Ama mengumpat kesal setelah membaca pengumuman pembagian kelas 11. Hei, bagaiamana bisa ia tidak satu kelas dengan Jia, sahabatnya. Belum lagi pagi itu Ama terlambat dan ia harus ikhlas belari kencang menuju kelas barunya. Meja dikelasnya sudah terisi oleh tas-tas temannya. Masih ada satu bangku kosong yang sudah dikelilingi tas yang sudah dipastikan pemiliknya laki-laki. Namun, mau bagaimana lagi. Hanya tempat itu yang masih kosong.
"Ma, duduk mana? Cuman dideket kita tu kosong. Yang lain udah ada pasangan semua, telat dateng sih lo," salah satu anak laki-laki bernama Saka dikelasnya tiba-tiba muncul disamping Ama di ikuti Alaska, Abi, dan Syakib, teman-temannya.
Jantung Ama berdetak lebih cepat ketika ia sadar jika ia sekelas dengan Abi. Pagi ini ternyata tidak terlalu buruk. Buktinya pagi ini ia bisa sekelas dengan Abi. Atau jangan-jangan ia juga satu meja yang sama dengan Abi. "Pagi Ama," satu sapa dari Abi membuyarkan lamunan Ama. Bibirnya kaku untuk menjawab. Ia hanya bisa tersenyum.
Diantara mereka hanya Alaska yang sangat sangat sangat sangat tidak ramah. Ia tidak ada memberikan sapa atau hanya sekedar senyuman. Matanya menatap Ama tajam lalu duduk dikursi miliknya. Ama bergidik ngeri, semoga saja ia tidak satu meja dengan Alaska. Lebih baik jauh-jauh dari Alaska. Alaska akan menjadi teman yang buruk.
Yang ditakutkan benar-benara terjadi. Ia satu meja dengan Alaska. Bukan dengan Abi. Abi berada disisi kanannya namun tidak semeja. Disusul Saka dan Syakib dimeja belakang mereka. "Santai Ma, Alaska baik kok," Syakib menyenggol bahunya dan tersenyum aneh. Ama kembali bergidik ngeri.
Bel masuk berbunyi. Para siswa berlarian menuju kelasnya. Beberapa kelas sudah diisi wali kelas masing-masing. "Semuanya udah pas. Atau ada yang ga setuju dengan posisi duduknya," Ibu Rianti mengamati semua tempat duduk yang sudah tersusun rapi. Cepat-cepat Ama mengacungkan jarinya.
"Bu, saya tidak setuju. Saya tidak mau duduk sama Alaska bu," teman sekelas Ama langsung menatapnya bingung. Setahu mereka Ama sendiri yang mau duduk disana dan Ibu Rianti sedari awal tidak mengubah posisi duduk bagian meja Ama. Lagi pula siapa anak perempuan yang tidak mau satu meja dengan Alaska?
Ibu Rianti mendekati meja Ama, "Loh Ama bukannya kamu sendiri ya yang dari awal duduk disini. Lagian disini enak kok. Posisinya jelas ke papan tulis. Ditambah ada Alaska juga terus dikelilingi cogan," pipi Ama bersemu merah menahan malu saat satu kelas melihatnya dengan tatapan mengolok. Hanya Alaska yang biasa saja bahkan tidak melirik sedikit pun.
Abi menyenggol bahunya. "Hai Ama, senang bisa sekelas dengan kamu. Kamu ga apa duduk sama Alaska?" lagi dan lagi Ama hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia kehilangan keberanian saat disebelah Abi. Segera ia memalingkan wajah memerahnya dari Abi.
***
Tidak satu kelas dengan Jia membuat masalah baru bagi Ama. Pasalnya Ama tidak pandai bergaul. Selama satu tahun sekolah hanya Jia yang menjadi sahabatnya. Itupun karena mereka sudah bersahabat dari kecil. Ia takut sekali bergaul dengan orang-orang baru.
Disinilah Ama duduk sendiri dikelas saat jam istirahat berbunyi. Ia tidak punya teman. Tak ada yang cocok dengan dirinya. Wajah bosan terukir wajahnya. "Mau bareng kita Ma?" ajak Abi sambil tersenyum. Ia ingin sekali mengangguk. Namun, ia tidak akan nyaman berjalan bersama ke kantin dengan mereka. Ia tidak mau tanggapan-tanggapan tidak baik hadir.
"Udah ada janji sama Jia, Bi. Makasih ya," Ama mengurungkan niatnya untuk berkata 'iya'. Sejak kelas sepuluh Ama selalu memimpikan bisa dekat dengan Abi. Siswa yang satu angkatan mereka juga menggilai Abi. Bahkan kakak kelas pun ikut-ikutan mengejar Abi. Nama Abi dikenal semua angkatan. Keaktifannya dalam berorganisasi menjadi alasan Abi dikenal banyak orang. Dengan Abi juga yang mudah berbaur membuatnya disukai banyak orang. Selepas berita menyenangkan itu, kabar buruknya ia sedang menjalin hubungan dengan Kak Rayu wakil ketua osis disekolahnya. Beberapa orang pun memilih mengubur perasaanya seketika mendengar berita buruk itu.
YOU ARE READING
X
RomanceHiru-hara sibuknya bangku SMA tak menghalangi remaja untuk mengenal cinta layaknya Salma gadis berambut panjang dengan senyuman manisnya juga tidak bisa berbohong dengan perasaan itu. Perasaan ingin memiliki seseorang. Kehidupan di SMA membuatnya be...
