Siapa sangka, kepolosan kamu itu akan membuat Mingyu jatuh hati padamu dan enggan untuk berpaling darimu. Padahal sikapnya yang seperti ini bukanlah jati dirinya yang selalu terlihat cool dan jual mahal. Hingga kamu mampu mengubah dirinya menjadi le...
"Mamaah, (Y/n) pulaaaang" Teriakmu sambil masuk kedalam rumah orangtuamu. Namun setelah membuat jeda sebentar, kamu masih tidak mendengar balasan dari siapapun di dalam rumah. Mamah sama papah kemana ya? Tidak mungkin mereka pergi tanpa mengunci pagar dan pintu depan.
"Assalamuallaikum, dirumah ada siapa yaa?" Teriakmu lagi. Langkah kakimu membawamu masuk lebih dalam. Saat masih tidak mendapatkan jawaban, kamu mendengar suara mamahmu mengobrol di taman belakang. Sepertinya mamah sedang mengobrol bersama papah. Biasanya mereka suka mengobrol sambil minum teh atau kopi ditaman belakang jika sudah menjelang sore. Kakimu membawamu mendekat ke pintu taman belakang, dan melihat punggung mamah dan papah dari jendela. Kamu tersenyum dan langsung berlari kearah orangtuamu.
"Mamaaah! Papah! Ko (Y/n) masuk gaada yang jawab salam sih?!" Kamu kesal, tapi kamu tetap memeluk kedua orangtuamu bergantian. Kamu kangen mereka. Sudah lama kamu tidak pulang karena mamah sama papah selalu membahas perjodohanmu. Tapi kali ini, kamu akan mengalah dan akan mendengarkan mereka saja jika mereka menyuruhmu bertemu dengan jodoh pilihan mereka.
"Yaampun nak, maaf. Mamah lagi serius ngobrol sama papah barusan, jadi kami ga dengar kamu masuk rumah. Kamu kesini sama siapa?" Tanya mamah dengan senyumnya. Senyum yang sangat hangat dan kamu merindukan itu.
"(Y/n) tadi pulang kerja langsung dianter sam.."
"Assalamuallaikum mah, pah" Suara berat menyela obrolanmu dengan mamah. Orang yang sedang kamu bicarakan kini menyalimi orangtuamu secara bergantian.
"Sama Acel mah." Kamu melanjutkan omonganmu yang sempat tertunda karena Acel.
"Waallaikumsalam.. Acel apa kabar nak? Udahlama ga main kerumah. ko ga sama Lyra? Lyra mana?" Papahmu menjawab sekaligus bertanya pada Acel. Acel tersenyum manis. Sangat manis. Hingga rasanya kamu ingin tersedak.
"Lyra tadi buru-buru pulang pah, katanya harus jagain adiknya. Kemarin adiknya baru pulang dari rumah sakit."
"Yasudah, kalian sekarang istirahat dulu ajaya. Biar mamah siapin makan malam. Kita makan malam bareng-bareng yaa."
"Makasih mah, pah." Kata Acel. Senyumnya masih belum luntur daritadi. Kamu gemas ingin mencubit pipinya. Setelah mendapat anggukan dari mamah dan papah, kamu membawa Acel masuk dan naik kelantai dua, dimana hanya ada kamar kamu, kamar Kama, satu kamar tamu dan ruang keluarga yang lumayan luas. Kamu memasuki kamar, diikuti oleh Acel. Karena Acel adalah sahabatmu dan Kama dari kecil, jadi dia sudah biasa masuk kedalam kamarmu atapun Kama. Acel juga memanggil orangtuamu dengan sebutan mamah dan papah karena sudah terbiasa dari kecil.
"Acel, keluar dululaaah.. Aku mau ganti baju.." Rengekmu padanya yang malah duduk dikasurmu.
"Yaudah ganti baju dikamar mandi aja sih (Y/n). Biasanya juga gitu."
"Gamau ih kamu keluar dulu, aku mau ganti baju disini ajaa."
"Yaudah tinggal gantilah." Jawab Acel santai. Kamu langsung membelalakan matamu dan berjalan menghampirinya, berniat ingin memukulnya agar Acel keluar kamar. Tapi sebelum tanganmu mengenainya, Acel sudah terburu-buru berlari keluar dari kamarmu karena tidak ingin digebuk olehmu. Kamu menyusul berjalan kearah pintu untuk mengunci pintunya agar kamu bisa berganti baju dengan aman.
"Dasar Acel! Mesum banget!" Teriakmu dari dalam kamar sambil mengunci pintunya. Dibalik pintu Acel hanya terkekeh karena berhasil kabur darimu.
🌙
Saat ini kamu sedang tiduran dikamarmu, bersama Acel tentunya. Sambil menunggu mamah selesai menyiapkan makan malam dan menunggu Kama yang katanya akan pulang setelah kerja. Kamu sedang berjelajah di media sosialmu dan Acel sedang bermain game diponselnya dengan serius.
