Part 8 - Bertemu Luka Lama

12 7 13
                                    

Sibuk saling melempar kata, sosok Akira membuat mereka kembali berdamai.

"Maafin aku Sa," ucap Rian pada akhirnya mengalah, mendaratkan kecupan singkat di kening Nisa.

"Ya udah, sekarang aku mau ajak kamu sama Akira jalan-jalan," ucap Rian sembari berdiri.

"Lukisannya Kira biar aku simpan di ruangan aku, nanti kita cari bingkai buat dipajang di meja," lanjutnya.

"Kita cari Kira dulu Ian." Nisa mulai gelisah, ketidakberadaan putrinya itu membuatnya tidak tenang walau hanya semenit.

"Iya Sayang, aku telpon Toni dulu."

Tak ada jawaban dari Toni.

"Nggak diangkat, Sayang."

"Terus gimana? Kita cari Akira sekarang," sanggah Nisa.

"Husst, nggak usah panik gitu." Rian berusaha menenangkan Nisa, ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya itu.

Kring kring.

Telpon Rian berbunyi, panggilan dari Toni.

"Halo Ton."

"Anak lu lari dari gua tadi Bro, ini gua lagi usaha cari dia ke mana-mana."

"Lu tunggu gua di sana, gua nyusul sama Nisa," timpal Rian.

Sambungan telpon tertutup.

"Kira kenapa Ian?" panik Nisa, Rian tak menjawab. Mereka lekas bergegas menemui Dokter Toni. Toni menceritakan bagaimana Akira bisa tiba-tiba menghilang dari genggamannya.

"Kita pencar sekarang!" sergah Rian memberi perintah.

Ketiganya mencari Akira dengan arah yang berlawanan.

Flashback on.

Akira tengah berjalan beriringan dengan Dokter Toni menuju luar rumah sakit. Toni yang saat itu tak sengaja melepas genggaman tangannya pada Akira, membuat Akira berlari menuju ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Toni. Dokter Toni tidak menyadari hal itu, ia sibuk bertegur sapa dengan dokter angkatannya saat bertemu di ruang resepsionis.

"Aw." Akira mendengar suara jeritan dan seperti gelas yang jatuh dari balik ruangan di depannya, ia dengan sigap memasuki ruangan itu tanpa berpikir apa yang terjadi.

"Om, Om enapa Om?"

Seketika saja erangan sakit pasien tersebut hilang saat melihat bocah kecil di hadapannya itu, manik mata Akira seolah telah menyihir dan mendatangkan ketenangan untuknya.

"Kamu siapa, Dek?"

"Kila Om." Akira tersenyum polos. "Om au ambi apa?"

"Ngapain ada di sini, mana Ibu kamu?"

"Mama na Kila agi cama Papa, pacalan i luangan." Ajaran onty-nya, Fafa pada Kira, berhasil mengelabui otaknya yang masih sangat bocah ini.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang