Diet Ala Shelli

12 8 4
                                        

" Sajikan di atas piring yang sudah di siapkan, lalu makanan siap untuk disantap, "

Suara gemuruh tepuk tangan terdengar jelas dari layar televisi. Menyoraki cheff muda yang tersenyum sambil menatap kamera yang menyorotinya.

Kriukkk..

Shelli yang sedang menonton acara masak - memasak itu memegangi perutnya yang mulai berdemo untuk diberi makan.

" Jadi laper, " ucapnya. Kemudian Shelli bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Mengecek isi kulkas sambil berharap ada persediaan makanan.

" Ngapain Lo kak? " suara cowok masuk kedalam indra pendengaran Shelli, membuatnya terkejut.

"Terserah Kakak lah mau ngapain," ketusnya.

"Laper ya.. Cih, giliran tadi pagi bilang   ' Jangan tawarin Kakak makanan apapun, hari ini Kakak bakalan diet ,' ehh taunya udah sibuk aja nyari makanan," ledek Raihan.

Shelli menatap adiknya itu dengan kesal. Ia jengkel dengan adiknya yang mengingatkannya akan program diet yang ingin Shelli lakukan.

Apa salahnya jika ia merasa lapar saat melakukan diet?

Shelli memang terkenal sebagai anak yang pintar, tapi dia juga mempunyai kekurangan.

Memiliki badan yang jauh dari kata ideal membuatnya merasa sedikit 'minder'. Tinggi badan 155 cm dengan Berat badan 55 kg bukankah itu jauh dari kata ideal?.

Maka dari itu, Shelli selalu merencanakan program diet untuk dirinya walaupun berujung gagal karena dia tidak pernah bisa menahan godaan makanan.

Akhirnya Shelli pun menutup kembali kulkas, " Siapa juga yang mau makan. Kakak baru aja ngecek persediaan dapur," kilahnya.

Raihan memamerkan senyum mengejeknya yang semakin membuat Shelli kesal.

" Udahlah kak, gak usah diet - dietan.
Badan kakak udah bagus kali, ngalahin ikan buntal. "

Shelli menatap sengit kearah adik satunya ini. Dengan cepat tangannya menjambak rambut sang adik hingga berteriak kesakitan.

" AAAAAA.. Sakit Kak. "

" Rasain. Makanya jadi anak tuh jangan suka ngatain orang. "

" Gue gak ngatain Lo Kak, tapi gue bicara sesuai fakta. "

Shelli semakin kencang menarik rambut Raihan.

"AAAAAAAAA"

"BERANTEM AJA TERUS..SEKALIAN AJA NIH PAKE SAPU BERANTEMNYA."

Suara Mama Shelli yang terdengar sangat kesal itu membuat Shelli melepaskan tangannya dari rambut Raihan.

" Nih Mah, Raihan ngatain terus aku Ikan Buntal. "

" Lho bukannya emang bener ya?! " Shelli menatap Mamanya yang sudah mulai tertawa.

Raihan yang awalnya meringis kesakitan ikut menahan tawa melihat Shelli yang semakin kesal.

" Terus aja ketawa. Emang apa salahnya punya badan gendut, gendut itu kan berarti sehat, " bela Shelli.

Shelli berjalan meninggalkan adiknya dan juga Mamanya yang masih tertawa.

" Mama tadi habis dari Bu Eva, dia ngasih rendang sama ayam geprek, " Mama mengeluarkan isi dari dalam kresek yang tadi dibawanya.

" Enak nih.. Yang diet jangan mau ya, "  Raihan mulai mengeluarkan aksinya untuk memanas-manasi Shelli.

" GAK AKAN TERGODA!!! " teriak Shelli, tapi sambil berbalik arah menuju dapur lagi. Kemudian mengambil rendang dan disantapnya.

" Yang katanya mau diet, " ucap Mama dan Raihan dengan datar yang dijawab dengan cengiran.

" Shelli bakalan diet Ma," ucapnya sambil menikmati rendang yang sedang di lahapnya itu, " tapi, nunggu habis dulu makanan yang Mama bawa."

Raihan hanya menatap Kakak nya itu dengan wajah yang datar.

"Dasar Ikan Buntal, "

Shelli hanya melemparkan tatapan tajamnya dengan mulutnya yang masih menikmati rendang.

                               ****

" Gue tebak sekarang Lo pasti lagi rebahan di kamar."

Shelli hanya menjawabnya dengan gumaman. Matanya asik menatap langit-langit kamarnya sedangkan tangannya sibuk menempelkan handphone ditelinganya.

" Lo bilang lagi diet. Tapi kerjaannya rebahan mulu."

" Lho..Ini juga lagi diet kok. Gue belum makan apapun selain rendang sama ayam geprek tadi."

Terdengar suara dengusan dari sebrang teleponnya.

" Kalo diet tuh..Harus banyak gerak dong."

" Mumpung Lo lagi gabut kan..Gak ada kerjaan. Mending bantu gue yuk, di cafenya Kakak gue. Disini lagi banyak banget pengunjung."

" Gue lagi 'mager' ," Shelli mengubah gaya tidurannya menjadi tengkurap.

"Pleaseeee.. Besok gue traktir Lo makan cireng di sekolah," bujuk Nana-- teman dekat Shelli.

" Na, Lo harus tau nikmatnya rebahan di waktu libur itu tidak seenak makan cireng di sekolah. Rebahan jauh lebih berharga ketimbang cireng."

"Ishhh, ya udah deh besok gue traktir bakso deh seporsi buat Lo."

" Meluncurrrrr," Shelli tersenyum sumringah.

" Sebel banget deh punya temen kayak gini. Bilangnya mau diet tapi malah kalah sama bakso doang."

" Gue OTW kesana ya, pa pai."

Shelli kemudian bersiap untuk berangkat menuju Cafe Kak Ira-- Kakak Nana.

Ia memang sering membantu di Cafe Kakaknya Nana. Itupun hanya saat Cafe sedang ramai dengan pengunjung.

" Kemana Kak?" tanya sang Mama yang sedang menonton acara kesukaannya.

" Ke Cafe Kak Ira Ma, disana lagi rame katanya."

"Oh.. Hati-hati ya."

Shelli mengiyakan Mamanya kemudian berpamitan.

Tapi tak berapa lama ia kembali menemui Mamanya. Kemudian menyodorkan tangannya sambil tersenyum lebar.

"Apa?" Mama Shelli mengerutkan keningnya.

"Ongkos."

____________________________________

*
*
*
*


Hai hai haiiiii.....

Gimana gimana sama part ini???
Ini cerita  pertama aku, jadi maklum ya kalau ceritanya aneh.

Kalau ada typo comment aja. Jangan lupa vote juga ya😁😁

Next gak nihh???

BITTERSWEETWhere stories live. Discover now