14. Rumput Tetangga Lebih Hijau

60.3K 13.3K 6.4K
                                    

Sebelumnya aku tidak pernah percaya,
bahwa bintang tidak selalu berada di angkasa
Terkadang ia berada di dekatku, seperti halnya kamu

***

Diiringi perasaan sesak, Gayatri melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja. Sejak pagi, laki-laki itu tidak menjawab panggilannya sama sekali. Belasan pesan singkat juga tidak dibaca padahal tanda online sempat muncul beberapa kali. Gayatri jadi bertanya-tanya, sesibuk apa laki-laki itu sampai-sampai mengabarinya saja tidak sempat.

Pertemuan terakhir mereka adalah kemarin, saat Nana mengantarkannya pulang. Setelah itu, Nana tidak membalas pesannya sama sekali. Akhirnya, Gayatri hanya bisa menarik napas panjang. Ia menyerah untuk melakukan apapun sekarang.

Menjelang jam makan malam, ia memutuskan untuk turun. Semakin lama, suasana rumah semakin sepi. Apalagi jika bapak pergi dinas ke luar kota seperti hari ini. Saat-saat meriah hanya akan Gayatri temukan saat hari libur besar saja, saat kakak-kakaknya datang menjenguk bersama anak-istri. Itulah mengapa sering kali ibu ngotot agar Gayatri menerima Ibram alih-alih mempertahankan hubungannya dengan Nana.

"Tadi ibu ketemu Ibram loh, Tri." tuhkan, Ibram lagi yang dibicarakan. Bahkan saat ibunya baru mendengar suara langkah kakinya menuruni tangga, sudah Ibram saja yang disebut.

"Terus?"

"Ibu dibeliin buah tadi. Itu, apelnya kamu makan."

Gayatri terperangah. Ia menatap buah apel yang baru saja ia gigit. Entah bagaimana, bayangan putri salju yang mati akibat memakan buah apel tiba-tiba saja melintas di dalam kepalanya. Maka tanpa berpikir panjang, Gayatri kembali meletakkan apel itu ke atas piring buah.

"Kenapa? Asem ya apelnya?"

Untuk sesaat, Gayatri menarik napas panjang. Ia memperhatikan lekat-lekat wajah keriput ibu yang kini duduk di sebelahnya.

"Bu, aku nggak bisa sama Ibram. Dari awal aku udah bilang kan sama ibu? Banyak hal yang bersinggungan antara aku sama dia dan aku nggak mau memaksakan apapun."

"Kamu belum coba." kata ibu, masih bersikukuh dengan keputusannya. Wanita berparas persis seperti dirinya itu nampak tenang mengupas buah apel.

Di saat-saat seperti ini, Gayatri ingin berteriak keras dan melawan arus kehidupan yang sudah dibentuk oleh ibunya. Tapi setiap kali Gayatri ingin membuka mulut, ia selalu tidak mampu. Di titik ini, ia tidak ingin melukai siapapun. Tidak ibu, tidak juga Nana.

"Aku sayang sama Adin, Bu."

"Ibu suka kok sama Adin. Dia anaknya baik, sopan juga sama ibu. Tapi, Tri, dia nggak bisa menjamin masa depan kamu. Apa kamu nggak berpikir untuk menikah? Kamu sudah 24 tahun loh, tahun ini."

"Aku bisa nunggu dia.." ucapnya, praktis membuat ibu kembali meletakkan pisau dan buah apelnya di atas meja. Menatapnya dengan pandangan mata yang sukar.

"Ibu memilihkan pilihan yang tepat buat kamu. Ibram sudah mapan. Kalau kamu sama dia, hidup kamu akan terjamin, Tri. Sementara Adin? Uang kuliah aja dia masih minta orang tuanya, lulus juga masih nggak tahu kapan. Kalau kamu nunggu dia, yang ada kamu jadi perawan tua. Kalau kamu jadi perawan tua, apa yang harus ibu bilang ke Budhe-Budhe kamu?"

Hati Gayatri mencelos seketika. Perlahan-lahan pandangannya memburam. Sampai akhirnya ia menutup sepasang matanya, air mata itu jatuh tepat di atas pangkuannya. Adegan-adegan indah bersama Nana selama ini langsung muncul dalam kepalanya satu per satu. Gayatri tidak ingin membuat adegan itu menjadi sebuah kenangan yang menyedihkan suatu hari nanti.

"Adin nggak akan bisa bimbing kamu, percaya sama ibu. Dia itu lebih cocoknya jadi adik kamu."

"Tapi aku belum mau menikah, Bu, apalagi sama Ibram. Aku nggak bisa."

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang