Prolog

381 112 151
                                        

Tidak seperti kebanyakan remaja ketika bertemu waktu libur. Jess lebih memilih untuk tetap di rumah. Bukan! Bukan bangun di tengah hari, kemudian mendapatkan sapaan. "Selamat pagi Tuan Putri!"

Melainkan, ia terbangun sebelum fajar menyapa. Dan berusaha untuk tidak kembali tidur.

Karena mamanya selalu berkata. "Nanti rezekinya dipatok ayam, loh, Jess, kalau kamu molor lagi," begitu.

Jess memang terdidik tanpa paksaan orang tua, ia hanya menduplikat kebiasaan kakak perempuannya yang saat ini, sedang menempuh masa Intersip sebagai dokter, di luar kota.

Jess selalu berpikir, sebagai anak bungsu, bukan berarti ia berkelakuan manja atau egois seperti anak terakhir biasanya. Ia lebih terlihat sedikit cuek, tetapi tetap manis menawan dengan badannya yang mungil dan rambut yang hampir sebahu.

"Kamu mau lanjut SMA di mana, Jess? Katanya mau di SMA Purnama, ya? Bareng Ola lagi?" tanya Ayah Jess sambil memangkas ranting.

Sedangkan yang ditanya hanya diam membisu di bangku taman. Mengotes kelopak demi kelopak bunga matahari kecil.

"Ayah saranin banget kalau kamu di sana, Jess. Kalau mau lanjut ke luar negeri lebih gampang. Karena mereka udah punya banyak link-nya," jelas Arya.

Nadin yang melihat anaknya tetap membisu langsung menyahut. "Jess ditanyain, tuh, sama Ayah. Jangan ngelamun! Di sini banyak belalang, hati-hati!"

Jess tersadar. "Hm? Apa hubungannya sama belalang, Ma? Jess dengar kok."

"Kalau Jess di sana. Nanti Mama sama Ayah kesepian, dong," lanjut Jess dengan alasannya.

"Sayang. Mama sama Ayah tau kalau kamu pengin banget di SMA Purnama. Dan kalau hanya alasan itu, kamu lupa di sini ada nenek? Kamu, kan, juga tau, kalau dapur belakang tembus ke rumah Ayak Jum," jelas Mamanya.

Ayak adalah sebutan untuk tante di daerah Jess dan Ayak Jum adalah adik dari Ayahnya.

Ayak memiliki sepasang balita kembar yang hampir setiap saat berkunjung ke rumah Jess. Dan ketika itu, suasana rumah akan menjadi seperti daycare, tempat penitipan anak. Jadi, jika dipikir-pikir, tidak ada alasan bahwa rumah akan sepi penghuni.

"Terus kalau kamu di SMA Purnama, Ayah sama Mama bisa lebih tenang. Karena kamu bisa tinggal di rumah kita yang dulu, bareng Tante Desi. Tanpa harus ngekos," lanjut Ayah.

Jess sebenarnya setuju dengan saran Ayahnya. Melanjutkan SMA yang berstatus sepulu besar terbaik se-Nasional itu. Namun, perasaan labil mengalahkan hasrat terpendamnya. Membuat dia merasa bimbang untuk memilih.

***

Hampir seharian Jess beraktivitas di luar kamar. Membuat rasa lelah sangat dirasakannya saat ini.

Bagaimana tidak? Setelah joging pagi selama kurang lebih dua jam, Jess langsung membantu Ayah dan Mamanya bergotong royong.

Pada akhirnya, selepas makan siang bersama, dia memutuskan untuk beristirahat.

Jess melangkah menuju kamarnya. Terletak di antara taman keluarga dengan kamar kedua orang tuanya.

Tepat ketika Jess membuka pintu kamar, benda pipih berwarna hitam yang sedari pagi terabaikan di kasur itu, berdering nyaring. Wajah yang semula terlihat lejar, tiba-tiba menjadi seperti kucing penasaran.
Tak biasanya diwaktu seperti ini, dia mendapatkan panggilan telepon.

Jess segera melihat layar ponselnya. Di sana tertera sebuah kontak bernama 'Kak Danya'.

"Ha-haloo Kak?" Jess menunggu jawaban.

"Jess... Gimana yang kemaren? Kamu masih ingat, kan?" tanya Danya dari seberang sana.

Jess berdebar ketika mendengar suara itu pertama kali.

Kemudian dengan sedikit gugup dia menjawab. "Ii-iya, Kak."

"Hm? Kamu jawab pertanyaanku yang pertama atau yang kedua, Jess?" Danya mencoba meyakinkan.

"Eh? Dua-duanya?"

Jess tak bisa menahan rasa gugupnya saat ini. Seketika Jess merasa awkward. Bingung bagaimana harus menjawabnya. Dia mau. Benar-benar mau.

"Beneran?! Jadi, sekarang kita.. jadian!" belum sempat menjawab pernyataan itu, Danya langsung melanjutkan perkataannya.

"Oh iya! Btw, setelah panahan nanti sore, jangan lupa cek loker kamu, ya, Jess!"

Meski heran, untuk apa Danya menyuruhnya? Dia tetap mengiyakan.

Jess mengubris panggilan itu selama hampir dua jam. Masih belum percaya dengan apa yang sudah ia lakukan, Jess mencoba untuk menenangkan dirinya. Membuka jendela kemudian menghirup udara dengan tenang. Aroma kayu dari pepohonan membuatnya lebih rileks dan dapat membuatnya sadar.

Saat ini, rasa telah singgah, lupa akan hal telah berubah. Remaja belum genap empat belas tahun itu mulai tergoyahkan. Tanpa sadar, satu per satu peralihan nyata sebagai remaja pun muncul.

_____________

Jangan lupa vote dan share ke teman kalian! Terimakasih ❤

Cheerio, see u in the next chapter!

JESSWhere stories live. Discover now