THE VILLAIN (BibleBuild)

By biy_yourmamagula

115K 13.5K 1.9K

Pensiun dari dunia Ice Skating akibat cedera kaki, Build merasa bahwa seluruh tujuan hidupnya hilang. Kondisi... More

0. Prolog
1. The Rising Star, Build Jakapan
2. I Wish I Was You, Pete
3. I Am Pete Jakapan
4. The Night Club
5. By The Way, I'll Change The Story
6. Something's Wrong
7. The Unspoken Truth
8. Ain't Your Omega (M)
9. Unpredictable Secret
10. Desire (M)
11. Q-Time With Phi Mile
12. Mr & Mr(s) Ratanaporn
13. The Man Who Can't Be Moved
14. Who's Nirmala?
15. Lies Over Lies
16. Have You Ever Loved Me?
17. Tasted Like a Real Heaven (M)
18. I Got You
19. Are You Coming Back, Pete Jakapan?
20. Start, Now! (Jak's POV)
21. The Forbidden Name
22. Jealousy, Jealousy
23. Adopted Son?
25. Accident

24. Lana, The Last Nirmala

1.6K 182 27
By biy_yourmamagula

Hall utama dari training building kini dipenuhi oleh seluruh atlet yang telah resmi menjadi perwakilan negaranya. Jakapan dan Nititorn duduk di jajaran terdepan untuk memudahkan sorotan media. Pakaian dengan warna kuning pun sengaja disamakan, tipikal kawan yang gemar berbagi selera.

"Jak, menurutmu, tema olimpiade kali ini akan seperti apa? romance, luxury, or.. fantasy?"

Jakapan menoleh. "I'm not sure, kalau dugaanku benar.. mungkin romance." Menggunakan tatapan mata, Jakapan menunjuk beberapa dekorasi. "Putih, magenta dan violet, olimpiade tahun ini memancarkan nuansa valentine."

"Nah, i don't think so. Warna violet itu bisa juga dipilih untuk mewakili dosa.  Kutukan Dewi juga ada hubungannya dengan konsep itu."

Belum sempat Jakapan bertanya lebih lanjut, Nititorn menyenggolnya untuk kembali fokus pada monitor di depan. Saat itulah, operator menuruti ujaran komite untuk menampilkan tema dari olimpiade yang akan diselenggarakan 6 hari mendatang.

[Historical]

"The Cursed of Violet Nirmala"

"Sial!!" Menoleh ke arah Jakapan, pria omega yang terlihat gusar itu kembali buka suara. "Tema itu kan sudah lama ditinggalkan! mereka lupa ya, tentang kejadian di 50 tahun silam? olimpiade terburuk! para atlet yang cedera fatal, kesalahan teknis yang berturut-turut! benar-benar mengerikan, juara-1 pun dinilai payah dan tidak memiliki jiwa seorang nirmala dalam performanya."

Jakapan menyimak ucapan Nititorn di ambang kesadaran. Ia bingung, kepala yang sunyi mendadak bising dipenuhi tanya. Nirmala, panggilan dari Xavier yang selalu ada dalam mimpinya. Tak tahu apa dan siapa, 'Nirmala' nampak gemar berkeliaran di sekitarnya.

"Jakapan! jawab! bagaimana ini?! aku benar-benar tak setuju dengan semua keputusan penyelenggara!"

Menepuk pipinya sendiri, Jakapan tak ingin hanyut dalam lamunan. "K-kau.. pikir temanya sesulit itu, Nit? kita ada di zaman modern, 50 tahun itu waktu yang cukup lama untuk kembali pulih dari trauma sejarah." Benar, mustahil kemalangan serupa untuk terjadi lagi.

"Sulit, aku belum pernah tuntas untuk mencipta koreografi dengan tema itu! menampilkan kutukan Nirmala untuk seluruh dunia lewat seluncur es? yang benar saja! haruskah kita terlihat gila dan jahat? Oh, Tuhan! berkatilah aku yang harus memakai kostum penyihir untuk bertanding!"

Kata demi kata yang Nititorn ucapkan terdengar layaknya petasan di telinga Jakapan. Ia kesal, ia tak terima seakan penghinaan tengah dilempar padanya secara kurang ajar. Aneh, ikatan batin yang ia rasakan terlalu kuat jika sosok Nirmala dalam mimpinya hanya buah dari ilusi nalar.

