“Trus kenapa kalo ada Sandra?! Biarin dia denger semuanya!” Sergah Arsa. Ia kini beralih menatap Sandra. “Dia juga harus tau kalo gak ada yang baik-baik aja diantara kita. Oh, lebih tepatnya, gak ada yang baik-baik aja dari gue.”

Sandra membalas tatapan Arsa. Dari binar matanya, ia bisa melihat jelas ada banyak hal yang ingin diceritakan. Sepanjang ia mengenal Arsa, ia tahu Arsa adalah seorang yang pendiam, tenang, tertutup dan tidak banyak bicara, serba terbalik dengan sifat-sifat Arka. Arsa tak banyak bicara, apalagi tentang perasaannya, selama ini, Arsa lah yang selalu mengerti dan bersikap dewasa. Semua orang tanpa sadar jadi mengandalkannya untuk mengurus ini-itu.

“Udahlah, percuma juga dijelasin. Gak akan ada yang ngerti juga.” Arsa bergegas pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.

Sandra hanya bisa diam saja ketika melihat Arsa pergi. Ia jadi merasa bersalah padanya. Selama ini, ia yang selalu curhat pada Arsa, meluapkan segalanya. Tapi ia bahkan tak pernah menanyakan bagaimana kabar Arsa atau apa yang cowok itu rasakan.

...

-<>-

“Ujian lo lancar kan tadi?”

Sandra menjawab dengan sebuah anggukan. Sedari tadi, ia hanya sibuk melamun, tak berbicara, atau menjawab satu pun pertanyaan dari Mira.

Mira menghela napas. “Trus kenapa lo murung gini sekarang?” tanyanya bingung.

Saat ini, Sandra dan Mira tengah duduk di salah satu meja di kantin belakang sekolah. Seharian berkutat dengan tumpukan soal membuat perut mereka keroncongan.

Tapi lihatlah yang terjadi pada Sandra sekarang. Biasanya, ia yang paling lahap menyantap soto ayam kantin kesukaannya, namun sekarang ia hanya mengaduk-aduk isi mangkuknya, tanpa memasukkan sesuap pun ke mulutnya.

“San, jawab dong,” desak Mira, “jangan bikin gue khawatir deh.”

Sandra mendesah berat. “Bang Arsa, Mir,” ucapnya, setelah lebih dari setengah jam tak bersuara.

Mira menautkan alis. “Bang Arsa kenapa?” tanyanya. “Oh, gue tau. pasto lo sedih kan karena Bang Arsa mau balik? Iya kan?” tebaknya, ia ingat kalau Sandra sempat bilang padanya Arsa akan berangkat besok.

“Bukan itu,”

“Trus apa?”

Sandra menoleh pada Mira, menatapnya sejenak, kemudian menceritakan pada cewek itu tentang segala yang terjadi kemarin. Tentang pertengkaran antara Arka dengan Arsa, isi DM instagram Arka, hingga Arsa yang mendadak jadi meledak-ledak.

“Gue ngerasa bersalah banget sama Bang Arsa,” ucap Sandra, “selama ini gue selalu curhat ke dia, apa-apa minta ke dia, tapi sekalipun gue gak pernah nanya apa yang dia mau, gimana perasaannya, gimana kabarnya. Gue ngerasa udah jahat banget.”

“Jujur gue sendiri gak tau harus gimana nanggepinnya.” Mira menolehkan wajah Sandra menghadapnya. “Tapi dari cerita lo, gue bisa nangkep satu hal.”

“Apa?”

“Mereka ribut karena Kak Chelsea, iya kan?”

“I-ya,” jawab Sandra, setengah berpikir, “trus apa hubungannya?”

Mira berdecak. “Ya jelas ada hubungannya dong. Sekarang gue tanya sama lo, selama yang lo lihat, Papa sama Mama lo ada pilih kasih gak ke Bang Arsa sama Bang Arka?”

Sandra menggeleng. “Enggak tuh, Mama sama Papa gak pernah ngebeda-bedain.”

“Kalo lo?”

“Gue lebih sayang Bang Arsa kemana-mana lah.” Pungkas Sandra.

“Oke, berarti masalah rumah aman kan? Sekarang tinggal urusan pertemanan-”

“Bentar bentar,” Sandra menginterupsi. Sedari tadi, ia tak paham maksud pembicaraan Mira. “Maksud lo apa sih sebenernya? Gue minta pendapat apa yang harus gue lakuin buat nyelesaiin ini, tapi lo-nya malah berbelit gitu ngomongnya.”

Mira menghela napas. “Gue lagi nyari akar masalah dari perselisihan mereka,” terangnya, “menurut gue, masalah model gitu bisa muncul karena tiga hal, keluarga, pertemanan, atau cinta. Tadi lo bilang masalah keluarga aman kan?” Mira mengulangi pertanyaannya lagi.

“Aman.”

“Trus pertemanan?”

“Dari SD sampe SMA, Bang Arsa sama Bang Arka satu sekolah. Gue gak terlalu tau sih temen-temen mereka gimana,” jelas Sandra, “eh tapi kan, Bang Arsa masuk kelas aksel, jadi lingkup pertemanannya juga sedikit beda. Lo tau kan, grup anak-anak ambis.”

“Iya, gue paham.” Sahut Mira. “Berarti kemungkinan kedua 50:50 ya, bisa jadi iya, bisa jadi enggak. Trus yang kemungkinan ketiga, cinta. Mereka sama-sama suka sama cewek yang sama kan? Kak Chelsea.”

Sandra mengangguk. “Mereka juga jadi ribut gara-gara DM-DM Kak Chelsea,” ia menambahkan.

“Fix, berarti akar masalahnya itu.” Mira menyimpulkan. “Berarti kalo lo mau selesaiin masalahnya, lo harus mulai dari sana dulu.”

“Gue makin gak paham sama omongan lo.” jujur Sandra.

“Haduh, Sandra, masa gak ngerti-ngerti sih?!” gemas Mira. “Ini tuh masalah cinta segitika antara seorang cewek dan dua cowok. Dan dimana-mana, kalo mau ngelarin masalah ginian ya tanya ke si cewek, dia maunya sama siapa.  Paham?” jelasnya. “Ya, gue gak ngejamin cara ini bakal amppuh buat bikin mereka berhenti bertengkar. Tapi paling enggak, gak ada pihak yang digantungin kan, dengan begitu semuanya jadi jelas.”

“Masalah ini jauh lebih rumit dari yang lo bayangin.” Lirih Sandra. Jika ini hanya masalah tentang perasaan Arka-Arsa-Chelsea saja, mungkin akan selesai dengan cara yang disarankan temannya tadi. Tapi ia juga tak boleh melupakan Papanya Chelsea, pria berkuasa itu ada di tengah-tengah sebagai halangan besar. Entah Arsa atau Arka yang dipilih Chelsea nanti, dampaknya akan sama saja.

Papanya Chelsea sudah terlanjur tidak menyukai Arka dan keluarganya, dimana Arsa juga termasuk di dalamnya.

Masalahnya jadi sangat rumit sekarang.

Saking rumitnya sampai-sampai Sandra tak tahu bagaimana menyelesaikannya.

TBC

Semoga kalian suka chapter ini yaaa

Ikuti terus kelanjutannya

Terimakasih sudah membaca

Jangan lupa vote dan ramein kolom komentar yaaaa

Sampai jumpa di chapter selanjutnya
🤗🤗🤗

LYSANDRA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang