The Momment

241 29 1
                                        

'Cklek'

'Tap, Tap, Tap'

Suara rendah langkah kaki, berbentur pelan dengan lantai kayu.

Seorang pemuda berpakaian hitam sedang berjalan masuk kerumahnya, melepas jaket coklat yang lalu dilempar kesembarang tempat.

Hari sudah mulai malam disertai cuaca mendung diluar yang mengundang suasana dingin keruangan gelap ini. Sang pemuda yang tidak lain adalah Jungkook, mengambil langkah lagi, kali ini ke jendela yang ditutupi oleh gorden putih. Pelan-pelan ia tarik gorden, membukanya sedikit.

Disana dia bukan melihat langit atau pemandangan diluar. Namun, pantulan kaca yang menampilkan dirinya sendiri. Mungkin tidak terlalu jelas, tapi dia bisa melihat sesosok pria yang terlihat sangat mengenaskan.

Rambut hitam pria tersebut acak-acakan hampir menutupi kedua mata. Sedangkan salah satu matanya yang terlihat, menunjukan katong mata tebal dan lebam seperti habis menangis. Dia terlihat lelah.

Entah emosi apa yang Jungkook rasakan melihat refleksinya di jendela. Marah? Kecewa? Sedih? Bingung?

Apapun itu ia tak memiliki niat sama sekali untuk terus memandangi wajah menyedihkan itu.

"Bajingan busuk"-dia mengumpat pada refleksinya, lalu menarik kasar gorden, menutup jendela hingga ruangan sekali lagi menjadi gelap gulita.

Jungkook kemudian berjalan kearah sofa, sembari menyalakan AC ruangan.

Dia duduk menyender, melebarkan tangannya supaya bertenger di atasan sofa. Kepalanya mendongak keatas, dimana ia tetap tidak bisa melihat apapun. Ruangannya terlalu gelap.

Merasa kosong, hingga yang ia bisa dengar hanya suara rendah dari AC.

'Apa suara AC biasanya sebesar ini?'

Batinnya, Walaupun merasa jika satu suara yang menemaninya ini menghilang dia akan hancur.

'Tes'

Air mata mulai menetes keluar dari netranya. Sudah yang keberapa kali ? Ahkir-ahkir ini sering sekali.

"Jimin.."-Suara Jungkook bergetar.

Dia memanggil sebuah nama sambil mengingat...

Flashback
Jungkook POV


"Hahahaha"

Kita tertawa bersama dibawah hujan, di taman sepi dimana tidak ada siapapun. Tertawa karena rasa senang mengelitik yang datang dari rasa cinta.

Dibawah hujan, Aku dan Jimin sedang menari bersama, Aku memegang erat pinggang ramping dan tangan kecilnya. Dia tersenyum lebar melihat ke arahku.

'Betapa indahnya'-Pikirku.

Dia berputar menari dengan lincah, tidak takut sama sekali terpeleset. Dan aku tahu itu karena dia percaya aku akan menangkapnya kalaupun ia jatuh. Maka aku memperhatikannya dengan seksama.

Pukul 6, belum lama kita menari namun sayangnya hujan sudah mulai reda. Langit-langit sore berwarna ungu sekali lagi mulai terlihat.

Memang sudah jadi kebiasaan kita berdua, jika hujan seperti ini, kita akan pergi keluar dan bermain-main lalu jatuh sakit kemudian merawat satu sama lain.

Jimin didepanku menatap langit. Air wajahnya terlihat sedikit sedih. Setelah beberapa detik ia kembali menatapku. Lalu perlahan menunjukan senyum tipis sambil berkata.

Still With You (Kookmin/Jikook){Oneshot}Stories to obsess over. Discover now