Prolog

12 0 0
                                        

"Seperti hal nya dunia yang ku rasa memang tak pernah memberi ku celah untuk bahagia. Lantas kenapa aku harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Tidak mungkin!"

~LoveHR23~

Happy Reading :*

Sebut saja dia Arum. Gadis dengan nama lengkap Arastasyah Arum Reinakara. Arum baru saja naik dibangku kelas 3 SMA. Ia merupakan siswi berprestasi yang memiliki 1001 kepandaian.

Namun nasibnya begitu tidak beruntung. Ia terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Dimana ia memiliki ibu bernama Ratna yang hanya bekerja sebagai buruh cuci, dan seorang ayah bernama Jaka yang pengangguran. Bekerja banting tulang, adalah kesehariannya untuk membantu ibunya mencari uang.

Ia memiliki 5 orang saudara dan 1 orang calon adik bayi yang sedang dikandung Bu Ratna. Yang dimana Arum adalah anak pertama dari keluarga itu. Anak kedua bernama Seruni Rahelia Kirana yang duduk dibangku kelas 1 SMA. Anak ketiga bernama Sebastian Farhan Nugroho kini duduk dibangku kelas 2 SMP. Dan 2 orang adik kembar yang duduk dibangku kelas 2 SD, mereka bernama Ambara Krisnanda dan Amora Krisnindi. Dan kini, Bu Ratna tengah hamil besar.

Saat sebelum melahirkan, Bu Ratna begitu stres karena tidak memiliki biaya persalinan. Beban fikiran itu membuat tekanan darahnya begitu tinggi. Ia tak tau harus mencari biaya dimana untuk persalinannya. Ia hanya memiliki uang 70.000 dilemarinya. Dan uang segitu tidak mungkin cukup untuk bersalin dirumah sakit.

Waktu melahirkan pun tiba. Dengan gegabah Pak Jaka membawa istrinya ke rumah sakit tanpa perbekalan uang. Awalnya Bu Ratna menolak, namun rasa sakit itu membuatnya tak berdaya.

"Mas, dilemari ada uang 70.000, bawa aja untuk bekal ya Mas." ucapnya saat sudah terbaring dibrangkar.

"Iya, Rat. Aku akan segera ambil." jawab Pak Jaka dan bergegas meninggalkan istrinya.

Saat Pak Jaka sampai dirumah sakit, ternyata persalinan sudah selesai. Dan Bayinya terlahir dengan selamat, sedangkan Bu Ratna tak dapat tertolong. Bu Ratna meninggal saat melahirkan. Remuk sudah hati dan harapan Pak Jaka. Ia menangis dengan sejadi-jadinya dirumah sakit.

Jenazah Bu Ratna dibawa ke rumahnya. Terlihat Seruni, Farhan, Mora, dan Bara tengah menangis. Rumahnya pun begitu ramai orang. Arum heran melihat semua itu. Dan matanya terbelalak saat melihat sebuah bendera kuning yang berkibar didepan rumahnya. Terbaring manusia tak bernyawa diruang tamunya yang sempit.

Ia mematung saat sebuah tangan memegang bahunya.

"Ibu kamu sudah meninggal saat melahirkan dedek bayi." ucap seorang pria yang tak lain adalah ayahnya, Pak Jaka.

Ucapan itu sontak membuat Arum menjerit dan berlari menghampiri jenazah ibunya. "IBUUU!!!" tangis Arum semakin terisak saat melihat mayat dibalik kain itu adalah benar ibunya. Semua orang ikut bersedih atas meninggalnya Bu Ratna. Bahkan setelah jenazah itu usai dikebumikan, anak-anak Bu Ratna terus menangis.

Saat sampai dirumah, fikiran Arum terganggu pada suatu hal. Adiknya. Dimana adik bayi yang baru dilahirkan ibunya? Mengapa sejak kemarin ia belum melihat bayi itu?

"Yah, dedek bayi dimana?" tanya Arum disela-sela tangisnya.

"Adik kamu masih dirumah sakit. Ayah belum sempat mengambilnya." jawab Pak Jaka lirih.

"Kalau gitu, ayo Yah. Ayo kita ambil dedek bayi."

"Tapi, Rum. Adik kamu harus ditebus dirumah sakit. Kita gak punya uang, Rum."

Arum menghembuskan nafasnya kasar. Namun seketika senyum diwajahnya mulai terukir. "Pakai uang layat ibu aja, Yah. Pasti banyak. Semoga aja cukup buat nebus adek."