*****

Ditinggal oleh Nititorn yang menemui Jayler untuk berbagi kekesalan terkait tema olimpiade, Jakapan pun kembali ke manor seorang diri. Sesuai dugaan, bangunan klasik itu terlihat megah di setiap bagiannya untuk memamerkan pengaruh harta Keluarga Ratanaporn.

"Lapar, aku rindu nasi kari yang biasa dibawakan Phi Ping." Kembali dirinya mengingat sosok itu. Manajer pribadi, pria yang mengisi peran kakak dalam kehidupan atlet Build Jakapan Puttha. Hingga laut kering dan angin berhasil digenggam pun, hutang budinya pada Ping tak pernah cukup untuk ditebus.

"Aku harap kau sekarang bisa merasa tenang, Phi. Terima kasih.. dan maaf.. Aku harap, setidaknya kau membawa setangkai mawar saat pemakamanku berlangsung. Kau tahu kan, Phi?? aku benci ditinggal sendiri."

Biru kelabu yang selimuti atmosfer di sekeliling Jakapan segera mereda saat aroma kopi membelai penciumannya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera berjalan menuju dapur dan mengunci tatap pada pria alpha di hadapannya.

"Hai, Chef Nattawin."

Nattawin menoleh, tersenyum dengan begitu lebar dan membalas sapa. "Hai, Pretty. Mau aku buatkan sesuatu? tadi pagi kamu melewatkan sarapan, kan? Dasar omega nakal, apa kamu senang melihatku khawatir?!" Tak mendapat jawaban, Nattawin mengernyit. "Jak!! kamu mengabaikanku?"

"Kamu sudah tak menghindar dariku lagi, Natt? kamu tak lagi marah, kan? kemarin, pagi hari setelah pesta, aku tahu kalau kamu enggan berbincang denganku. 24 jam kamu menghindar dan lebih banyak diam. Aku.. sedih.."

Menghela nafas panjang, Nattawin tak ingin Jakapan tahu bahwa alasan dari sikapnya itu berkaitan dengan luka di hatinya. Mustahil baginya untuk jujur dan mengatakan bahwa ia marah saat melihat Jakapan berciuman di balkon dengan Wichapas. "Kamu terlalu jauh dalam berpikir, Jak. Aku sibuk, di sini bukan tempatku untuk bersantai saja. Maaf kalau sikapku melukaimu."

"Ya sudahlah, mungkin aku kelelahan. Apa di lemari pendingin ada jus apel? kalau tidak ada, sepertinya aku harus pergi ke minimarket."

Menahan Jakapan, Nattawin meminta pria omega itu untuk duduk. "Tunggu, biar aku yang menyiapkan semuanya. Mau makan apa? nasi goreng, waffle? atau.. roti bakar?" Meniup kopi panas di dalam cangkir, Nattawin yang juga dilengkapi oleh celemek pun berhasil memberi penghiburan pada Jakapan.

"Anything you have, Chef Nattawin."

"What if i give you my heart?" Kali ini, Nattawin bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Kecewa lagi-lagi ditimang kala tertawa Jakapan dibuatnya.

"Oh iya Natt, kemana perginya semua orang? well, i mean, my brother. Biar saja Wicha dan Naphat pergi kemana pun mereka ingin, aku tak peduli."

Mengupas apel hijau, Nattawin benci untuk mendengar Jakapan mengucap nama suaminya. "Mile katanya harus pergi menemui Jayler. Mungkin Tuan Akara menitipkan pesan lewat telfon. Aku tebak, beliau ingin memvalidasi kabarmu langsung dari Jayler. Beliau pasti khawatir, Jak. Kamu menerima banyak panggilan darinya, kan?"

Tidak.

Sama sekali tidak pernah.

Sejak tiba di Italia, Jakapan diabaikan.

Entah itu pesan atau panggilan, siang juga malam, respon yang diharapkan Jakapan tak pernah hadir dari Akara.

"Jakapan, kamu melamun lagi?"

Pertanyaan Nattawin kembali menuai sadar untuk Jakapan. "Natt, apa kamu tahu sesuatu tentang Violet Nirmala?" timpalnya mengalihkan topik. "Segala hal yang berhubungan dengan nasib? kesialan, kutukan dan sejenisnya."

"Violet Nirmala itu.. The Last Nirmala yang kau idolakan sejak dulu itu?"

