The Hunter Love Story

By putri17

74.1K 3.3K 76

More

BAB 1 >>Ketika Aku Bertemu Denganmu<<
bab 2 >>Ingatan yang Tak Bisa Terhapus<<
bab 3 >>Menyenangka Atau Menakutkan?<<
bab 4 >>Pertemuan yang Harus Dihindari<<
bab 5 >>Maksudnya Suka Like? Atau Suka Love?<<
bab 6 >>Apa Ini Artinya Suka?<<
bab 7 >>Pertemuan yang Tak Terduga<<
bab 8 >>Pertarungan di Bawah Sinar Bulan Purnama<<
bab 9 >>Siapa yang Sebenarnya Disukai?<<
bab 10 >>Perjanjian Damai<<
bab 11 >>Waktunya untuk Pesta<<
bab 12 >>Hari yang Buruk<<
bab 13>>Kenapa Aku Tak Bisa Membunuhmu?<<
bab 14 >>Petunjuk yang Memberi Sebuah Jawaban<<
bab 15>>Pengorbanan Untuk Mendapatkan Kepercayaan 1: Bangsa Lycan<<
BAB 16 >>Pengorbanan Untuk Mendapatkan Kepercayaan 2: Desa Hunter<<
BAB 17 >>Masalah Sehari Sebelum Malam Bulan Purnama<<
BAB 19 >>Altar Tersembunyi<<
BAB 20 >>Be A Vampire???<<
BAB 21 >>Pasukan Mayat Hidup<<
BAB 22 >>Kemampuan Seorang Vampire<<
BAB 23 >>Kau Menyelamatkanku Lagi<<
BAB 24 >>Kenapa Rasanya Seperti Ini?<<
BAB 25 >>A New Captain?<<
BAB 26 >>Hilang<<
BAB 27 >>Hadiah<<

BAB 18 >>Bantuan<<

2.1K 100 0
By putri17

BAB 18

>>Bantuan<<

Sherry mulai membuka matanya. Ia terbangun di ruang kesehatan yang berada di pos. Tubuhnya yang terasa berat sedang terbaring lemas di kasur. Dapat ia rasakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ia langsung mengangkat tangannya untuk melihat keadaan tangannya yang terluka. Namun tepat disaat itu juga, ia merasa ada tangan lain yang menggenggam tangannya. Saat Sherry melirik kea rah samping, ia langsung terkejut. Matanya yang berwarna coklat caramel tanpa sengaja menangkap sosok seorang pria yang tak lain adalah Zero. Tak lama setelah Sherry sadar, Zero pun mulai membuka matanya. Ketika ia melihat Sherry yang telah sadar, wajah Zero langsung tampak senang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk tubuh Sherry yang masih lemah.

"Bodoh, kenapa kau sering membuatku menjadi khawatir?" tanya Zero sambil memeluk tubuh Sherry lebih erat.

"Eh, apa maksudmu?" tanya Sherry bingung.

Zero melepaskan pelukannya. Ia menatap Sherry dengan tatapan yang melukiskan kesedihan. "Kenapa kau selalu berada dalam bahaya saat aku berada jauh darimu? Aku selalu ingin berada di dekatmu untuk melindungimu. Aku tak ingin kehilanganmu," tanpa ragu Zero mengucapkan kalimat itu. Sherry bisa merasakan kalau saat itu Zero tak berbohong ketika ia melihat mata Zero yang memancarkan ketulusan.

"M-maaf jika aku membuatmu cemas," sesal Sherry.

Zero meletakkan tangannya di atas kepala Sherry lalu mengelus rambut gadis yang sedang terbaring lemah itu. "Tidak. Akulah yang salah karena membiarkan aidenku berada dalam bahaya," kata Zero dengan nada lembut sambil tersenyum tipis.

Sherry hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Zero tadi. Ia merasa nyaman saat Zero mengelus rambutnya. Ia tak tahu perasaan apa sebenarnya yang ia rasakan saat ini. "Mungkinkah aku benar-benar telah jatuh cinta pada pria ini?" tanya Sherry pada dirinya sendiri.

"Brakkkkkkk..." suara itu terdengar keras hingga membuat Sherry dan Zero merasa sangat kaget. Ketika mereka melihat kearah suara itu, terlihat seorang vampire yang telah berdiri di depan pintu yang telah terbuka.

"Tuan, gawat!" seru vampire itu dengan napas terengah-engah seperti sedang kehabisan napas.

"Ada apa? Apa yang terjadi?!" tanya Zero penasaran.

"Musuh!..." kalimat vampire itu terputus karena ia harus mengambil napas berkali-kali agar tak kehabisan napas. Hal ini membuat Zero semakin penasaran.

"Cepat katakan apa yang terjadi!" seru Zero yang mulai tak sabaran.

"Musuh mulai menyerang! Jumlahnya mungkin sekitar dua puluh lycan. Saat ini mereka sedang berusaha mendobrak gerbang dan memanjat dinding perbatasan untuk memasuki desa," jelas vampire itu dengan nada cepat seperti sedang panik.

