Gumpalan awan beriring, beberapa raga sudah mulai berbenah bahkan jauh sebelum matahari benar-benar benderang di atas langit.
Para pekerja tampak berjalan tegas menapaki aspal menuju pemberhentian bus. Seorang siswi juga terlihat bergegas berjalan dengan kaki yang sedikit menggigil hingga seseorang mengejutkannya. Siapa yang tau? Pertemuan pertama yang tidak terlalu beruntung itu mengharuskan mereka berangkat bersama.
Garis takdir setiap raga sudah ditulis dan tak dapat tergubris meski sekeras apapun mengikis. Hal kecil seperti ini mungkin terlihat biasa. Namun siapa yang dapat menjaminnya? Bukankah tidak ada seorangpun yang tau akan alur yang telah ditulis Sang Maha Kuasa.
Saat bus benar-benar berjalan, seorang pria tak henti-hentinya menatap seseorang disebelahnya. Kau sudah pasti dapat menebaknya, pria itu menyukainya.
Tak harus terlontar kata untuk meyakinkannya. Karna di hatinya sudah tertancap keyakinan akan perasaan yang tumbuh mungkin sejak beberapa detik yang lalu.
Lantas apa yang dilakukan gadis beruntung itu?
Menatap keluar jendela dan sama sekali tak menyadari tatapan hangat yang diperuntukan khusus untuknya.
Menyedihkan memang, namun setidaknya pria ini tetap dapat menatapnya tenang.
Bahkan saat dia tak sengaja melewati ruangan yang dipenuhi tumpukan bukupun dia lagi-lagi bertemu gadis itu. Senyum manis itu kembali terukir. Sesaat dia menatap, lantas memilih berjalan kembali kekelas.
Hingga senyum itu luntur setelah sesuatu terjadi tepat dihadapannya.
Gadis yang disukainya hari ini berpelukan dengan temannya tepat disaat dia berniat menarik gadis itu dari kerumunan sesak.
▪□■□▪
Jika konteks takdir adalah sebuah rahasia. Maka apa kabar dengan rasa yang tak pernah berubah?
Ketika hubungan sudah berhenti terjalin rasa yang tetap sama akan terasa sakit terlebih ketika melihat sebahagian dari hati tampak sudah memiliki pengganti.
Meski tak tampak jelas dan tak terdengar namun prasangka akan menang dalam mengendalikan diri.
Seperti mereka, yang sudah benar-benar terbutakan
Akan cinta yang telah salah terartikan.
Pria berbadan bidang menghantamkan kepalan tangannya tepat dicermin yang kini memantulkan bayangnya. Sesekali dia meringis, bukan karena rasa sakit dari tangannya namun rasa sakit dan nafsu dari hatinya.
Penglihatannya belum benar-benar rusak dan dia melihat semua interaksi yang dilakukan 'gadisnya'
Padahal hubungan mereka sudah bubar jauh-jauh hari dan mereka sepakat untuk tetap berteman. Namun perasaannya tak pernah hilang seiring rusaknya hubungan mereka. Terasa egois memang, namun siapa yang dapat mengendalikan hati terlebih jika ini menyangkut rasa.
Matanya tajam menatap pantulannya dicermin. Tangannya mengepal-ngepal tak sabar lantas dia melangkah keluar dan tampak berjalan menuju tujuan utamanya.
Hanya butuh waktu seperkian detik, keributan yang ditimbulkannya menjadi tujuan utama terjadinya kerumunan. Terlintas sebuah bayang bahwa yang dia lakukan hanya sia-sia belaka. Dengan kewarasnya dia paham akan peringatan itu, tapi mengapa dia memilih berkelahi dengan pria yang tidak ia temui barang sekali?
Semua tampak abu-abu dimatanya. Bahkan gadis lugu tak bersalah harus terdiam pasi akan pekikannya. Kini rasa sesal menjalar, meski tau tapi rasa malu memukul mundur itu semua.
▪□■□▪
Kendati sejarah cinta terasa sepi karena kasih yang terlampau iri, seperkian dari milyaran umat dibumi masih bisa melewati jalinan kasih tanpa tertatih.
Tak selalu mulus memang, kadang kala permasalahan kecil dapat memicu sedikit pertikaian tetapi dengan saling peka dan terbukanya diri, semua akan dapat terselesaikan.
Tapi apa mungkin semua akan mulus berjalan jika dari awal sudah kita ketahui bahwa garis takdir takdapat
Terprediksikan?
▪□■□▪
Percayalah, apapun yang terjadi semua sudah terukur sesuai kemampuan.
YOU ARE READING
Heart Ties | TOMORROW X TOGETHER✓
FanfictionIni tetap kisah yang sama hanya saja kita terpaksa menapaki alur yang berbeda
