hello 😘✌️
⚪meet Laurel⚪
Selamat membaca kawan hehe..
***
Lokasi: Kantin sekunder SMA Glorisius
"Ca." Panggil Laurel. "Lo kenal?" tanyanya sambil menunjukkan layar ponselnya pada Eca.
Eca mencondongkan tubuhnya. "Max Alvarez? Ooh..."
Kemudian Eca menautkan alisnya. Matanya tiba-tiba membulat. Ia memekik histeris, "Max Alvarez follow request lo?!"
Gadis berambut sebahu itu menyambar cepat ponsel Laurel.
"Ca!" seru Laurel kaget sambil mencoba merebut ponselnya balik.
Gadis yang dipanggil itu menjauhkan tangannya. "Bentar Rel! Perlu gue cek dulu kebenarannya!" balas Eca heboh.
"Bener Rel! Ini akun asli dia!" Eca menunjuk layar ponsel Laurel sambil melompat-lompat kegirangan.
"Terus?" tanya Laurel heran.
"Terus?! Lo tanya terus?! Mau gue tabrak ha?!" teriak Eca masih tidak percaya.
Laurel menepok keningnya sambil menggeleng. Malu sekali! Sekarang bisa dibilang mereka menjadi perhatian satu kantin. Gadis yang rambutnya sedang dicepol dengan jedai pink pastelnya itu merebut balik ponselnya kesal.
"Kok bisa Rel?! Ada hubungan apa kalian? Kenapa lu gak kasih tau gua sih, Rel? Takut gue tikung ha?! Tenang gua sukanya sama temennya." Eca menggebu-gebu.
Laurel menutup telinganya sambil memicingkan matanya. "Sumpah dah Ca, pengumuman bioskop kalah sama suara lo," ceplos Laurel kesal.
Eca menyengir sambil memainkan alisnya. "Menggelegar ye?" Laurel hanya mendengus kesal.
Kemudian gadis itu kembali menggeprak meja kantin mereka. "Tapi serius Rel! Ini berita menggemparkan, okay?!" ujar Eca dramatis.
"Kenapa nih?" Itu suara Valerie yang baru saja menempati meja kantin.
"Max follow request Laurel!" jawab Eca cepat dengan antusias.
Valerie mengerjapkan matanya sebentar. "Oh," balasnya datar.
Eca menatap Valerie tidak percaya. "Reaksi lo mengecewakan!" serunya tidak terima.
Valerie sendiri hanya memutar bola matanya malas. Memang di antara ketiganya, Eca yang paling heboh, apalagi kalo lagi ngomongin cogan. Uhh... juaranya cewek itu.
"Rel!" panggil Eca lagi. "Jawab dong ah! Gimana ceritanya? Kok bisa?!" desak Eca sampai menggoyangkan meja kantin yang mereka tempati.
"Aduh!"
Laurel menggaruk rambutnya kesal, mulai risih dengan Eca yang terus membahas cowok yang bernama Max itu.
"Max orangnya yang mana aja gua gak tau Ca!"
Tanpa disangka Eca mendobrak meja yang sedang mereka duduki. "HAH?! LO GAK KENAL MAX?!"
"Maximus Alvarez Putra?! Lo gak kenal?!" seru gadis itu lagi.
Laurel melotot kaget. Ia langsung mengedarkan pandangannya dan benar saja semua orang memperhatikan mereka.
Valerie sendiri sudah mengangkat mangkok baksonya siap minggat dari meja ini.
"Demi neptunus! Lo gak kenal Max?!" Eca masih tidak percaya. Kalo di film animasi mungkin rahang perempuan itu sudah mencapai lantai.
"Astaga Rel!" Eca menggeleng kepalanya. "Gua ngerasa gagal menjadi teman lu selama ini."
Laurel dan Valerie sudah menatap Eca geram namun mulut gadis itu seperti motor yang baru diisi bensin full tank. Ngegasss mulu!!
"Nih ya, gue didik lo Laurelia Vernande Gomez!" Eca berucap gemas. "Nama Max itu besar banget di sekolah ini. Pokoknya dia itu bisa dibilang sem-pur-na. Udah ganteng banget! Pinter banget! Skill basket gak usah ditanya! Cuman satu sayangnya," jedanya.
Laurel menaikkan alisnya menunggu perkataan Eca selanjutnya.
"Emosian."
"Tapi ganteng hehe, jadi no problem," timpalnya lagi.
"Kita aja sering bahas dia! Jadi selama ini lu gak dengerin kita?!" kata Eca.
"Bukan kita tapi elu," ralat Valerie.
"Okay, fine. Gua doang." Ralat Eca ulang sambil menatap Valerie kesal yang sama sekali tidak mendukungnya. "Tapi setidaknya lu kenal kan sama dia, Val?"
"Cowok songong dan emosian itu. Cih," cibir Valerie.
