Suara kertas yang saling bersahutan dengan pria paruh baya yang sibuk menghitung uang yang berada dalam tangannya itu seraya menghela napas gusar membuat gadis yang diketahui namanya yaitu Aletha menjadi khawatir.
Dapat ia tebak, jika gaji sang ayah tidak lah cukup untuk membeli bahan yang diperlukan bulan ini. Kini pendapatan mereka sangatlah minim, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak Ibunya di pecat karena dituduh hal yang tidak Ibu lakukan sama sekali. Betapa kejam dunia bisnis, bukan?
Pundak Aletha ditepuk dari belakang. "Kak, gimana? Proyek kita jadi, kan?" tanya Alessa, sang adik.
Dengan senyuman Aletha mengacungkan jempolnya. "Tentu saja!" jawabnya semangat.
Tidak perlu menunda-nunda hal yang baik, kan? Kini, Aletha bersama Alessa sedang berdiskusi tentang komik yang akan di unggah di salah satu aplikasi yang akan mendapat kontrak, tentunya setiap bulan dapat gaji.
Aletha yang hobby menulis Novel itu, sedang membuat jalan ceritanya, sedangkan Alessa yang akan menggambarnya.
Tekad mereka sudah bulat untuk membantu ekonomi keluarga agar tercukupi, supaya tidak di remehkan oleh orang lain.
Sekolah ditutup sebab terjadi tanah longsor yang hampir menimbun sekolah mereka itu. Tapi sebagai gantinya mereka sekolah online melalui alat bantu yaitu, handphone.
Aletha yang awalnya sangat rajin belajar, sekarang berbanding terbalik, ia bahkan hanya mengerjakan 4 tugas dari sekian banyak tugas yang diberikan sang guru. Tak heran kalau Alessa juga begitu.
Tangan Alessa menuntunnya diatas kertas kemudian mengukir sesuatu di sana. Setelah selesai, gambar itu akan difoto lalu diedit sesudah itu barulah di upload.
"Kak! Dipanggil Mama. Kalau tidak handphone kakak disita!" seruan dari balik pintu membuyarkan imajinasi Aletha.
Selalu saja diganggu di waktu yang tidak tepat. Inilah yang membuat black Aletha muncul. Alessa yang mengetahuinya pun berusaha agar kakak sulungnya itu tidak membuat ulah. Sudah susah begini jangan nambah kesulitan lagi. "Kak, maksud Mama itu baik. Sepanjang hari ini 'kan Mama lihat kakak main HP terus," sambung Alessa. "Kasian Mama sama Papa udah capek, dan kakak tidak nurut sama orang tua?"
Seketika Aletha terdiam. Pikirannya kini ingin membalas dendam kepada mantan teman kerja Ibunya, yang membuat keluarganya menjadi miskin. Tapi sebelum mencari kebenaran, ia ingin menunjukkan bahwa keluarganya bisa bangkit dengan usaha Aletha dan Alessa yang membantu.
Rasa kesal sedikit meredah dari hatinya. Bagaimanapun juga ia menyayangi keluarganya walaupun kadang emosi melanda nya dan berakhir dengan membantah kedua orang tuanya bila menganggu aktifitasnya. Sebut saja itu sisi black Aletha.
Kepala Aletha dan Alessa mengintip kearah dapur yang terdengar suara keributan. Nampak sang adik bungsu meminta rendang sapi kepada Ayah yang tengah memijit batang hidungnya. Sementara itu Ibu menceramahinya karena menuntut yang tidak ada. Hal itu tentu saja membuat wajah mereka murung.
Aletha berjanji, uang yang akan mereka dapat dari usaha itu akan digunakan untuk keperluan keluarga. Ia tidak boleh egois dengan menghamburkan uang dengan membeli hal yang tidak berguna.
"Kak, ayo! Makan bersama," ujar Alexa yang melihat kedua kakaknya hanya melirik dari pintu.
Tiba-tiba Alessa memukul kepada Alexa pelan. "Jangan asal meminta seperti itu, adikku sayang!"
"Aduh! Mama, sakit!" adunya.
Adela balas mencubit kuping anak keduannya itu. "Sudah Mama katakan berulang kali. Jangan memukul adik sendiri!" ucap sang Ibu yang emosian itu.
YOU ARE READING
Rembulan Sendu
Teen FictionRembulan Sendu. Kata yang cocok untuk Aletha yang memiliki penjelasan tersendiri. Rembulan, dikarenakan Aletha sangat menyukai bulan. Sendu, karena wajah dan suasana hatinya yang hampir diliputi perasaan sedih. Agen Rahasia, adalah pekerjaan dari A...