Jakapan tak yakin, jawaban Nattawin pun terlalu ambigu dan membuatnya mengangguk dengan kikuk. "I-iya, dia yang aku maksud. Kamu tahu sesuatu tentang kisahnya? aku.. sedikit lupa?" bohongnya.

"Jakapan yang paling cantik, kamu ini hidup di zaman batu atau apa? google bisa menjawab semua pertanyaanmu. Cari saja di sana, aku yakin informasi tentang The Last Nirmala akan sangat mudah untuk ditemukan."

Menurut, Jakapan pun mengeluarkan handphone dari dalam tas dan segera mengetik kata kunci di pencariannya.

"Hah? apa-apaan ini? wajah.. kenapa? kenapa yang keluar malah wajahku?"

Dengan tenang, Nattawin menyalakan mesin jus di hadapannya. "Waktu kita sekolah, kamu dijauhi anak-anak lain karena dianggap reinkarnasi Nirmala Terakhir. Penggambaran Lana terlalu mirip denganmu dari segi fisik. Bagai anak kembar berbeda dimensi, kamu dan Lana memiliki semacam ikatan."

Nattawin menghela nafas dan beralih untuk mematikan mesin jus. "Aku tak mengerti, Jak. Kamu pernah bercerita tentang Lana yang menemuimu lewat mimpi. Kamu bilang, Lana dan ksatria suci yang disebutkan buku sejarah itu sebenarnya tidak jahat." Menurunkan pandangan, senyum Nattawin terlihat dipaksakan. "Mimpi sialan, kamu jadi tergila-gila pada Wicha karena wajah bajingan itu sama dengan ksatria suci dalam mimpimu. Padahal-"

"Ksatria suci itu.. apa aku mengatakan siapa namanya?"

"Um." Nattawin mengangguk. "Seingat yang aku mampu, namanya.. Saphire? or.. Xavier?"

Demi Tuhan, Jakapan ingin menangis. Kepingan puzzle apalagi yang ia dapat sekarang? Pete Jakapan yang asli.. apa yang membuatnya juga mampu untuk memimpikan Xavier dan Lana? takdir macam apa yang mengikatnya dengan kedua tokoh dalam sejarah kelam itu? alasan apa.. yang membuat wajahnya mirip dengan Lana? apa yang dialami Xavier? ksatria suci yang disamarkan namanya dalam catatan sejarah, dosa macam apa yang didapatkannya kala dicinta oleh seorang utusan Dewi?

"Sialan, kepalaku bisa pecah." Terlalu asik membaca artikel online, Jakapan langsung saja meminum jus apel dari Nattawin tanpa kewaspadaan. "Tidak bisa, aku butuh udara segar."

"TUNGGU!" Membuang vial kosong di dalam genggaman, Nattawin menolak resiko untuk melepas Jakapan setelah pria omega itu menelan heat inducer. "J-jangan pergi, di luar dingin. L-lebih baik kita itu, makan.. bersama." Sulit, rasanya seperti menelan duri selama berujar dusta pada Jakapan. Ia benci, ia mengutuk tindakan menjijikan ini. Tapi kemudian, ia setuju atas seluruh ucapan Mile, marking dan kehamilan adalah solusi terbaik untuk mengikat Jakapan sebagai miliknya, omeganya.

"Aku hanya sebentar, Natt."

"Tapi—"

Nada dering handphone Nattawin tak mengucap permisi untuk hadir. Tahu bahwa panggilan yang menampilkan nama Mile bersifat rahasia, Nattawin pun harus pergi menjauhkan dirinya. "Tunggu sebentar, kamu jangan pergi kemana-mana. Aku tidak akan lama."

Bukan Jakapan namanya kalau tidak keras kepala. Pria omega itu tetaplah pergi setelah Nattawin beranjak dari hadapannya. Ia benar-benar pening, ia butuh menghirup udara luar dan berjalan tanpa arah hingga nampak area hutan.

"Oh, shit. Sepertinya ini terlalu jauh."

Menoleh ke sekitar, hanya ada pohon yang nampak dalam jangkauan mata. "Good job, Jakapan. Kau sembuh dari penyakit sulit mengingat fitur wajah, menjadi sulit mengingat arah pulang. Fuck, i forgot my sweater and phone!"

"Kau sedang apa? merencanakan aksi pembunuhan?"

