Satu

4 0 0
                                        

Tubuh Marseille bergetar hebat. Kedua tangannya membekap mulut. Berharap ia mampu meredam teriakan. Air mata tak berhenti mengalir saat ia menangkap adegan mengerikan dari celah kecil pintu lemari. Dada panas akibat oksigen yang mulai menipis. Berada dalam ruang sempit rahasia di bawah tangga, jelas bukan pilihan terbaik. Terlebih melihat adegan tak berperasaan di depan mata, seolah-olah tenggorokannya tersumbat bongkahan batu pijar.

Ia memang tak punya pilihan lain saat tubuh mungilnya dimasukkan paksa ke dalam lemari. Ia juga tak punya waktu untuk kabur dari rumah ketika dobrakan pintu depan terdengar beringas diiringi suara pecahan kaca. Suasana tenang mendadak tegang. Hanya dalam hitungan detik, derap langkah beberapa orang berlomba memasuki ruangan. Empat orang asing berpakaian serba hitam memegang senjata yang entah apa namanya. Marseille melihat dua orang bertubuh tinggi besar layaknya bodyguard memasuki ruang kerja, sedangkan pria berambut hitam dan pirang menaiki tangga. Entakan sepatu terasa menendang gendang telinga Marseille yang berada tepat di bawah tangga.

Samar, ia mendengar suara percakapan. Beberapa menit kemudian, terdengar gertakan diiringi letusan senjata api. Nyali Marseille semakin ciut. Otaknya dipenuhi bayangan buruk.

Mata Marseille membulat sempurna. Dalam keadaan tak berdaya, ayahnya diseret  dari ruang kerja menuju ruang tengah. Wajah yang biasa terlihat ramah dengan kantong hitam menggantung di bawah mata, berubah menyeramkan tersaput darah. Suara rendah nan menenangkan berganti rintihan menyakitkan. Namun, dua pria itu sepertinya belum puas melihat kesakitan si Korban. Buktinya, mereka bergantian menginjak dada Amedeo seperti seonggok daging tanpa nyawa.

Belum hilang badai ketakutan di hati Marseille, terdengar jeritan wanita saling bersahutan. Mungkin jarum detik baru bergeser sepuluh ruas, letusan senjata menggema. Tidak hanya sekali, tetapi tiga kali. Bayangan ibu dan kakak bernasib sama seperti ayahnya berhasil melipatgandakan tremor di tubuh Marseille. Bisa jadi, ia akan bernasib sama.

Akan tetapi, dugaannya meleset. Dua penyiksa ayahnya kembali masuk ruang kerja. Tak berselang lama, salah satu dari mereka keluar sembari menggenggam dokumen dan diikuti pria berkepala plontos. Mereka berdiri di bawah tangga. Marseille semakin kuat membungkam mulutnya.

“Ke mana Mazeratti dan Gutaro?” Suara pria berkepala plontos terdengar geram.

“Anak itu, pasti menemukan buruan yang cocok. Apalagi kudengar perempuan Keluarga Sanchi terkenal cantik. Benar-benar bedebah kecil!” sahut rekan yang lain.

Setiap detik berjalan, jantung Marseille berdebar waswas. Ia mencoba bernapas pelan, sekuat tenaga agar tak ada sengguk yang keluar. Dalam diam, ia berlamentasi. Melafalkan pujian yang biasa ia pelajari di sekolah asrama dengan nada paling miris. Semiris nasib hidupnya kelak tanpa ayah. Bisa jadi tanpa ibu dan saudara.

Ratapan Marseille terhenti oleh derap langkah menuruni anak tangga. Tubuhnya kembali menggelugut. Takut.

“Apa semua sudah beres?” tanya pria berkepala plontos.

“Tentu, aku tidak pernah lalai dengan tugasku,” jawab seorang pria berambut hitam. Suara beratnya terdengar santai. “Hanya dua wanita lemah, jelas bukan hal berat untukku.”

“Apa maksudmu dua? Amedeo punya dua anak gadis.” Seorang pria pembawa dokumen angkat suara.

Suasana mendadak nyenyat. Marseille menutup mata. Mati-matian, ia menahan isakan agar tak menarik perhatian. Ia semakin kuat menekan mulut dengan kedua tangan.

“Tapi, aku dengar bungsu Sanchi ada di St. Angello,” celetuk pria berambut merah.

“Sekolah asrama membosankan itu?” seloroh pria berambut hitam. “Jelas bukan hal besar.” Setelah berucap demikian, pria berambut hitam keluar ruangan dan diikuti para begundal lainnya.

Sampai detik melangkahi menit, Marseille masih berada di tempat. Entah kenapa tubuhnya seperti terpatek dalam lemari. Sungguh, kejadian barusan menjadi pengalaman paling menyeramkan sepanjang hidupnya. Akhirnya, ia memilih kembali memejamkan mata. Berharap semua yang terjadi hanya mimpi buruk belaka.

