Prolog

51 13 27
                                        

Embun pagi masih turun menyelimuti area persawahan. Ayam jantan bersahutan saling menyapa dengan berkokok. Kepulan asap sudah terlihat dari atap dapur sebuah kedai kecil penjual sarapan.

"Ory, sudah siap belum?" tanya seorang wanita paruh baya kepada anaknya.

"Sebentar  lagi!!" teriak Oryza dari dapur belakang.

Oryza adalah Anak semata wayang dari keluarga sederhana di sebuah kampung daerah jawa tengah. Usianya kini telah beranjak 20 tahun, usia yang pas untuknya meneruskan perguruan tinggi. Namun, dirinya enggan untuk melanjutkan kuliah karena ingin bebas menekuni dunia kuliner. Ayahnya bekerja sebagai petani yang giat mencetuskan inovasi-inovasi baru di bidang pertanian. Meski seorang petani, ayahnya adalah lulusan S1 di salah satu universitas ternama jurusan pertanian, maka tidak heran jika beliau sering mencetuskan beberapa inovasi yang bermanfaat bagi petani-petani di sekitarnya. Sedangkan, ibunya memiliki usaha kedai makanan yang menjual beraneka jenis makanan dari seluruh Indonesia.

Bagi sang ibu, kedai itu bukan sekadar warung makan biasa. Beliau mendirikan kedai itu atas dasar kecintaannya kepada dunia kuliner nusantara. Menurutnya, memasak bukan cuma asal mencampurkan bahan makanan dan bumbu-bumbu sesuai resep. Akan tetapi membutuhkan sentuhan cinta agar makanan tersebut memiliki cita rasa yang luar biasa.

"Ini bu, sop ayam lezat. Dibuat persis seperti yang ibu masak," ucap Oryza menyodorkan semangkuk sop ayam kepada ibunya. Aroma harum dari kaldu ayam langsung menyeruak masuk ke hidung. Membuat siapa pun yang mengciumnya menjadi lapar.

Ibu pun mencicipi sedikit kuah sop tersebut menggunakan sendok. Pengalamannya di dapur menguji seberapa enak masakan yang dibuat anaknya. Sedikit jeda dilakukan untuk mencerna setiap detail bahan yang dipakai dalam pembuatan sop tersebut. Persis seperti resep yang sering ia sajikan.

"Oke, tapi masih ada sedikit rasa yang kurang," ucap sang Ibu.

"Kurang? Apa yang kurang?" Oryza pun lantas mengambil sendok dan mencicipi masakannya. Ia merasa bahwa sop yang ia buat persis seperti yang selama ini dibuat oleh ibunya, "perasaan, rasanya sama," ujarnya lagi.

Ibunya tidak berkomentar lagi dan bergegas ke dapur. Dengan cekatan beliau memasukkan bahan-bahan ke dalam panci air yang mendidih. Membuat kembali sop ayam yang sama dengan buatan Oryza. Tak berapa lama hidangan pun sudah siap disajikan. Oryza mencoba sop ayam yang dibuat ibunya. Betapa terpananya ia saat mecicipi sop ayam itu. Begitu lezat sampai sendok yang ia pegang terlepas dari genggamannya.

"Bumbu rahasia itu terletak di sini." Ibunya lalu menunjuk dada Oryza dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Oryza tidak mengerti soal perkataan ibunya. Seharian ia membantu mengurus kedai sembari memikirkan perkataan itu. Tak ada jawaban yang bisa ia dapatkan seharian. Yang Oryza tahu, ibunya hanya memasukkan bahan-bahan yang sudah sangat hafal di hadapannya. Tidak ada sedikit pun ibunya mengeluarkan rahasia yang dimaksud. Sampai malam tiba, ia kembali bertanya mengenai rahasia yang sejak pagi mengganggu pikirannya.

"Ibu, aku masih tidak bisa mengerti tentang perkataanmu tadi pagi," ucap Oryza sambil melahap nasi goreng spesial buatan ibunya.

"Perkataan yang mana?" tanya Ibu.

