Intro: Pain, get away

82 8 0
                                        

Yuda.
Kamu tahu betul kalau followers bukanlah alasan kamu mulai menulis. Juga bukan orang yang akan selalu di sampingmu saat kamu menulis aksara yang katanya sampah, ampas atau apalah itu. Tapi kadang keyakinan emang perlu ada kan, supaya kamu tetap bisa bangun meski jatuh berulang kali.

Terhitung beberapa bulan sejak kamu buka akun, followersmu tetap 5 akun. Engga berubah. Mungkin nanti bisa kamu temukan 2 akun ternyata milik sahabatmu. Mereka diam-diam selalu memperhatikan wall akunmu karena memang gaada satupun cerita yang kamu publish, padahal aku tahu betul kamu selalu nabung beberapa chapter entah untuk apa.

Teruntuk Yuda, anak tengah Bapak Yudis.

Kamu berharga, sekalipun ayahmu bilang kamu hanya rumput liar di taman yang Ia bangun. Tak apa, sekalian saja kita buat savana yang lebat biar ayahmu tahu bahwa kamu juga indah.

Malam ini, entah kenapa wall akunmu kosong. Pun beberapa cerita yang pernah difavoritkan. Lalu selang lima belas menit, akunmu menghilang. Tak dapat ditemukan lagi. Meninggalkan tanda tanya bagi followersmu yang sedikit ini.

Baik-baik saja kah?

Puluhan telfon dari beberapa hari yang lalu tak pernah kau angkat. Kamu menyebalkan, berada di garda depan pada saat terburukku tapi malah diam saja saat semua hal ngga adil terarah padamu. Satu doa ku langitkan malam ini.

Luka, menjauhlah.

TristitiaWhere stories live. Discover now