"Apa?!" Zero terlihat sangat kaget setelah mendengar berita itu. "Bulan purnama baru akan muncul besok. Kenapa mereka menyerang secepat ini?" tanya Zero bingung.

"Aneh. Ini aneh sekali. Seharusnya musuh bisa mengirimkan pasukan dengan jumlah yang lebih besar untuk menghancurkan desa, tapi kenapa mereka hanya mengirim pasukan dengan jumlah kecil? Apa mereka tidak bermaksud menghancurkan desa?" pikir Sherry.

"Kau benar. Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu," jawab Zero. "Sherry, tetaplah disini! Aku akan kembali ke perbatasan. Aku akan menempatkan beberapa vampire untuk berjaga di sekitar sini!" perintah Zero sambil mengambil jaket hitamnya yang berada di atas sebuah kursi.

"Tapi aku..." Sherry tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Zero telah pergi meninggalkan tempat itu.

***

Di dalam kawasan Darkforest, mayat-mayat vampire maupun lycan tergeletak di tanah begitu saja. Tanah, rumput, bahkan pohon telah berubah warna menjadi merah karena tekena cipratan darah dari para korban yang terlibat dalam pertarungan ini. Tempat yang dulunya menyeramkan ini, sekarang telah berubah menjadi semakin menyeramkan.

"Tuan, jumlah pasukan kita semakin berkurang. Jika seperti ini terus, kita tidak akan bisa sampai di desa hunter dengan selamat," ujar seorang pria pada ketuanya yang saat itu sedang bersembunyi di balik semak-semak. Pria bertubuh manusia itu merupakan salah satu anggota dari kelompok lycan yang berada di pihak Zero.

"Kau benar. Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Saat ini, aku yakin musuh sudah mulai menyerang desa hunter untuk mencari altar yang sempat wanita berambut pirang itu sebutkan. Jika kita mencoba melarikan diri untuk mencapai desa hunter, aku yakin mereka pasti akan berusaha mengejar kita. Kita tidak mungkin membawa musuh ke desa hunter," pikir sang pemimpin kelompok lycan itu yang tak lain adalah Marriot. Ia terus memperhatikan seorang gadis berambut pirang yang sejak tadi terus meluncurkan serangannya dan membunuh pasukannya dengan menggunakan sihir. "Hmm... mungkinkah dia adalah vampire yang bernama Lilith," gumamnya.

Marriot terus mengamati pergerakan gadis yang ia duga sebagai Lilith. Ia mencoba mencari cara agar bisa menyerang Lilith karena sejak tadi Lilith terus membuat pelindung ketika anak buahnya berusaha menyerangnya. Pelindung itu membuat semua yang menyentuhnya langsung berubah menjadi es dan membeku. Dalam hitungan detik, tubuh korban yang telah tersentuh pelindung itu akan hancur dan berubah menjadi kepingan es yang akhirnya mencair.

"Sial, bagaiman caranya aku bisa menyerang gadis itu?" pikir Marriot sambil terus mengamati pergerakan Lilith.

"Tuan Marriot, lari!" kata seorang pria yang sejak tadi berada di belakangnya. Ia langsung mengubah wujudnya menjadi lycan sepenuhnya untuk menghalangi lycan yang berusaha menyerang Marriot.

"Hmm... jadi sejak tadi kau bersembunyi di situ, ya?" gumam Lilith dengan seringai yang memperlihatkan betapa kejam dan liciknya dia.

Lilith mulai berjalan pelan mendekati Marriot yang berada di jarak sekitar sepuluh meter di depannya. Ia terus menatap Marriot dengan tatapan sinis sambil tersenyum tipis seakan merasa puas karena telah berhasil menemukan Marriot. Marriot berusaha melarikan diri, tapi kakinya terasa kaku dan tak bisa bergerak seakan telah terkena sihir Lilith.

"Apa kau takut padaku?" tanya Lilith ketika ia telah berada di hadapan Marriot.

"Kau hanya vampire licik yang menggunakan sihir sebagai senjata. Jika kau tak menggunakan sihir, kau hanyalah vampire biasa yang akan dengan mudah dibunuh oleh lycan," jawab Marriot. Ia berusaha tenang agar bisa memikirkan cara untuk melepaskan diri dari sihir Lilith.

"Begitukah?" tanya Lilith dengan seringainya yang terlihat menyeramkan. "Ice!" gumam Lilith. Dalam hitungan detik, telapak tangannya telah diselimuti oleh es yang terlihat lunak, tapi sebenarnya keras. "Setelah ini satu kelompok musuh akan berkurang," katanya sambil tertawa puas. "Sword!" kini, es di tangannya itu mulai membentuk wujud pedang dengan ujung yang sangat tajam seakan siap menusuk tubuh Marriot kapan saja. "Good bye, lycan..." bisiknya sambil mengarahkan pedang es itu untuk menusuk tubuh Marriot. Sementara Marriot hanya bisa diam dan memejamkan mata karena ia merasa kalau hidupnya akan berakhir sekarang juga.

"Prakkk..." pedang es di tangan Lilith langsung hancur ketika sebuah pedang langsung menebas pedang es milik Lilith.

