“Mencari tempat yang bagus untuk membunuhmu,” balas Jiya.

Tawa laki-laki Jung itu menguar.

“Ada apa?” Jiya memberikan leksasi tambahan.

What will you do if I am sick?”

Kim Jiya mengerjap. Jika Taehyung sakit, biasanya Jiya akan membiarkan daksanya terbaring di samping tubuh bedegap itu dan mendekapnya dengan hangat. Jika Taehyung sakit, biasanya Jiya akan membuatkannya bubur sederhana yang disukai oleh indera pengecap Taehyung. Jika Taehyung sakit, biasanya Jiya memberikan kecupan yang manjur memberikan vibrasi sedap layaknya obat. Jika Taehyung sakit, biasanya Jiya menangis, hasai, khawatir, takut, dan—mencerca Tuhan lantaran telah membuat laki-laki tersebut merasakan sakit.

Ia menarik napasnya. Membasahi labium untuk permulaan, lantas setelahnya ia siaga untuk kembali berujar. “I don’t care. Even it’s better if you die.”

Jung Taehyung terkekeh pelan, sesekali ia terbatuk kecil. Sakit betulan. Berusaha untuk menepis perasaan buruk, Taehyung angkat bicara lagi setelah mendapatkan diktum final yang panas dari mulut Jiya. “Poor me.” Dia menjeda. “Penampungan batinku mendadak diterpa tornado. Aku mencintaimu, My Love, Your Majesty, Kim Jiya.”

Sederhana. Singkat. Menohok. Cinta katanya? Serius?

Tatkala Jiya ingin mebalas, rupa-rupanya koneksi tersebut diputuskan oleh Jiya—secara tidak sadar. Ia menggeram kesal. Melangkahkan tungkainya untuk kembali masuk ke dalam mobil Min Jungkook. Ia mengekspos gurat wajah yang ambigu, tidak jelas—namun, jelas sekali kacau. Jiya menatap Jungkook, lantas berujar afirmatif, “I’m sorry, Jo. I must go.

Jungkook mengernyit, “Kenapa? Lima kilometer lagi, lho.”

“Jisa sakit,” balas Jiya.

Persis setelah diktum itu lolos dari labium kenya tersebut, Jungkook tanpa ragu membelah bulevar untuk kembali ke mintakat awal. Adam tersebut sempat menawarkan diri untuk ikut, namun Jiya menolak. Jelas. Lagipula siapa juga yang sakit? Jisa? Jelas bukan. Mana mungkin perempuan tersebut memberitahu fakta sebetulnya. Mustahil.

Jiya munafik. Jiya munafik. Jiya munafik.

Jiya mencintai Taehyung? Tidak, sumpah. Memang munafik. Namun, yang pasti, Kim Jiya tidak bisa mengontrol tabiatnya sendiri. Tak bisa dipungkiri bahwa Jiya menginginkan Taehyung untuk baik-baik saja. Manusia itu suka bebal, acuh, dan masa bodoh dengan apa yang menimpanya. Kenyataannya, Jiya kembali mendapatkan varietas perasaan absurd seraya mencerca Tuhan sebab telah berani memberikan Taehyung rasa sakit. Itu yang katanya tidak peduli?

Jika Taehyung sakit, biasanya Jiya menangis, hasai, khawatir, takut, dan—mencerca Tuhan lantaran telah membuat laki-laki tersebut merasakan sakit.

Kurang atau lebih sekitar satu jam kemudian, kenya tersebut sampai di papan Min Jungkook dan segera masuk ke dalam mobilnya sendiri. Well, Jungkook memang suka sekali mempertaruhkan nyawa di jalanan dengan mencapai limit akhir kecepatan mobil. Masih untung tidak ada polisi yang berpatroli.

Jungkook melirik Jiya sekejap. “I’ll go to see Jisa this night, Honey.”

No, no, no!” Jiya kacau.

Jungkook nampak terkekeh kecil, mutlak telah membuat Jiya mengernyit heran. “Alright.”

Apa yang lucu? Begitu kiranya.

Memandang roman Jungkook yang mendadak jadi eksentrik itu, lantas Jiya memutar bola matanya. Ia mengatupkan rahangnya, enggan membalas apapun, selain memberikan tatapan tak sedap. Sepersekian sekon ia melajukan mobil berharga fantastisnya untuk menuju ke papan si papa durjana yang katanya sedang sakit itu.

𝐌ㅡ𝐒𝐢𝐧𝐚𝐭𝐫𝐚 [✓]Where stories live. Discover now