beginning

76 6 0
                                        

please leave your support by tap vote.

Senin, hari yang paling di benci namun pula di sukai oleh beberapa siswa karena alasan tertentu. Cuaca hari itu terlihat agak berawan dan sedikit mendung, sepertinya akan turun hujan yang lumayan deras setelah ini?

Jari seorang lelaki dengan lincahnya menekan tombol huruf satu persatu dalam ponselnya, membentuk sebuah pesan singkat untuk kawan seperjuangannya.

Josh berangkat sekarang
aja, kaya mendung.

Oh oke, ketemu di
minimarket depan yo.

Siap, ajak Jeonghan juga.

Ok on my way.

Seungcheol memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mulai menaiki sepeda gunung miliknya.

"Ma! Aku berangkat ya." lapornya sebelum pergi.

Sahutan terdengar dari dalam rumah, "iya sayang, hati-hati!"

Seungcheol tersenyum, kedua kakinya mulai mengayuh sepeda yang kini melaju makin cepat. Gua harus buru-buru ketemu Joshua sama Jeonghan sebelum ujan nih, batinnya.

Di sisi lain, Joshua sudah berada di depan rumah Jeonghan. Lelaki berdarah Los Angeles itu mulai lelah memanggil nama Jeonghan si pembenci Hari Senin yang tak kunjung keluar dari kandangnya.

Beruntunglah Ibu Jeonghan mengecek keluar rumah dan membiarkannya masuk kedalam. Abis ini mati lu sama gue Han, batin Joshua.

Tak lama setelah Joshua mendudukan dirinya di sofa, laki-laki berlaga sok suci itu muncul di hadapannya, Joshua tersenyum manis pada Jeonghan yang kini duduk di depannya.

"Ah lu dateng kesini toh." ucapnya seakan tak punya dosa.

Joshua mengangguk sambil terus tersenyum palsu. "Udah gua chat lu di KaTalk dari tadi, kebo. Kemana lu?" tanyanya.

Jeonghan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Ah hari ini sekolah toh."

"Gak, hari ini nyangkul kita. Dah buruan, Haji Choirul nungguin." jawab Joshua yang kemudian menepuk pundak Jeonghan lalu beranjak dari duduknya.

Jeonghan terkekeh melihat raut kesal sahabatnya yang berubah akibat ulah usilnya lagi. Akhirnya keduanya berangkat menemui Seungcheol di Minimarket.

Beruntung, sepanjang perjalanan ketiga anak tersebut tidak terguyur hujan dan tepat saat mereka memarkirkan sepedanya di sekolah, barulah gerimis turun.

Seungcheol, Joshua dan Jeonghan berlari kecil memasuki lorong sekolah, Jeonghan memilih untuk mengantarkan kedua temannya yang duduk di kelas XII IPS tersebut. Keadaan kelas IPS saat itu sudah lumayan ramai. Namun beberapa murid belum datang, mungkin karena terjebak hujan.

Ketiganya masuk kedalam kelas.

"Ah padahal gua bisa gak sekolah hari ini." ucap Jeonghan menyesal sambil memandang seluruh isi kelas Seungcheol.

Seungcheol menoleh tidak percaya. "Woi, sampe kapan lu mau make jatah bolos lu hah?"

Joshua hanya diam melihat kedua temannya yang marah-marah tak jelas, ia memilih untuk segera merapikan tasnya di kursi dan setelahnya berjalan sedikit keluar kelas daripada otaknya panas mendengar ocehan dua orang tua ini.

Twinkle KiddosWhere stories live. Discover now