"Enggak, Rum. Ini uang Ayah. Ayah gak mau nebus adik kamu pakai uang ini. Ayah mau pakai ini untuk modal." tolak Pak Jaka dan bergegas pergi.

Arum tak tinggal diam. Ia berusaha menarik uang yang ada ditangan Pak Jaka. Namun nasibnya begitu malang. Ia didorong Pak Jaka hingga terjatuh. Pak Jaka meninggalkannya dan segera pergi tak tau kemana. Arum terisak begitu keras hingga membuat kedua adik kembarnya pun ikut menangis. Sementara Farhan dan Seruni terduduk disebuah kursi rotan lebar yang biasanya juga digunakan untuk tidur.

Arum terduduk lemas dikursi lebar itu bersama keempat adiknya.

"Mbak, adek bayi kita gimana?" tanya Seruni lirih.

"Mbak, dek Mora laper." ujar sikecil Mora.

Tak mau kalah dengan adik kembarnya, Bara pun ikut bersuara. "Bara juga, mbak."

Arum memejamkan matanya mencoba untuk tenang. Ia teringat sesuatu yang tersimpan disaku seragam sekolahnya. 2 helai uang dengan total nominal 30.000 yang ia dapat dari membantu ibunya mencuci pakaian.

"Seruni, kamu tolong mbak, beliin mie instan di warung 3 bungkus. Terus kalian mie nya kalian bagi-bagi ya. Mbak mau ke rumah sakit buat jemput dedek bayi."

"Iya mbak." Seruni mengambil uang sepuluh ribu yang diberikan Arum. "Tapi mbak, emangnya mbak Arum punya uang buat nebus dedek bayi?"

Pertanyaan itu sontak membuat Arum menoleh ke arah tangannya yang tengah memegang uang 20.000. Ia meneguk salivanya dan tersenyum hambar. "Nanti mbak akan berusaha supaya pihak rumah sakit mau ngasi keringanan buat kita. Udah, kamu beli mie aja. Terus kalian makan yang kenyang ya, mbak tadi udah masak nasi."

"Iya, mbak." Seruni hanya menurut dan bergegas pergi ke warung.

"Farhan, kamu jaga Bara dan Mora dulu ya. Mbak Seruni lagi pergi ke warung. Mbak juga mau ke rumah sakit buat jemput dedek bayi." ucap Arum pada adiknya, Farhan.

"Dedek bayi mau dibawa pulang? Yeayy kita bisa main sama dia. Iya mbak, hati-hati ya. Cepet pulang heehe." Farhan terkekeh girang mendengar Arum akan pergi menjemput adik bayi mereka.

Saat sampai dirumah sakit, Arum melangkahkan kakinya ragu. Lagi-lagi ia melihat uang 20.000 yang sedang dipegangnya. Ia melangkah menuju meja resepsionis untuk bertanya mengenai administrasi.

"Permisi mbak, saya mau ambil adik bayi yang baru lahir 2 hari yang lalu." ujar Arum.

"Oh iya, tunggu sebentar ya mbak, saya cek dulu." setelah selesai membolak balik kertas, resepsionis itu segera membuka suara untuk berbicara. "Atas nama ibu Ratna, bayinya belum ditebus ya mbak, jadi mbak bisa membawanya pulang setelah menyelesaikan administrasi." ucap wanita berpakaian putih dinas itu dengan sopan.

"Em itu sus, boleh gak kalau saya bawa adek saya dulu. Uangnya akan saya bayar nanti, tapi nyicil. Boleh ya, sus." ujar Arum lembut.

Suster mengerutkan dahinya menatap Arum sinis. Senyumnya kini berubah menjadi sinis. "Maaf mbak, ini rumah sakit, bukan warung. Mbak gak bisa berhutang disini." tegasnya menaikkan sedikit suara.

"Tapi saya mohon, sus. Saya harus bawa adik saya pulang. Saya mohon, sus." rengek Arum sembari menggenggam lengan suster.

"Gak bisa, mbak, maaf. Ini sudah prosedur dari rumah sakit kami." suster itu berusaha melepaskan genggaman tangan Arum. Namun Arum tetap tidak menyerah dan tidak mau melepaskan genggamannya. "Satpam, satpam," panggil suster itu. Tampak 2 orang tegap tengah berlari ke arahnya. "Pak, tolong bawa pembuat onar ini keluar." ucap suster itu memberi perintah pada kedua satpam rumah sakit.

"Siap, mbak!" jawab kedua satpam dengan kompak.

DARANALINStories to obsess over. Discover now