Dia memang tidak pernah terlihat keji. Paras cantiknya itu menutupi tangannya yang kotor. Para tamu undangan mengelap air mata mereka dengan sehelai lenan. Memeluk wanita itu satu demi satu. Untuk memberinya dukungan yang sebenarnya tidak ia perlukan.
Jari jemarinya memainkan peran dengan mulus. Tak ada noda yang tersisa. Ia sangat telaten dalam menutupinya. Dirumah orang tuaku, kawan. Dirumah orang tuaku ia dengan berani memainkan sandiwaranya. Setiap gerakan itu nampaknya sangatlah tertata. Bahkan kedua orang tuaku pun berhasil ia tutup matanya.
Aku menelusuri setiap tamu undangan yang hadir. Mereka menangisi peti mati yang diletakan ditengah-tengah ruang keluarga. Peti mati itu telah di tutup dan dipaku. Jadi tak ada seorang pun yang bisa melihat pria yang berbaring didalamnya. Atau apakah pria itu ada disana. Diora masih berusaha membiarkan air matanya menetes. Dihadapan ibuku ia meraung-raung menangisi tubuh didalam peti itu.
Diora. Wanita itu dulunya ku puja-puja. Parasnya dapat membuat siapapun seketika jatuh padanya. Aku dulu adalah pria yang paling beruntung karena dapat memilikinya. Semua perjaka niscaya iri melihatku. Namun sekarang hal itu tak lagi aku banggakan.
Mereka bilang di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Dahulu aku tak berpikir begitu. Diora di mataku adalah mahluk yang sempurna. Dahulu. Tapi kawan, siapapun yang mengatakan itu, mereka benar. Tidak ada yang sempurna. Bahkan dengan paras bak Venus sekalipun.
Hubunganku dengan Diora sangat indah di awal. Namun aku mulai merasa hubungan ini menjadi tidak sehat. Lebih tepatnya beracun. Aku tak dapat menjelaskannya. Namun sejahat apapun Diora, selicik apapun dia, aku selalu takluk dan menuruti permintaannya. Aku tak dapat menegurnya. Aku selalu kalah jatuh setiap kali melihat parasnya itu.
Jadi aku melakukan apa yang pria normal dan sehat lakukan pada umumnya. Aku meninggalkan Diora. Aku memutuskan segala hubunganku dengannya. Berharap kesehatan mentalku akan membaik.
Memang benar sekali lagi kata mereka. Melepas suatu hubungan begitu saja tidaklah mudah. Aku sadar betapa tidak sehatnya hubunganku dengan Diora. Tapi tetap ada masa dimana kami bahagia. Ada masa dimana aku mengenalnya sebagai gadis yang diidam-idamkan setiap pria. Ada masanya. Dan masa-masa itu yang tak dapat ku lupakan.
Tubuh itu mati, tapi tidak jiwanya. Sama seperti hatiku yang dahulu. Diora mungkin telah menghancurkannya. Perasaan, cinta, dan harapanku padanya. Tapi aku tidak berhenti sampai disana. Lebih tepatnya aku tidak dibiarkan terkurung dengan rasa sakit yang ku ciptakan sendiri. Aku pergi ke kota lain untuk mencari pekerjaan baru, kehidupan baru. Berharap akan meninggalkan masa laluku dengan Diora. Dan memang hidupku berjalan lebih baik disana. Aku bertemu dengan seorang wanita. Ia mungkin tak sejelita Diora, namun ia adalah wania yang memang benar dapat diidamkan.
Maria, wanita itu 6 tahun lebih muda dariku. Dia yang membantu menyembuhkan luka dalam jiwa ini. Ia juga yang memberiku harapan akan kehidupan baru. Tak butuh waktu lama bagiku untuk jatuh padanya. Tak pikir panjang pula aku langsung melamarnya yang membawanya pulang ke kotaku.
Kasihan sekali pria di dalam peti itu. Ia tidak bisa merasakan keluarga kecil yang ia idamkan. Ia bahkan tak sampat menghabiskan waktu dengan istri barunya.
Hanya perlu segelas ale dan sebuah nyawa akan pergi dari tubuhnya. Andaikan pria itu tidak mempercayakan minumannya pada seorang yang baru ia tinggalkan itu. Pria itu bahkan terlalu bodoh sampai mengundang sebuah masa lalu ke pesta pernikahannnya. Dia pikir itu akan menghiburnya sedikit. Sebuah bentuk dari balas dendam. Tapi ternyata senjata memakan tuannya. Malang sekali nasib pria ini. Tapi tenang kisahnya tidak berakhir di dalam peti, kawan. Ini baru saja di mulai.
Aku menatap peti itu. Tubuh didalamnya seperti meraung-raung ingin keluar. Kain lenan yang menyelimuti dirinya berubah menjadi semerah darah. Tenanglah aku yang akan menyelesaikan hutang mu disini.
Aku berusaha mencari Maria. Dimana kira-kira wanita itu berada? Aku tak bisa membayangkan apa dirasakan wanita itu saat ini. Andai aku saja bisa memeluknya.
Aku tak bisa menemukannya di ruangan tengah, jadi ku putuskan untuk mencarinya di kamar ibuku. Dan benar saja, aku menemukannya disana. Termenung dalam perasaannya yang campur aduk. Kebingungannya itu bahkan membuatnya tidak bisa menangis. Ia hanya duduk disana, menatap lantai kayu tua rumah ini.
Aku menghampirinya. Dan begitu sadar akan kehadiranku wajahnya memucat. Ia seperti melihat hantu (ya, secara harfiah ia memang melihat hantu. Tapi kita bicarakan itu nanti. Jangan bertanya). Nafasnya terengah-engah dan ia berusaha mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. “K-kau?”
Aku meletakan jariku dibibir lalu menyilangkan kedua tanganku. “Iya, dan aku hanya punya satu kesempatan. Jadi dengarkan aku. Maria, aku ingin kau merogoh kantung gaun sebelah kiri Diora. Disana kau akan menemukan sebuah botol. Jangan bertanya karna aku tak punya banyak waktu. Lalukanlah kalau kau ingin membantu suami mu mencapai ketenangan.” Jelasku. Raut wajah Maria menunjukan jelas bahwa ia masih tegang dan ketakutan. Tapi ia mengangguk perlahan.
Kau tahu, kau mungkin bisa membakar seseorang. Tapi orang itu tak bisa terbakar, jadi kaulah yang menjadi santapan apinya.
Maria melakukan tugasnya dengan baik. Botol berisi cairan bening nan cantik itu berhasil ia ambil dari kantung gaun Diora. Dan ya, mereka berhasil menemukan ularnya.
Setelah seluruh ruang tengah kosong aku kembali menatap peti mati itu. Sekarang rasanya tubuh ini sudah benar-benar bisa mati.
Diora, tak ada salahnya bukan? Mencicipi apa yang telah kau bayar.
YOU ARE READING
Rhymes for the beauty (cerpen)
FanfictionJiwa yang masih punya hutang di dunia ini tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan lakukan apapun untuk melihat nya berduka. Dan tak ada salahnya mencicipi apa yang telah kau bayar.
