Prolog

57 5 7
                                        


"Mari kita akhiri hubungan ini."

Sejak tadi Milana hanya diam.

Ditatapnya sepasang cangkir yang isinya baru berkurang sedikit dan sepiring donat dihadapannya yang belum tersentuh dengan tatapan kosong. Seakan ada gelembung besar yang melingkupi dirinya. Seketika keriuhan di dalam kafe lesat seperti uap panas dari cangkirnya yang telah menghilang sejak tadi. Sunyi—sehampa isi hatinya.

Lelaki yang duduk di depannya ikutan membisu. Wajahnya tertunduk ke bawah setelah dia menjatuhkan sebuah pernyataan yang kekuatannya menyamai bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dalam hitungan detik, meluluh lantakkan hati Milana menjadi serpihan. Lelaki itu tanpa tedeng aling-aling minta putus.

Seluruh persendian Milana terasa lemas, rasanya seluruh tulang yang menyangga tubuhnya telah lapuk. Hampir membuat tubuhnya merosot, kalau tidak dia menahan diri. Gadis itu mencengkram erat pinggiran sofa berbahan suede sampai ujung-ujung jemarinya terasa perih, sembari menahan aliran panas di kedua matanya yang siap meledak kapan saja tapi dalam hatinya Milana menguatkan diri untuk tidak menangis di hadapan Raka.

Jangan menangis...jangan sekarang.

"...tak bisakah kita memperbaikinya?" Milana mengeluarkan suara. Dia harus tahu apa alasan Raka.

Kepala Raka terangkat dan menatap Milana dengan tatapan sendu. Kemudian, menggelengkan kepalanya pelan. "kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini."

Cengkraman tangan Milana di pinggiran sofa mulai melonggar. Dia menghela napas panjang. Berusaha meredakan gemuruh di dadanya. "aku tak pernah memintamu untuk segera menikahiku." Akhirnya perkataan itu meluncur dari bibir Milana. Membuat goresan kecil di hatinya. "Selama kita bersama. Apa pernah aku mendesakmu? Nggak, kan?" intonasi suara Milana mulai naik.

"Memang nggak," Raka mengetuk-ngetuk pinggiran meja dengan ujung jemarinya. Lelaki itu terlihat mengatur emosinya yang juga mulai naik. "tapi akan ada saatnya kamu akan memintaku untuk menikahimu dan aku belum siap untuk semua itu. Masih banyak yang kuimpikan, Lana. Aku satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Jadi, kamu tahu seperti apa kan posisiku?"

Cengkraman jemari Milana di pinggiran sofa kembali mengetat. Luapan emosi yang sudah dia tahan muncul ke permukaan. Dia mencegah dirinya untuk tidak menumpahkan isi dalam cangkirnya yang masih utuh itu ke atas kepala Raka. Milana ingin menjaga harga dirinya di hadapan Raka. Dia tidak mau terlihat lemah atau bahkan bodoh. Meskipun, lelaki itu telah mengatakan perkataan yang membuat hatinya terasa kebas.

Ada perasaan sedih bercampur kecewa yang bercokol dalam dadanya. Seperti inikah lelaki yang selama ini dia cintai?

Dadanya terasa sesak dan napasnya terasa berat. Seperti ada tekanan besar yang menekan dadanya sampai membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kemudian, Milana berdiri dengan cepat dan melemparkan ekspresi dingin kepada Raka. "Kamu mau putus, kan? Ayo kita putus!"

Milana membalikkan badannya dan pergi begitu saja. Tanpa berniat untuk menoleh kembali.

Meninggalkan Raka yang sudah membuat lubang besar di hatinya.

MilanaKde žijí příběhy. Začni objevovat