Teman Sebangku (Cerita Pendek)

15 2 0
                                        

Empat belas tahun yang lalu, aku bertemu seseorang yang dari awal aku melihatnya aku sudah tau kalau dia adalah maniak tentara, dari postur tubuhnya yang tegak, gaya rambutnya yang pendek, sampai cara bicaranya yang lantang. Mungkin sejak kecil cita-cita dia adalah tentara, atau mungkin pikiran nya sudah didoktrin jadi tentara sejak kecil.

Aku melihat dia berbaris paling depan dibarisan kelasku, saat itu kita sedang menerima pengarahan dari kepala sekolah untuk kegiatan pembelajaran yang baru di sekolah menengah pertama, setelah selesai mendapat pengarahan kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah.

Dia orangnya pendiam, tapi selalu memperhatikan, mungkin orang tidak akan sadar kalau mereka berpapasan dengannya di minimarket. Kami diarahkan kedalam tiga ruang kelas yang dibuka penghalangnya sehingga terlihat menjadi satu ruangan utuh.

Lalu pak Yanto guru di sekolah kami yang menjadi pembawa acara hari ini memulai acaranya. Dibagian pertama kami diperlihatkan fasilitas yang ada disekolah baru kami, kami diberikan materi kepemimpinan, narkoba dan pergaulan bebas. Pada saat akhir acara pak Yanto meminta agar ada murid yang mau menyimpulkan kegiatan hari ini.
Keadaan yang tadinya bising menjadi sunyi, lalu pak Yanto mulai menunjuk salah satu murid “iya kamu yang di tengah sini maju, yang duduknya tegak rambutnya pendek” ternyata pak Yanto menunjuk dia yang kulihat tadi pagi berbaris di barisan paling depan.

Dengan berani dia berdiri dan maju kedepan, ketika sampai di depan dia mengambil microphone dan memperkenalkan diri “siap izin memperkenalkan diri, nama saya kevin Prasetyo dari kelas tujuh dua” dari situlah aku tahu namanya. Setelah selesai menjelaskan kegiatan hari ini kami pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya kami diajak keliling sekolah oleh para OSIS dan diberitahu kelas kami dimana, gedung sekolah kami berbentuk seperti huruf L dengan tiga lantai, kelas ku berada dilantai satu letaknya di sebelah kanan dari pintu masuk sekolah, melewati dua kelas baru sampai dikelas ku kelas tujuh dua.

Saat aku masuk kelas aku memilih untuk duduk di depan karena aku susah menerima pelajaran jika duduk dibelakang, aku memilih meja kedua dari kiri, saat meletakan tas dari ekor mataku melihat ada orang yang datang ke arah ku, lalu aku menoleh dan ternyata itu adalah Kevin, dengan menjabat tangan dia bertanya.

“Hai gua Kevin” spontan aku menjawab
“hai gua Aksa”
“bangku ini kosong gak?” tanya kevin sambil menunjuk bangku disebelah ku
“kosong” jawabku
“gua boleh duduk di sini?”
“boleh boleh, duduk aja”

Sejak hari itu kita berteman dan menjadi teman sebangku, dia adalah teman yang selalu mendengarkan apa yang aku ceritakan, dia adalah teman yang lebih memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri, dia adalah teman yang selalu ada untuk mendukung temannya.

Sampai pernah disuatu kejadian saat ulangan kami berdua memutuskan untuk melihat buku di bawah meja karena saat itu pelajaran yang sulit bagi kami yaitu matematika, karena aku yang ceroboh dan selalu melihat ke depan saat ingin melihat buku, membuat guru pengawas pun curiga, dan dia menghampiri kami dan memergoki kami sedang menyontek.

Citra ku yang dikenal sebagai anak baik yang tidak pernah menyontek pun tercoreng, nama baik ku dan Kevin dipertanyakan, lalu Kevin yang melihat ku murung seketika berdiri dan menghampiri guru pengawas.

“Bu, yang melihat buku saya saja Aksa tidak ikutan” ucap Kevin yang membela ku
“yang bener kamu Kevin, nilai ujianmu ibu kasih dibawah KKM dan ibu kecewa sama kamu” ucap Bu guru
“Aksa sekarang kamu pindah tempat duduknya, jangan duduk sama Kevin”

Kita pindah tempat duduk hanya pada saat ujian, sehari hari kami tetap menjadi teman sebangku, kami selalu bercerita hal-hal yang tidak penting, kami sama-sama menyukai anime sehingga obrolan kami pun terasa menyenangkan.

Kami juga berbicara tentang hubungan asmara kami, bagaimana aku yang tidak pernah langgeng saat pacaran, dan Kevin yang selalu ditolak oleh wanita yang dia suka, kami jarang sekali bertengkar, mungkin hampir tidak pernah, dia menjadi satu-satunya sahabat ku di lingkungan baru ini. Kevin mengajak aku untuk  ikut seleksi organisasi siswa intra sekolah.

