'Sejuta Sayang Untuk Lala' adalah cerita yang mengisahkan antara saudara kembar(Lili dan Lala) yang memiliki karakter yang berbeda. Tapi, Lili sebagai adik harus selalu mengalah kepada kakaknya. Cerita ini juga ditambahkan dengan tokoh Odie, pria yg...
"Ma, kita harus kuat dan sabar ya, gimana pun anak adalah berkat dari Allah," kata Papa menenangkan Mama sambil mengusap air mata Mama dengan lembut. "Iya, Pa. Tapi kita harus janji akan lebih sayang sama Lala biar Lala gak patah semangat,"ujar Mama.
Foto Ibu Lala dan Lili sewaktu mengandung
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Lala dan Lili. Ya. Itulah kami, dua gadis kembar yang sedang beranjak menjadi gadis dewasa berusia 21 tahun. 8 April 1999 lalu kami dilahirkan ke dunia ini. Kelahiran buah hati yang sudah sejak lama mereka nantikan membuat mereka menangis bahagia di Rumah Sakit. Tetapi ada satu hal yang membuat tangis bahagia mereka berubah jadi kesedihan. Lala ternyata mengidap penyakit langka 'Mielomeningokel' yang sewaktu-waktu dapat membahayakan nyawanya. Itulah sebabnya mengapa aku harus selalu mengalah pada Lala meskipun aku anak bungsu.
"Li, Odie udah nungguin kamu di ruang tamu," panggil Mama. "Iya, Ma. Lili mau turun kok,"sahut ku. Aku beranjak dari kamar sambil berlari menuruni tangga rumah menuju ruang tamu tempat dimana Odie menunggu ku. Aku dan Odie memang sudah bersahabat cukup lama. Kami berdua punya hobby yang sama sehingga kami sangat sering menghabiskan waktu berdua. Aku memang cukup berbeda dengan kembaran ku Lala. Aku merupakan anak yang periang, humoris, aktif dan suka mengalah. Sedangkan Kak Lala merupakan anak yang serius, lebih suka menghabiskan waktu di kamar dan sibuk dengan menulis di notebook-nya. "Odieeee, Loe udah lama nunggu?" Tanya ku dengan rasa tidak bersalah. "Gak usah ditanya lagi. Bertahun-tahun gue kenal sama loe gak pernah ada yang namanya on time di hidup loe, Li,"balasnya kesal. "Wkkwkwkwkw. Loe kok jadi sensi sih, Dy. Asal loe tau ya, gue kayak begini itu karna gue tau loe adalah orang yang selalu ngertiin gue,"goda ku. "EHHH, loe emang paling bisa deh," ujar Odie sembari mengacak-acak rambut ku. Odie segera melajukan sepeda motor Ninja-nya dan memilih berhenti di sebuah Mall di Jakarta. "Li, turun dong. Kita udah nyampe nih,"kata Odie sembari melepaskan helmnya. "Cepet amat,"jawab ku singkat. "Yehhh kita kan naik motor mahal jadi wajar dong kalau kita cepet nyampe,"celutuk Odie. Aku hanya tersenyum kecil mendengar candaan Odie.
Satu tangan Odie langsung menggenggam erat tangan ku lalu aku makin mempererat genggamannya berjalan menuju Mall.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Genggaman Odie yang tak pernah lepas dari Lili
"Li, kita makan dulu ya. Gue laper nih,"pinta Odie. "Mau makan dimana, Dy?"Tanya ku. "Tempat biasa dong, Li. Resto Seafood,"jawab Odie. "Sebenernya gue belom laper sih, tapi ya udah gue ngikut aja deh, selagi ditraktir,"lanjutku meledek Odie yang kelaperan. "Hahhahah, mana mau gue traktir Loe. Bayar masing-masing lah. Modal dikit dong!"balas Odie. Tawa Odie semakin menjadi dan Aku hanya menatapnya dengan kesal. "Waduh, ada yang ngambek nih,"ucap Odie sambil merangkul ku. "Apaan sih?"balasku berlalu meninggalkan Odie. Namun, dengan cepat Odie menahan dan menarikku ke dada bidangnya. "Maafin aku, Li. Aku hanya becanda tadi. Please, jangan marah,"bisik Odie lembut. Aku hanya tersenyum bahagia dipelukan Odie dan segera menggangguk. Aku sangat mengenal Odie. Odie memang tipe pria idaman wanita pada umumnya. Dia berhati lembut dan sangat menghargai wanita. Dia akan sangat merasa bersalah jika sikapnya sampai menyinggung lawan bicaranya.
Dengan semangat kami berjalan menuju Restaurant yang ingin kami tuju untuk mengisi perut . Tanpa ada pembicaraan lagi, Aku dan Odie menikmati pesanan masing-masing. Hingga beberapa menit setelah menghabiskan semua hidangan, Odie mengajakku untuk menonton Film genre Romance di bioskop. Tetapi, ketika duduk sembari menunggu Odie membelikan tiket nonton tiba-tiba ponsel ku berdering. Segera ku raih ponsel di tas ku dan ternyata itu telpon dari Mama. Aku pun langsung mengangkat panggilan itu. "Ya, halo , Ma. Ada apa?" "Li, kamu bisa pulang sekarang, nggak?" "Loh kenapa, Ma?" "Tante kamu barusan nelpon Mama, katanya Om Rudi masuk Rumah Sakit. Mama sama Papa akan berangkat ke sana. Mama takut nanti kita pulang kemalaman, jadi kamu segera pulang temenin kakak kamu di rumah ya!" "Oke deh, Ma."
Lili
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Lala
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.