Terkejut, Jakapan tahu siapa sosok di belakangnya yang muncul secara tak terduga. "Kau sendiri? kenapa ada di sini? mengikutiku seperti penguntit? wah, aku baru tahu kalau kau begitu mengagumi atlet berbakat sepertiku. Sana pergi, nafasmu bau!" sarkasnya.

"Nafasku tidak bau, suamimu bahkan candu untuk menciumku dari pagi ke pagi. Hm.. semalam benar-benar gila. Lubangku perih, rasanya seperti mau robek." Merogoh saku celana, Naphat memamerkan voice recorder. "Wicha mengatakan suatu hal yang sangattttt menarik, dengarlah." Menekan suatu tombol berwarna merah, suara milik Wichapas pun mulai terdengar.

'Sayang, jangan risau. Semua yang aku lakukan untuk Jakapan hanya sandiwara. Jakapan berubah, pria bodoh itu menjadi pintar dan licik. Biar saja dia kembali berseluncur di atas es sebagai atlet. Kelak, tak ada lagi alasanku untuk kukuh di pernikahan menjijikan seperti ini. Kami akan segera bercerai.'

"Kasihan, sebentar lagi Wicha akan-"

"Wah, hanya segitu? dia tidak bilang kapan tanggal pastinya? ayolah, beri aku lebih banyak rekaman! ini seru! aku lega kami akan segera bercerai!! Oh, apa dia bicara soal uang? apa ya, sebutannya? ganti rugi?" Tanggapan aneh dari Jakapan membuat Naphat heran. Kondisi inilah yang membuat pria beta itu segera beralih ke Plan B skenarionya.

"Jakapan, kau ingat kejadian 3 tahun lalu? aku berhasil menipu semuanya dengan memanipulasi kecelakaan di belakang panggung. Kau, atlet paling angkuh yang paling kubenci, beralih menjadi kriminal dalam satu malam."

Melihat Naphat berjalan mundur ke ujung tebing, Jakapan tahu ada niat buruk yang dipikirkan pria beta itu. "K-kau, kau mau apa? jangan gila!!"

Naphat menoleh ke belakang. "Tidak beresiko kematian, ada patahan batu yang cocok untuk menahan tubuhku. Kau adalah satu-satunya yang ada di tempat ini. Lagi-lagi, mimpimu akan hancur karena permainanku."

Satu langkah,

Dua langkah.

Tepat sebelum langkah ketiga dicipta Naphat, Jakapan berlari dan menarik pria beta itu hingga menjauhi tebing. Sayangnya, aksi spontan Jakapan tak berhasil untuk menjaga keselamatan diri saat kaki tersandung batu. Lepas pijakan Jakapan kala terjun bebas. Ia jatuh, terus dibawa gravitasi menuju jurang yang terlihat gelap. Saat netra perlahan menutup, Jakapan berucap dalam hatinya.

'Tolong, aku tidak ingin mati sebelum menemukan bahagia. Aku tidak ingin mati di atas ketidakadilan seperti ini. Tugasku belum selesai. Tolong, siapa pun, datanglah. Aku janji akan balas budi dengan nyawaku.'

"BIU!!!"

Ah, mungkin Jakapan kehilangan akal sebelum dipeluk kematian. Untuk apa ia membayangkan kedatangan Wicha di situasi ini? pria alpha yang berkata akan segera menceraikannya itu.. tak mungkin ikut terjun dan meneriakan panggilan asli di dunia asalnya.

Ini pasti.. hanya ilusi.

*

*

*

*

Iya, kan?











TBC

Gimana? udah sedikit cerah kah?? ikuti aja alurnya ya, satu-persatu semuanya bakal kejawab ^_^

Next chapter, Wicha-Jaka tersesat di hutan, kedingingan. Tebak ajaa kejadian apa yang bakal terjadi di next chapter 😌

Continue Reading

You'll Also Like

454K 976 15
🔞 kisah sx abang tiri dan adik tirinya
1.6M 53.1K 69
Cinta atau Obsesi? Siapa sangka, Kebaikan dan ketulusan hati, ternyata malah mengantarkannya pada gerbang kesengsaraan, dan harus terjebak Di dalam n...
1M 13.3K 25
BoyPussy Bxb Cowo Bermeki
1.3M 5.9K 14
Area panas di larang mendekat 🔞🔞 "Mphhh ahhh..." Walaupun hatinya begitu saling membenci tetapi ketika ber cinta mereka tetap saling menikmati. "...