Aku tidak mau karena aku adalah anak yang kurang aktif kegiatan, aku terlalu takut untuk berbicara didepan, namun Kevin bilang

“kalau kamu tidak bisa mengalahkan ketakutan mu, maka kamu tidak akan pernah mengenal dirimu”

Aku merenungkan perkataannya dan aku mengumpulkan niat untuk mengikuti seleksi OSIS tersebut, dengan modal nekad kami mengikuti seleksi OSIS tersebut dan tidak dapat dipercaya, kami diterima menjadi kandidat OSIS. Lalu Kevin mengundang ku ke rumahnya bersama dua teman ku yang sama-sama terpilih menjadi OSIS yaitu Rama dan Zidan, pada hari Minggu.

Minggu pun tiba, aku yang menggunakan baju hitam dengan mengendarai motor berangkat ke rumah Kevin, saat aku tiba di sana, ternyata dugaan ku benar, dia orang berada, rumahnya dua tingkat berwarna putih dengan mobil yang terparkir di depan terasnya.

Saat aku menekan bel seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kekar datang dari dalam.
“Iya cari siapa ya dek?” tanya bapak-bapak tersebut
“eeee ini benar rumahnya Kevin pak?” tanya Ku
“iya benar, saya ayahnya”

Dan dugaan ku yang lainnya Benar dari postur tubuhnya sudah terlihat kalau ayahnya adalah tentara, ternyata sifat maniac tentara nya Kevin diajarkan oleh ayahnya, dengan memakai kaos loreng dan celana pendek berwarna hitam, ayahnya mengantarkan ku ke ruang tamu dan menyuruhku menunggu , lalu dia memanggil Kevin yang berada dilantai dua.

“kevin… Kevin…ini ada teman mu”
“iya yah sebentar” saut Kevin dari lantai dua

Kevin pun turun lalu Rama dan Zidan pun datang, kami menikmati perayaan kecil ini dengan canda tawa yang tidak terlupakan sampai kami dewasa nanti. Kevin pun bercerita tentang kehidupannya.

“cita-cita gua ingin menjadi tentara, ini bukan karena ayah gua juga tentara, tapi karena tentara itu keren menurut gua, membela negara dengan segenap jiwa, pantang pulang sebelum menang, gua memiliki cita-cita sebagai tentara semenjak gua kecil”
“udah tau Vin, keliatan dari cara lu duduk sama berdiri aja tegak banget” ucap ku yang sudah tau dari awal dia masuk sekolah
“kalo cita-cita lu apa sa?”
“cita-cita gua mungkin jadi pengusaha”
“Kok mungkin?” tanya Zidan
“Iya dan masih belum tau dengan pasti soalnya”

Kami pun melanjutkannya dengan makan ayam Kentucky yang dibeli ayahnya Kevin saat kita berbincang tadi. Hari pun menjelang sore, kami bersiap-siap untuk pulang. Satu tahun kemudian tiba saatnya kita berpisah atas nama perpisahan sekolah, cerita kita tamat dipucuk kertas.

“vin makasih udah jadi sahabat yang selalu ada, makasih udah dengerin cerita gak jelaa dari gua, makasih udah belain gua waktu kita ketahuan nyontek kalo gak ada lu mungkin nama gua udah di cap jelek sama guru, makasih banget Vin, gua harap suatu saat kita bertemu pas udah menggapai cita-cita kita masing-masing, gua jadi pengusaha, lu jadi tentara”

“Aamiin, santai aja kali sa, makasih juga udah jadi sahabat gua, sedikit orang yang mau berteman sama orang yang menggilakan tentara kaya gua, makasih selalu ada”

Sekarang sebelas tahun kemudian kita bertemu lagi. Kevin mengundang ku ke acara pernikahannya, namun tak dapat dipercaya, kalau mempelai wanitanya adalah Zea orang yang aku suka saat SMK yang menutup hatinya dan akhirnya kita berpacaran selama dua tahun.
Ternyata orang tua Kevin dan Zea adalah colega, dan mereka menjodohkan Kevin dan Zea.

“Kevin selamat ya, akhirnya kita bertemu lagi, lu udah jadi tentara dan gua udah jadi pengusaha. Kita menepati janji kita sebelas tahun yang lalu”
“sa, maaf gua gak bisa ngelawan orang tua gua, gua juga pasrah dijodohkan makasih udah Dateng ya” ucap Kevin kepada Aksa yang terlihat berkaca-kaca

“zea, jadi ini yang kamu maksud suatu saat aku akan mengerti apa yang kamu bilang waktu itu?”
“iya sa, sekarang kamu udah tau alasan aku menutup hati, aku udah tau kalau aku akan dijodohkan jadi makasih udah menjadi satu-satunya kenangan dihidupku”

Teman Sebangku (Cerita Pendek)Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon