Pagi itu, sekitar pukul 03.00 pagi. Suara dari luar membangunkan Raden.
"sret, sret..." suara suatu benda seperti kayu diseret di luar rumah.
Raden yang matanya masih berat mencoba membuka mata. Namun badannya masih belum sepenuhnya sadar dari tidur.
"sret..sret..kreeek..." suara itu muncul lagi semakin mendekat.
Raden membuka selimutnya dan duduk di atas kasur.
'Mungkin tetangga yang sedang memindahkan furnitur' Pikir Raden.
Raden kemudian berdiri dan menyibakkan jendela kamarnya. Kusen jendela yang sudah mulai rapuh digerogoti rayap. Gordyn yang dia singkap adalah buatan ibunya. Sepotong kain sisa sisa (perca) yang dijahit manual.
Raden melihat sebuah kursi tepat di depan jendela kamarnya.
'Mungkin bapak akan mencuci kursi itu diluar' pikirnya.
'tapi mengapa jam 3 pagi?' tanyanya dalam hati.
Raden melipat selimut dan sedikit membereskan kamarnya. Di luar masih terdengar suara kursi ditarik oleh bapak Raden. Suara pintu di buka dan suara kursi ditarik paksa ke dalam rumah.
Raden membuka pintu kamarnya. Terlihat Bapak Raden sedang susah payah membawa kursi itu ke dalam rumah. Tanpa menghiraukan siapapun. Kursi itu adalah kursi kayu berwarna coklat. Cat nya sudah terkelupas disemua bagian. Dengan dua seater yang sudah lapuk dan kotor.
"Sret. brak!" semua yang ada didepan kursi itu di tabrak oleh Bapak Raden.
Raden bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Setelah sepenuhnya sadar dari tidurnya. Raden membuka pintu kamar mandi dan melihat kembali apa yang tadi dilakukan oleh ayahnya. Raden melihat ibunya sudah putus asa dengan kelakukan suaminya. itu adalah kursi tetangga yang dia ambil tanpa izin. Terlontar kata kata kasar dari mulut ibunya.
Raden merasa malu dengan apa yang ayahnya perbuat. Ketika orang lain di pagi hari memulai lembaran baru dengan senyuman mengembang diwajahnya. Tidak begitu dengan Raden. Di pagi hari ini dia harus memulai hari dengan sesuatu hal yang absurd.
Dia kemudian bersiap siap mandi dan pergi ke sekolah. Yang selalu dirasakannya setiap hari adalah sulit mengerti dengan ayahnya sendiri. Raden selalu murung ketika di rumah. Dia berangkat pagi-pagi buta ke sekolah. Dia hanya tidak ingin di rumah. Itu saja.
Dia berjalan menuju ke sekolah. Embun pagi masih berjatuhan di sekitar. Kabut menyelimuti pandangan ke depan. Hawa dingin tidak di gubris oleh Raden. Seragam merah putih bekas kakaknya itu yang dia pakai. Sepatu murahan yang di beli oleh ibunya basah oleh embun yang menempel di rumput.
Jam 6 pagi dia sampai ke sekolah. Sekolah itu tak ada gerbang. Dia masuk dan tidak melihat seorang pun di sana. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci pintu. Hari itu Raden kebagian piket dan membawa kunci pintu kelas. Raden melangkah mendekati pintu kelas 6. Dia memasukan kunci ke dalam lubang pintu.
"Krek, ptak!!" Suara kunci pintu itu.
Dia Kaget. Ketika mencabut kunci itu, kuncinya patah di dalam. Raden menganga. Dia melihat ke kiri dan menemukan Jared berjalan baru masuk ke dalam sekolah. Jared terus mendekat menuju pintu kelas 6. Raden memberikan kunci yang patah dan playing victim. Anak-anak sekolah dan guru pun berdatangan. Semua murid kelas 6 berkerumun di depan kelas karena pintu tidak dapat di buka.
"Siapa yang melakukan ini?" Bentak Bu Tiara.
Raden menunjuk Jared. Jared menunjuk Raden. Mereka berdua bersikukuh dengan pendapat mereka. Caci maki tidak terhindarkan. Bu Tiara membuka paksa pintu dan semua murid pun masuk ke kelas. Raden tidak mau mengakui kesalahan yang dia perbuat. Terlalu takut.
*****
YOU ARE READING
ABSURD
General FictionMenceritakan tentang Raden. (Prequel Buruh Pabrik) Raden Ishak(Di Buruh Pabrik di kenal dengan nama SAKURA) bergelut dengan drama masa kecilnya yang sangat mempengaruhi dia ketika dewasa.
