MOTIVATOR

48 1 0
                                        

Tahun 2**2, manusia hidup di era utopia fana. Masa di mana manusia hidup dalam kesengsaraan mental dan pikiran. Namun hebatnya manusia tetap bertahan. Bagaimana bisa? satu jawabannya. Para motivator.

Motivator adalah pekerjaan kelas atas. Mereka menerima banyak pemasukan, hidup layak, dan bahagia. Terbebas dari kesengsaraan yang dihadapi orang-orang biasa. Pada era utopia fana, tingkat kematian sangat tinggi akibat frustrasi dan depresi. Beban pikiran manusia saat itu penuh sesak membuat mereka lelah dan tidak mau melakukan apa-apa hingga akhirnya mati dengan sendiri. Maka dari itu peran para motivator sangat dahsyat dalam keberlangsungan hidup umat manusia. Mereka bekerja memberi motivasi kepada orang-orang biasa yang sengsara. Memberi makna kehidupan dan alasan untuk berjuang. Singkatnya mereka memberi injeksi arti kehidupan dan kebahagiaan. Manusia saat itu tidak akan bisa hidup tanpa motivator. Mereka dianggap dewa.

***

Pusat kota, antrean panjang menghiasi jalanan. Mereka berbaris untuk berkonsultasi dengan motivator masing-masing. Daerah pusat kota memang menjadi tempat agensi para motivator bekerja. Setiap agensi memiliki motivatornya sendiri. Beberapa agensi terkenal bahkan punya ratusan motivator yang mereka perkerjakan. Tidak tanggung-tanggung bahkan ada agensi internasional yang punya ribuan motivator dan tersebar di seluruh penjuru dunia.

Brahn, pria tinggi besar memakai jas setelan mahal duduk di ruang kotak sempit serba putih. Ruangan motivasi. Kantor mini milik Brahn, motivator ulung.

"Kau mau menjadwalkan pertemuan berikutnya tiga hari dari sekarang?" Tanya Brahn ke perempuan paruh baya yang duduk di depannya.

"Aku akan coba minggu depan saja Tuan Brahn." Jawab tegas perempuan itu.

"Bagus! Sepertinya kau mau mengikuti saranku. Semoga tekadmu tidak redup seminggu ke depan."

Untuk ukuran manusia biasa pada masa itu, hidup satu minggu tanpa mengunjungi motivator adalah pencapaian besar. Banyak orang di luar sana yang membutuhkan motivasi setiap hari, bahkan ada yang setiap 5 jam. Motivasi dari sang ahli tampak seperti narkoba, membuat candu.

Habis sudah jam kerja si Brahn. Lampu kota mulai berkilauan, menandakan rembulan mulai datang. Brahn berjalan menelusuri gang sempit. Pemandangan tak wajar bagi seorang motivator ulung. Biasanya mereka pulang dengan mobil mewah dan makan di restoran bintang lima. Tetapi tidak malam itu. Brahn tampak mengganti pakaiannya, memakai wig, serta menggunakan kumis palsu. Brahn keluar dari gang sempit itu, menaiki angkutan umum dan pergi ke sudut kota.

***

Brahn kini mengantre, tampak gedung tua di hadapannya ramai orang. Tetapi tak seramai pusat kota. Daerah ini diketahui sebagai tempat agensi rendahan para motivator malam. Biayanya sedikit lebih murah, tetapi pelayanannya tetap hebat. Terlebih lagi mereka buka di jam malam, bahkan ada yang 24 jam.

Brahn memasuki ruang motivasi, ruangannya sama seperti miliknya. Cuman agak sempit. Brahn duduk, menunggu motivator masuk.

"Malam." Sapa motivator

"Malam Tuan Daff."

"Ah Tuan Brahn, sudah lama tak berjumpa. Tak perlu menutupi dirimu, rahasia klien aman dan terjaga sesuai kode etik motivator."

"Akan jadi berita heboh jika orang-orang tahu kalau seorang motivator mengunjungi motivator lainnya." Jelas Brahn.

"Haha tentu saja akan lucu jika seorang motivator pusat kota menjadi klien motivator pinggiran sepertiku. Tapi tak perlu sedih, kau juga manusia biasa Tuan Brahn."

Meskipun Motivator pinggiran, Tuan Daff juga menghasilkan banyak uang. Serendah apa pun seorang motivator kebahagiaan duniawi pasti mereka miliki. Begitu pandangan orang biasa terhadap motivator yang diagung-agungkan di dunia baru ini.

MOTIVATORWhere stories live. Discover now