"Itu daya tariknya Val. Lo tuh harus berguru sama gue," balas Eca serius sambil menggeleng kepalanya.
"Hadehh... untung lo berdua kenal sama gue," lanjut Eca.
Valerie menatap jengah temannya yang kelewat percaya diri itu.
"Mana sih?! Sini liat orangnya yang mana!" Lama-lama Laurel greget sendiri sama teman hits nya ini.
Eca pun membuka handphonenya. "Nih! Gue sempet foto dia waktu bazaar kemaren." Eca tampak menggigit bibir bagian bawah sanking gemasnya.
"Bon appètit!" Eca mengulurkan layar ponselnya ke arah Laurel.
Melihat foto yang ditunjukkan Eca, mata Laurel langsung membulat terkejut. Dia yang namanya Max?!
"Berkat keahlian fotografi gue, foto ini gue kirim ke grup fanbase Max, terus udah di repost lebih dari 50 kali! Gila gak tuh?" terang Eca, bangga.
"Gimana? Ganteng kan?" tanya Eca sambil memainkan kedua alisnya.
"Gak sama sekali!" jawab Laurel cepat.
Eca melongo tidak percaya. "Mata lo kelilipan balsem hah?"
"Percuma ganteng, tapi kelakuan nol!" seru Laurel kesal.
"Ya tapi ganteng kan?!" desak Eca lagi sambil mencondongkan wajahnya.
Laurel menggeleng cepat. "Jijik gue sama tingkahnya!"
Eca menatapnya tidak terima. "Tarik balik ucapan lo Laurelia Vernande Gomez!"
"Gue akui dia memang ganteng," tutur Laurel. "Tapi tingkahnya..." Gadis itu mengacungkan jempolnya ke bawah, "gak banget!"
"Tingkah apa sih?! Jelas-jelas dia sebelas dua belas sama malaikat."
"Iya, malaikat pencabut nyawa!" sambar Laurel.
Eca kembali menatapnya kesal. "Enak aja! Dia tuh ciptaan Tuhan yang paling mulia di dunia ini," ujar Eca hiperbola.
"Aduh, gemes banget gua sanking gantengnya!" lanjut Eca sambil menghentakkan kakinya.
"Iya gemes juga gue pengen robek sayapnya biar jadi malaikat disabilitas! Makan tuh ganteng!"
Eca ingin membalas ucapan Laurel tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. "Lo kenapa sih sensi banget sama dia?!"
Laurel menoyor kepala Eca ke belakang. "Dia loh yang gua ceritain kemaren!"
Eca menatapnya horor. "Dia?! Dia yang hampir lo tabrak mobilnya Rel?!"
"Lo serius? Lu gak kenapa-napa kan?" Panik Eca.
Laurel menggeleng bingung. Ada apa sih dengan Eca hari ini?
"Serius Rel?! Lo tau gak? Ah tau apa sih lo?" dengus Eca.
Laurel melotot tidak terima. Ingin membalas lontaran Eca namun perempuan itu kembali bercakap.
"Pernah sekali ada yang gak sengaja senggol dia, dan saat itu juga langsung diributin sama Max! Makanya serem sebenernya tuh orang. Pokoknya lu senggol dikit langsung dibacok sama dia."
"Tapi ganteng banget!" timpal Eca lagi-lagi sambil nyengir.
Laurel menatap Eca aneh. "Apa sih yang bagus dari sifat dia Ca? Gue gak ngerti sama sistem berpikir lo."
Eca memutar bola matanya. "Hellow? Gue bilang mukanya yang bagus, okay? Dan kalo muka bagus otomatis semua tentang dia bagus."
"Pasti anak nakal, ya kan?" tebak Laurel.
"Kata siapa lo?!" sewot Eca sambil menggeprak meja. "Emosian bukan berarti nakal."
Laurel berjengit kaget. Wah gila nih cewek..
"Max itu salah satu siswa berprestasi di sini. Sering borong piala! Selalu juara umum. Idamanlah pokoknya! Kebalikannya lo Rel!"
"Lo juga bego!" sambar Laurel tidak terima.
Eca mengacuhkan ucapan Laurel, gadis itu tiba-tiba senyam-senyum sendiri dengan pandangan menerawang. "Gue kalo jadi pacarnya sih bakal bangga banget anjir. Jadi selingkuhan atau simpenan juga gue gasss!" lanjutnya lagi bersemangat
Laurel mengangguk saja, ia sudah biasa dengan lontaran ngaco Eca.
"Tapi lo sukanya sama Alex kan?" tanya Valerie.
Eca mengangguk semangat. "Seratus untuk anda Nona Valerie."
"Tapi lo selalu kabur kalo deket dia. Dasar aneh!" cibir Laurel.
Eca menatap Laurel dengan tatapan malasnya. "Please deh, gue harus selalu jaga image kalo deket dia. Biar dia mengenal gue sebagai gadis anggun, cantik, dan bertalenta."