"Soal rahasia sop masakan ibu." Oryza sangat lahap memakan nasi goreng ibunya tersebut. Meski bahan-bahan yang digunakan adalah sisa dari jualan yang tidak habis dipadu bumbu-bumbu nasi goreng biasa, Oryza tetap merasa kalau nasi goreng itu sangat berbeda dengan nasi goreng lain yang pernah ia coba.

"Oh, soal itu. Sekarang, ibu mau tanya. Umur kamu berapa?"

"20 tahun."

"Lalu, sudah berapa jenis makanan yang pernah kamu makan?"

"Banyak. Ada rawon, soto, rendang, semur, sate, dan masih banyak lagi. Semua ibu buat dengan sempurna."

"Nah, menurutmu kenapa ibu bisa masak semua itu?" Pertanyaan demi pertanyaan semakin menyudutkan Oryza.

"Karena ibu punya resepnya?" jawab Oryza.

"Salah."

"Karena ibu pernah mencicipi semua masakan itu di tempat aslinya?"

"Salah juga. Ibu bisa memasak itu bukan hanya karena pernah berkeliling Indonesia mencicipi semua hidangan itu," sahut sang Ayah yang dari tadi menyimak pembicaraan istri dan anaknya.

"Lalu apa, Yah?" tanya Oryza.

"Kamu tau gak, kenapa sampai sekarang ayah cuma jadi petani padahal ayah seorang sarjana?" tanya ayah mulai ikut perbincangan.

"Karena ayah cinta sama pekerjaan itu. Bahkan saking terobsesinya, sampai anak sendiri dikasih nama padi. Hahaha." Oryza menjawab dengan sangat lancar. Karena sejak kecil selalu diberi petuah-petuah mengapa ayahnya jadi petani.

"Tepat sekali. Seperti itulah gambaran ibumu," jawab Ayah.

Perlahan Oryza mulai memahami maksud dari keluarganya itu. Akan tetapi, ia masih belum menemukan jawaban soal masakan ibunya yang lebih lezat dibandingkan masakannya. Meski resep dan cara pembuatannya sama.

Setelah selesai makan, Ayahnya menyuruh Oryza untuk membereskan beberapa setel pakaian untuk dimasukkan ke dalam tas ransel miliknya.

"Untuk apa, Yah?" tanya Oryza.

"Lakukan saja. Ada yang mau ayah berikan," jawab Ayah.

Pakaian pun sudah rapih di dalam tas. Tidak lupa ia memasukkan peralatan mandi seadanya. Oryza hanya bisa menerka-nerka sesuatu yang akan diberikan ayahnya. Sebab, sejak kecil dirinya tidak pernah diberikan barang atau sesuatu dengan cara seperti ini. Ia lebih sering menerima sesuatu tersebut dari hasil kreatifitas ayahnya.

"Sudah siap?" Ayahnya tiba-tiba datang ke kamar Oryza untuk memberikan sesuatu itu.

"Sudah, Yah," jawab Oryza.

Sang ayah membawa sebuah kotak usang berwarna hitam yang tidak terlalu besar. Ukuran kotak itu sebesar buku tulis. Beliau lalu membuka kotak tersebut dan memperlihatkan isi di dalamnya.

"Ini adalah sebuah kotak jurnal. Sejak dulu Ayah pacaran sama Ibu, buku ini disiapkan untuk kamu saat sudah waktunya. Dan sekarang adalah waktu yang tepat," ujar ayah menunjukkan sebuah buku jurnal.

"Untuk apa, Yah?"

"Peganglah. Mulai sekarang, buku ini yang akan menemanimu mencari jati dirimu. Kamu pasti masih tidak mengerti, kenapa masakan ibumu jauh lebih nikmat darimu. Semua pertanyaanmu ada di sini." Dengan perasaan bingung, Oryza pun menerima buku itu, "kereta api jurusan Surabaya akan tiba 2 jam lagi. Petualanganmu akan dimulai dari sana," lanjut sang Ayah.

Oryza lalu mengemas kembali barang-barang yang tersisa. Pisau dapur kesayangannya tidak pernah bisa jauh darinya. Petualangan yang dimaksud ayahnya pun belum sepenuhnya ia mengerti. Namun, yang pasti sejak malam itu petualangannya akan segera dimulai.

"Surabaya ... mari kita mulai." 

OryzaWhere stories live. Discover now