirannya telah hilang. Penantiannya selama 5 tahun tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan. Tiba-tiba saja, matanya pedih dan membuatnya lupa apa tujuan awal ia datang ke sini.

Stasiun tua, di mana hanya ada tiga sampai lima kereta yang datang setiap hari. Di bawah temaram lampu yang cukup redup, Ayara duduk di salah satu kursi tunggu. Air mata sudah jatuh tanpa permisi dan membuat dadanya serasa sesak.

"Jangan nangis!" ucap Ayara kepada dirinya sendiri.

Namun, semakin ia menahan air mata itu agar tidak turun, justru air mata itu turun lebih deras. Ayara bingung, juga sedih. Kesempatan emasnya untuk memperbaiki hati dan hidup yang lebih baik sudah hilang.

Ayara mulai berjalan gontai dan menatap langkahnya sendu, tanpa sadar, ia telah berada di atas rel kereta. Ia mendongakkan kepala dan terkejut ketika melihat sebuah kereta sedang menatapnya dengan kecepatan yang tinggi.

Dengan air mata dan harapan yang putus, Ayara mengikuti takdirnya untuk berhenti berjalan di dunia.

*****


Tampak gadis kecil itu bangun dengan keringat yang membasahi semua badannya. Mimpi itu selalu datang setiap ia merasa sedih. Ia tampak duduk di pinggiran tempat tidur dan menangis dalam diam.

"Gue kenapa? Hiks!" ujarnya.

Ayara Tanisha, gadis cantik berusia 17 tahun. Hidupnya terlihat menyenangkan dan sangat beruntung, dengan harta yang selalu mengelilinginya, seakan-akan seperti manusia yang paling bahagia. Semua itu, jauh dari kehidupan nyata Ayara. Ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang orang lain pikir.

Justru, karena kehidupan yang terlalu banyak masalah menjadikannya gadis yang sulit untuk percaya dengan orang lain, ia juga tidak terlalu banyak bicara. Dengan kekayaannya, ia dapat bersekolah di salah satu sekolah yang sangat elite, di mana harta lebih berguna daripada prestasi, di mana sekolah adalah ajang unjuk kekayaan bukan ajang mencari ilmu. International

Magaswara High School, bangunan paling tinggi di kota Surabaya itu adalah tempat Ayara menuntut ilmu. Wajah cantik dan harta melimpah tetap tidak bisa membuatnya menjadi siswa idola. Semua itu disebabkan oleh karena, ia tidak pernah peduli dengan sekitar.

"Good morning my only nerd people!" ucap salah satu siswa yang menjadi pentolan sekolah.

"Kalo ditanya itu jawab. Bukan nunduk!" sambung salah satu temannya.

Ayara hanya berjalan melewati mereka, sudah malas menanggapi keduanya.

"Gue sibuk," jawab Ayara menatap kedua lawan bicaranya sombong.

"What! Dia pake gue-lo guys!" ujar Cyela, pentolan sekolah.

"Banyak drama lo!" jawab Ayara sambil menoyor kepala Cyela.

"Satu jam lagi kita cabut," lanjutnya.

"Ngapain?" tanya Aruna, satu lagi teman Ayara.

"Tawuranlah ngapain lagi?" jawab Ayara santai sambil menuju kelas.

Ya, semua yang disebutkan di awal bukanlah prolog sesungguhnya. Tidak ada kata nerd dalam diri Ayara. Justru, dia adalah preman sekolah yang mencintai keributan. Kata pendiam dan tidak senang memamerkan harta, jauh dari diri seorang Ayara.

Bad VibesStories to obsess over. Discover now