Sebelum Laurel ingin membalas ucapan Eca. Tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka. Dia adalah Calista, salah satu most wanted di SMA Glorisius dan juga ketua cheerleader di sekolah ini.
"Hi, guys!" sapa Calista, membuat Laurel dan Valerie menatapnya bingung. Sedangkan Eca yang memang kenal dengan semua orang menyambut Calista ramah.
"Ganggu gak nih?" tanya Calista, basa-basi.
Laurel dan Eca menggeleng. Sedangkan Valerie seperti biasa bersikap acuh.
"Kenapa, Cal?" Eca bertanya.
"Ini gue mau bagi-bagi undangan sweet seventeen gue," seru Calista sambil memberikan kepada mereka masing-masing undangan cantik berwarna hitam-emas.
Laurel dan Valerie saling berpandangan. Mengapa keduanya diundang? Padahal keduanya bisa dibilang tidak dekat dengan Callista.
"Jangan lupa dateng ya! Acaranya sabtu ini," ucap Calista ceria yang dijawab anggukan oleh mereka.
"Oh iya, tolong kasihin ke Max sama temen-temennya ya, Rel. Pleaseee," pinta Calista sambil memberikan 4 buah undangan kepada Laurel.
Laurel mengerjapkan matanya. "Gua?" tanyanya bingung sambil menunjuk hidungnya.
Calista mengangguk. "Kan lu deket sama Max. Iyakan, Rel? Jujur sih gue iri," ujarnya tidak rela.
"Engga kok," bantah Laurel sambil menggeleng cepat.
"Udah gapapa ngaku aja sama gue. Gue bukan fans fanatiknya Max kok. Lo gak bakal gue sekep di toilet kali." Callista tertawa kecil.
"Tapi emang engga, Cal."
Kening Calista mengerut bingung. "Kok aneh? Dia gak pernah follow orang duluan loh! Apalagi cewek!"
"TUHKAN!" seru Eca heboh, "gue bilang juga apa."
"Pokoknya gue titip lo ya, Rel. Gue bakal seneng banget kalo lo mau bantuin gue," ujar Calista.
Laurel menatap Calista bingung. Ia tidak enak untuk menolak Calista. "Tapi Cal-"
"Udah tenang aja Cal. Gue jamin Laurel bakal kasih undangannya ke Max." Eca menyahut sambil mengambil empat undangan itu.
Kedua mata Calista langsung berbinar mendengarnya. "Serius? Makasih ya guys. Gue duluan kalo gitu."
Eca mengangguk sedangkan Laurel menatap gadis itu tidak percaya.
"Ca!" seru Laurel saat Calista sudah berlalu.
Eca hanya cengengesan. "Kenapa cintaku?"
"Lo-" seru Laurel geram, "gue gak kenal sama Max Ca!"
"Ya udah kenalan sayang," balas Eca tidak mau ribet.
Laurel rasanya ingin menelanjangi gadis itu dan menggantungnya di tiang bendera sekarang juga. "Lo gampang ngomongnya!"
"Rel, chill okay." Tangan Eca bergerak naik turun seperti menyuruh Laurel untuk mengatur napasnya.
"Lo harus deket sama Max. Ini tuh takdir Rel!"
"Pala lo takdir!" sewot Laurel.
Eca menghela. "Rel, coba lo mikir,"
"Elo yang mikir Ca! Otak tuh dipake! Gue gak mau ya berurusan sama orang itu lagi!" semprot Laurel.
Eca berdecak sebal. "Ih dengerin dulu!" seru Eca membuat Laurel memendam kekesalannya dan menatap gadis itu nyalang.
"Gini ya, kalo lo deket sama Max. Otomatis gue bakal deket sama Alex. Demi gue Rel!"
Valerie geleng kepala mendengar ujaran Eca.
Laurel melongo tidak percaya. "Lo numbalin gue buat bisa deket sama Alex?"
Eca mengangguk mantap.
"Gak," tolak Laurel langsung. "Urusan lo mau deket sama Alex. Gak usah bawa-bawa gue."
Eca sudah ingin memaksa Laurel kembali kalau saja Valerie tidak tiba-tiba menyahut.
"Tapi aneh gak sih?" celetuk Valerie.
Laurel menoleh. "Apa?"
"Kan lo hampir nabrak mobil dia kan Rel? Terus kenapa sekarang dia follow Instagram lo?"
Laurel mengerjapkan matanya. Benar juga.
Eca mengangguk mangut-mangut. "Bener juga. Apa jangan-jangan dia mau block lo tapi malah kepencet follow?"
"Setan lo!" maki Laurel membuat Eca dan Valerie tergelak.
"Tapi serius kenapa ya?" tanya Eca lagi.
Laurel mengedikkan bahunya. Ia sendiri juga tidak tahu.
_______________________
TO BE CONTINUE
Calista Anabel Johnson
jangan lupa vote+komen yaa❣️