"Sial!" umpat Lilith yang tampak sangat marah. "Siapa kau? Berani sekali mencampuri urusanku," katanya sambil melihat ke arah lycan yang tadi telah berhasil menghacurkan pedangnya.

Lycan itu hanya menatap Lilith sambil memegang sebuah pedang yang telah patah akibat benturan ketika menebas pedang es milik Lilith. Tak lama kemudian, lycan itu mulai merubah wujudnya ke dalam bentuk manusia.

"I'm Lucian," jawabnya singkat. Setelah menyadari kalau pedangnya telah patah, ia langsung membuang pedang itu.

"Eh? Lucian?" Marriot langsung membuka matanya ketika mendengar nama itu. Tepat di saat itu, ia terlihat sangat terkejut ketika melihat sosok pria bertubuh lebih kekar disbanding dirinya yang kini telah berdiri di depannya.

"Hi, Marriot. Nice to see you again," gumam Lucian

"K,kenapa kau ada di sini? We are enemy!" seru Marriot yang kemudian memutuskan untuk mundur beberapa langkah agar ia bisa tetap menjaga jarak dengan musuh lamanya itu.

"Itu dulu. But now, I want to help you," jawab Lucian dengan santai.

"Hmph, memang apa yang bisa kau lakukan. Kau hanya sendirian!" seru Lilith dengan nada keras.

"Kau ini benar-benar terlalu percaya diri. Coba lihat sekelilingmu! Now, you're alone," jawab Lucian sambil tersenyum.

Setelah mendengar hal itu, Lilith langsung melihat ke sekitarnya. Sekarang, ia baru sadar kalau semua pasukannya telah tergeletak di tanah tanpa nyawa. Ia semakin terkejut ketika melihat ribuan pasukan yang dibawa oleh Lucian telah berhasil mengepung dirinya hingga ia tak bisa melarikan diri. Dengan jumlah musuh yang sebanyak itu, sihir Lilith tak akan berguna. Ia dapat membunuh lycan-lycan itu, tapi jika jumlahnya sebanyak itu, ia pasti akan kehabisan tenaga dan akhirnya terbunuh.

"Sial!" umpat Lilith yang tampak kesal. Ia mulai panik hingga akhirnya memutuskan untuk melarikan diri. "Disappear!" seru Lilith yang akhirnya menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

"Cih, wanita itu malah melarikan diri," ujar Lucian yang tampak kesal.

"Hey, kenapa kau berniat membantu kami? Bukankah kelompok kita telah bermusuhan selama berabad-abad?" tanya Marriot sambil memasang tampang kebingungan.

Lucian membalikkan badannya hingga kini ia dan Marriot berada dalam posisi dalam berhadapan. "Aku telah mendengar kabar tentang rencana upacara untuk membangkitkan Roger sang raja vampire yang telah mati ribuan tahun lalu," jawab Lucian.

"Lalu?" tanya Marriot semakin penasaran.

"Kita bernasib sama. Beberapa pasukanku juga telah berhasil dicuri oleh nenek sihir itu. So, aku akan membalas dendam padanya," jelas Lucian.

"Hmm... benarkah?" tanya Marriot yang terlihat curiga.

"Sudahlah! Lebih baik kita lupakan masa lalu dan bekerja sama untuk mengalahkan nenek sihir itu!" ajak Lucian. Ia berusaha meyakinkan Marriot kalau ia benar-benar ingin membantu.

"Tuan, aku rasa kita harus menerima tawaran itu. Kita sudah kehilangan banyak anggota. Ada baiknya kalau mereka ikut membantu," kata seorang lycan muda.

"Pemikiran yang bagus, Nak!" ujar Lucian sambil menepuk lycan yang saat itu berada di belakang Marriot.

Marriot mulai berpikir. Ia merasa kalau yang dikatakan anak buahnya itu ada benarnya juga. "Oke, aku terima tawaranmu," kata Marriot dengan sangat yakin. "Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang! Aku yakin desa hunter pasti telah mendapat masalah besar sekarang," kata Marriot.

Para lycan mulai mengubah wujud mereka menjadi lycan sepenuhnya. Dengan perintah Marriot, semua lycan yang berjumlah ribuan itu langsung bergerak cepat menuju desa hunter.

=*=Bab 18 Selesai=*=

Continue Reading

You'll Also Like

41.8K 5K 37
{ HAPPY ENDING } Seraphina Lysandra Croft adalah manusia galak yang hidupnya dikuasai oleh kakak tiri jahat. Ketika jebakan konyol memaksanya mabuk...
6.1K 351 32
Naruto tak pernah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, sehingga pada suatu kejadian membuat nya mengetahui siapa dia dan kedua orangtuanya. Fakta...
1.7K 207 21
[Comedy] Vampire? Apa kalian menyukainya? Si mayat hidup yang kabarnya berbaur di antara manusia untuk mencari mangsa. Pernahkan kalian berpapasan d...
4.4K 614 18
seorang mahasiswa jurusan sastra yang tak sengaja berkonflik dengan para ras ras kuno yang selama ini hanya di anggap dongeng semata.
Wattpad App - Unlock exclusive features