Rintik hujan mulai terlihat bersua dengan sang bumi, memunculkan suara indah yang memanjakan telinga. Tetes hujan semakin terlihat nyata bak bulir kristal bening yang sangat banyak. Aku menarik senyumku lebar, hujan selalu saja bisa membuatku merasa nyaman. Sebut saja namaku Elina, si gadis pencinta hujan.
"Kau menyukai hujan?" Atensiku teralihkan saat suara yang sangat ku kenali itu mengalun merdu ditelingaku.
Aku mengangguk, tak lupa ku selipkan senyumku. "Sangat suka."
"Apa istimewanya hujan sampai kau begitu menyukainya?" Lagi, lelaki itu bertanya.
Ah, ya! Aku lupa mengenalkannya. Namanya Nathan. Sosok lelaki berparas tampan dan bertubuh tinggi. Kulitnya putih bersih dengan bola mata indah bak lautan tanpa ombak. Dan juga senyumnya yang benar-benar menawan, sungguh membuatku candu.
Dia adalah teman sekelasku. Sepulang sekolah aku dan Nathan mengerjakan tugas kelompok Bahasa Jerman bersama dengan teman yang lainnya, dan baru selesai saat sang surya hampir tenggelam. Dia menawarkan tumpangan untukku. Melihat langit yang mendung seperti ingin hujan, aku menerimanya. Lagipula sangat sulit mencari angkutan umum sore-sore begini. Namun sepertinya semesta sedang tak berpihak pada kami. Dipertengahan jalan hujan mengguyur. Nathan mengajakku untuk berteduh, menunggu hujan reda. Dan disinilah kami sekarang. Di depan sebuah ruko yang sudah tutup, ditemani hujan dan semilir angin yang terasa menusuk kulit.
Aku terdiam, melempar pandanganku pada hujan sebelum akhirnya bersuara. "Bagiku hujan sangat istimewa. Tiap kali dia turun dia mengingatkanku pada setiap angan. Hujan menjadi saksi atas tiap rasa yang tak dapat tersalurkan lewat kata. Tentang rindu yang tenggelam terlalu dalam, tentang lara yang diselimuti oleh kesepian juga tentang cinta yang tak tersampaikan pada pemiliknya."
Ku lihat dia terdiam, mungkin berusaha mencerna ucapanku. Aku mengalihkan pandanganku pada hujan yang tetap setia meneteskan tiap rintiknya.
"Aku adalah pengagum hujan yang mengaguminya dalam diam. Namun saat hujan turun, aku lebih memilih memakai payung atau barangkali berteduh agar tidak basah." Dapat ku lihat dia mengerutkan keningnya, bingung.
"Kenapa? Bukankah kau sangat menyukai hujan?"
Ku lemparkan senyum hangat untuknya. "Saat hujan turun, sebagian orang akan berlari dan menari bersama hujan untuk menyamarkan rasa sakit. Sebagiannya lagi akan berteduh untuk menghindari rasa sakit. Aku tidak ingin sakit, maka dari itu aku berteduh."
Sebenarnya apa yang ku ucapkan bukanlah sekadar kata-kata. Ada maksud yang ingin kusampaikan di baliknya.
Aku menggosokkan kedua tanganku, berusaha mengurangi rasa dingin yang menyengat. Percayalah, rasanya benar-benar dingin.
"Kau kedinginan." Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Nathan membuka jaket hitam yang membalut sempurna tubuhnya.
"Ini, untukmu. Mungkin bisa memberikan sedikit kehangatan." Dia memakaikan jaketnya di tubuhku. Aku terdiam tak tahu harus apa.
Bisa-bisanya dia berkata dengan tenang dan tersenyum seperti itu. Tidak tahukah dia bahwa perbuatannya sungguh melemahkan hatiku. Sudah bisa kupastikan wajahku kini sangat memerah seperti kepiting rebus. Beruntung langit sudah gelap, jadi Nathan tidak bisa melihat wajah konyolku ini.
Aku berusaha mengumpulkan kewarasanku. Aku gugup, respon tubuhku sungguh tak bersahabat. "Terimakasih, Nath." Dia tersenyum.
"Hujan memang bisa membuat senang. Jika kau menyukai hujan atau mungkin seseorang yang kau ibaratkan seperti hujan, cobalah untuk mendekatinya dan lebih mengenal apa itu hujan."
"Nath, kau tahu? Hujan turun bukan hanya untuk satu orang. Hujan turun untuk semua orang, hujan milik semua orang. Terlalu egois jika aku ingin memiliki sang hujan seorang diri."
YOU ARE READING
Analogi Rasa
RandomBarangkali kita hanyalah sebuah bayangan dari kenyataan yang tidak akan pernah bisa sejalan. Barangkali kata "kita" hanyalah kata dalam kamus bahasa, yang nyatanya tidak pernah ada. Jika memang kita hanyalah kemungkinan yang tidak mungkin, maka izin...