"Cel" panggilmu tiba-tiba.
"hm?"
Kamu sengaja membuat jeda sebentar sebelum bertanya. Kamu ragu apakah kamu bisa bertanya padanya atau tidak. Kamu sedang berpikir apakah sebaiknya kamu lanjutkan atau tidak.
Acel mematikan ponselnya dan menghadapmu sambil membenarkan posisinya agar lebih nyaman dibantalmu. "Kenapa (Y/n)? Mau cerita apa?" Tanya Acel. "Sini duduk dulu lo nya." Acel menepuk-nepuk sisi sebelah kirinya yang kosong. Kamu yang asalnya sedang tiduran miring menghadap Acel, berubah menjadi duduk disebelah Acel.
"Sekarang princess mau cerita apa?" Percayalah, rasanya sekarang kamu ingin meleleh saja seperti eskrim yang mencair. Sikap Acel selalu seperti ini padamu. Lemah lembut, selalu menjagamu, selalu mengkhawatirkamu. Sama seperti Kama. Kamu merasa kamu memiliki dua kembaran. Tapi, sikap mereka yang seperti inilah yang kamu suka. Apalagi Acel. Kamu merasa kamu bukanlah sahabat masa kecilnya, kamu merasa seperti kekasih Acel karena selalu diperlakukan seperti ini.
"Hm? Mm.. Kalau ak-"
"HEYYOW MA SISTA!" Teriak Kama sambil membuka pintu kamarmu. Muka Kama kaget saat melihat Acel disebelahmu. Sepertinya dia sadar kalau kamu dan Acel sedang mengobrol serius.
"Acel! pakabs broo?" Sapa Kama sambil berjalan mendekat kekasurmu.
"Alhamdulillah baik gue. Gila, udahlama ya ga kumpul kaya gini. Gue cuman ketemu (Y/n) tiap hari di tempat kerja." Balas Acel sambil memperlihatkan senyum lebarnya. Kama hanya mengangguk dan menjatuhkan tubuhnya di kasurmu yang terbilang besar.
"Kama ih kotor badannya! Sana!" Kamu memukul dan menendang badan Kama yang baru saja dijatuhkannya didepanmu dan Acel. Acel hanya tersenyum saat melihatmu melakukan itu. Dan Kama mengerang kecil berpura-pura kesakitan saat ditendang olehmu.
"Okeoke princess, jangan galak-galak." Balas Kama sambil mendudukkan dirinya didepanmu. "Mamah udah nyuruh kita turun tadi. Kalian kebawah duluan aja sana." Kata Kama sambil menatapmu dan Acel bergantian.
"Lah lo ga ikut?" Tanya Acel bingung.
"Gue ganti baju dulu deh, gerah nih." Setelah diangguki olehmu, kamu turun dan menuju dapur diikuti Acel.
"Hmm wangii, mamah masak apa nih?" Tanya Acel sambil melihat meja makan.
"Wah banyak banget makanannya mah!" Teriakmu saat melihat meja makan. Kamu melihat ada makanan kesukaanmu, Kama dan Acel. Mamah memasak 3 menu berbeda. Jujur saja kamu terharu dan senang karena kamu kangen masakan mamah juga.
"Makasih mah masakannya." Ucap Acel dengan lembut. Mamah hanya tersenyum saat mendengarnya. Setelah kamu dan Acel mencuci tangan, Acel menarik kursi lebih dulu, dan menyuruhmu untuk duduk. Lalu setelahnya dia duduk disebelah kirimu dan Kama menyusuk duduk disebelah kananmu. Mamah dan papah yang duduk didepan hanya memperhatikan anak-anaknya saja sambil tersenyum.
"Makan yang banyak ya cel, Abis makan kamu boleh pulang atau tidur disini aja kalau kemalaman." Papah menyendokkan nasi untuk Acel setelahnya.
"Iya pah, liat nanti. Kalau Acel males pulang Acel bakal langsung tidur disini aja." Jawab Acel setelah menerima nasi dari papah.
Melihat Acel seperti ini, malah membuatmu semakin ragu untuk memberitahunya tentang perjodohan ini. Iya, tadi dikamar kamu ingin memberi tahu Acel dan bertanya apa yang harus dilakukannya mengenai perjodohan ini. Antara kamu ragu karena kamu merasa Acel akan sakit hati jika mengetahui hal ini atau kamu yang belum siap dengan jawaban Acel apapun itu. Saat ini kamu hanya bisa berdoa dan menunggu waktu yang pas untuk menceritakan semuanya pada dua sahabatmu, terutama Acel. Entahlah, kamu hanya tidak ingin Acel menjauhimu jika mengetahui kalau kamu akan dijodohi dengan lelaki lain.
🌙
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.