Bagian satu

89 13 17
                                        

|| 610 kata ||

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

|| 610 kata ||

"Bu, Ibu kenapa?!" Dengan langkah tergesa beliau terus menarikku sejak tadi. Berbagai pertanyaan yang kulontarkan selalu tak dianggapnya.

"Bu! IBU!" Aku berteriak, menyentak tangan Ibu yang menggenggam erat pergelangan tanganku hingga menghentikan langkah kami.

"Oh Kirania ... berhenti bicara dan ikuti saja Ibu."

Belum sempat aku mengatakan sesuatu, Ibu sudah kembali menarikku.

Sebenarnya apa yang terjadi sekarang? Kenapa Ibu tiba-tiba menjemputku ke sini, ke rumah Ella--sahabatku.

Bahkan aku sudah bilang padanya bahwa akan menginap untuk merayakan ulang tahun Ella, tidak mungkin Ibu lupa.

"Masuk," kata Ibu tak ingin dibantah. Aku menatap kendaraan yang Ibu bawa telah terparkir di halaman rumah Ella.

 Aku menatap kendaraan yang Ibu bawa telah terparkir di halaman rumah Ella

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Iya, tap--"

"Sudah, masuk dulu."

Bruk ...

Ibu memberi sedikit dorongan hingga aku masuk lalu menutup pintunya. Memutari bagian depan dan menyusul masuk.

Mobil segera meluncur ke jalanan begitu Ibu menyalakannya. Beberapa tombol Ibu tekan dan mematikan mode Auto-pilot sehingga ia yang memegang kendali atas mobil ini.

Semakin lama, laju mobil semakin cepat hingga mencapai batas maksimal. Aku meraih sisi mobil, mencari-cari posisi yang nyaman untuk berpegangan pada apapun itu.

"BU, HATI-HATI! Pelan-pelan saja." Aku menoleh menatapnya ngeri. "Bu!"

"Tenang, Kiran. Kita harus segera sampai." Ibu menegur dan masih terlihat fokus pada jalanan.

Ini benar-benar gila!

"Bu!" kataku lirih, adrenalinku benar-benar terpacu.

Beberapa kali ibu sempat hampir menabrak, tapi tak membuatnya menurunkan kecepatan dan terus menyalip mobil-mobil yang menghalangi.

KRIET ... CIT ...

Suara decitan mobil ini terdengar, ibu menikung tajam saat jalan berbelok karena kecepatan yang tak biasa.

Oh Tuhan ... INI SAMA SAJA CARI MATI! batinku berteriak. Debaran jantungku berdegup cepat.

"Buka gerbang!" Ibu berbicara dengan alat kontrol di tangannya, lalu melempar asal. Mobil ini kembali berbelok memasuki pekarangan rumah.

CIT ...

Ibu menginjak rem sepenuhnya. Napasku terengah dengan tatapan ngeri mengarah ke depan.

Aku masih hidupkan aku masih hidupkan! Tuhan ... APA JANTUNGKU MASIH PADA TEMPATNYA?!

Bruk ...

Ibu telah keluar dan menutup pintu dengan kencang, lalu membuka pintu di sisiku.

"Cepat!" Ibu kembali menarik.

Kakiku rasanya masih lemas. "Bu, ada apa?!"

Ibu tak menghiraukanku. Kami terus melangkah cepat memasuki rumah, lalu ... ke kamarku?!

"Bu, kenapa--"

"KIR, diam, oke." Ibu menatapku lalu membawaku ke depan lemari tua yang kupakai dulu. Aku selalu meminta ibu untuk memindahkannya karena aku sudah punya yang baru, tapi ibu selalu melarang. Maka kubiarkan saja tetap di sana.

Ibu mengambil kunci dari saku bajunya dan membuka lemari itu, lalu berjongkok. Ia meraba-raba lanainya hingga terdengar bunyi ...

Klik ...

Lantai lemari itu bergeser dan terlihatlah tangga yang menurun.

Aku menatapnya tak percaya, jadi ini alasannya! Selama aku menghuni kamar ini aku benar-benar tak tahu bahwa ada ruangan itu.

"Masuk." Ibu memberi perintah. Aku menuruni tangga itu sambil menundukkan kepala.

Ruangan di bawah sini cukup kecil dengan tinggi hanya dua meter dan memiliki lift diujungnya.

Aku diminta untuk masuk kedalam lift tersebut. Ib membalikkan tubuhku agar menghadapnya.

"Kiran, dengarkan Ibu. Ada hal yang harus kamu ket---"

Drak ... drak ...

Langkah kaki terdengar dari atas. Sepertinya ada beberapa orang yang masuk karena langkah sepatu terdengar begitu gaduh. Suara pintu terbuka mulai terdengar. Aku mengamati langit-langit ruangan ini.

Apa itu langkah kaki? Siapa yang datang?

Aku menoleh pada Ibu. Ia terlihat panik. "Jaga dirimu baik-baik. Ingat, Nak. Yang dilihat oleh mata, bisa saja hanya fatamorgana. Tolong, temukan exodos. Kamu harus menemuinya."

Setelah mengatakan itu ia menekan sesuatu di ponselnya hingga pintu lift perlahan menutup, aku berseru panik karena ibu tak sempat menjelaskan apapun.

"Bu, apa yang terjadi?!"

Bukan penjelasan yang kudapat, justru raut wajah sedih dan senyuman tipis yang terlihat di wajah ibu.

"Kita akan segera bertemu lagi." Ibu bergegas pergi dan menutup ruangan ini saat pintu lift sudah tertutup sepenuhnya.


****

TBC

Paradoks : The AllagiWhere stories live. Discover now