Sayangnya, itu semua nyata. Anyir darah dari tubuh ayahnya terbawa udara hingga hinggap di indra penciuman. Air mata Marseille kembali jatuh. Kali ini diiringi sedu sedan.

Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu lemari hingga terbuka. Aroma darah semakin kuat menyerbu hidung, bahkan sukses menembus rongga dada lalu turun mengaduk-aduk perut. Ayam parmigiana bersaus tomat dengan topping keju mungkin belum sempat tercerna sempurna, tetapi seperti berdesakan ingin keluar.

Marseille merangkak keluar lemari, terus merangkak mendekati mayat ayahnya. Tangis Marseille pecah melihat wajah ayahnya bersimbah cairan merah pekat. Tepat di dada kiri, terdapat lubang merah kehitaman. Jejak sepatu terlukis samar di kaus putih penuh darah.

“Ayah ….”

Tangan kanan Marseille terulur, menyentuh dada ayahnya. Basah, dingin, dan lengket. Selama ini, ia takut setiap kali melihat darah. Namun, kali ini berbeda. Ketakutan itu lesap dan berganti kesedihan yang menggulungnya hebat seperti gelombang pasang. Ia mengguncang tubuh ayahnya meski tahu itu sia-sia.

“Ayah ….” Suara Marseille begitu memilukan.

Puas membuang air mata di samping ayahnya, ia menegakkan tubuh. Ia teringat ibu dan Loreince. Dengan begitu, Marseille bangkit dari lantai marmer. Setengah berlari, ia menaiki anak tangga. Lalu, ia terhenti di ambang pintu kamar orang tuanya. Pemandangan mengenaskan lagi-lagi mencemari matanya.

“Ibu ….”

Marseille berlari mendekati ibunya yang telentang di lantai tengah kamar. Kepala Elara miring ke kanan, menghadap pintu. Mata beriris abu-abu membeliak. Timah panas bersarang di dahi. Darah terlihat masih mengalir hingga membasahi rambut brunette dan permadani putih di bawah kepala.

Untuk beberapa saat, Marseille menumpahkan air mata di dada kaku Elara. Karena sadar bahwa mulai malam ini, ia tidak akan lagi bisa merasakan hangat tubuh ibunya.

Marseille tersengal. Persediaan air matanya seperti terkuras habis. Ia meraup oksigen melalui mulut, demi memenuhi paru-paru agar tak berakhir pingsan. Ia masih butuh kekuatan demi melihat keadaan kakaknya untuk terakhir kali.

Dengan tertatih, Marseille bangkit dari samping ibunya. Kaki mengayun pelan keluar kamar. Ia berjalan menuju sisi kiri bangunan, tepatnya kamar paling ujung milik Loreince. Sebelum masuk, ia menyandarkan punggung di dinding lorong. Ia menghimpun kekuatan agar tak histeris melihat keadaan kakaknya.

Sayangnya, harapan Marseille tak terwujud. Teriakan lolos begitu saja dari bibirnya saat ia melihat penampakan Loreince. Tubuh kaku kakaknya terekspos tanpa tertutup apa pun. Dua luka tembak bersarang di dada kanan dan dahi. Sontak tubuh Marseille tak mampu melawan gravitasi. Ia terduduk tanpa bisa menghentikan tangis.

“Biadab!” Umpatan pertama Marseille setelah empat belas tahun terlahir di dunia. Ia tak menyangka kepulangannya demi membunuh rindu terhadap keluarga, justru berakhir menjadi momen paling sialan. Ia seperti dipaksa melihat keluarganya dibantai oleh sekawanan mafia tak berperasaan.

Marseille menghampiri mayat kakaknya. Air mata kembali jebol. Tubuh Lorience tak hanya dihiasi cairan merah pekat, tetapi juga cairan putih kental. Tidak hanya di satu titik, tetapi beberapa titik. Mulai dari mulut, perut, hingga daerah kewanitaan.

Demi apa pun, Marseille masih menolak percaya atas kejadian yang menimpa keluarganya malam ini. Masih segar dalam ingatan, ia dan kakaknya saling bercerita seru sebelum makan malam berlangsung. Bahkan, mereka punya rencana indah melewati hari esok di pusat kota. Kini, rencana hanya tinggal angan yang ikut melayang seiringi nyawa berontak dari raga.

Sembari menahan asak di dada, Marseille berniat menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kakaknya. Namun, urung karena ekor matanya justru menangkap benda mengilap di pojok bawah ranjang.
Merasa asing dengan benda itu, ia segera membungkuk. Tangan kanannya meraih kalung berliontin kotak. Sekilas mirip kalung milik seorang prajurit, tetapi rantai terlihat lebih elegan dengan desain lekukan unik.

Mata Marseille menyelisik detail kalung. Bagian depan liontin terukir huruf M dalam font Algerian. Lantas, ia membalik liontin. Pahatan nama terpampang jelas di sana. Tanpa diperintah, benih dendam tersemai subur dalam hatinya.

Donathan Mazeratti

==[City of Delusion]==

Tbc ....

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Nov 22, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

City of DelusionHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora