"Sssh huh sakit, Jae."
Bulu kuduk Jena seketika meremang begitu sepasang benda dingin menyentuh kulit lehernya. Dan ya, tentu saja dibarengi dengan rasa perih dan ngilu. Baru saja semalam bekas yang mulai menghitam itu tercipta. Tidak mungkin sudah sembuh begitu saja.
"Tapi aku lapar," kata yang suaranya teredam karena semakin membenamkan wajahnya. Lelaki itu berperilaku seperti bayi yang sedang merengek kepada ibunya meminta makan.
Ayolah, ini masih pukul 06.00 dan Jena harus terbangun hanya karena Jaehyun merasa lapar. Rasa kantuknya benar-benar masih menempel karena baru saja bisa terlelap pukul 02.00 pagi tadi.
"Sangat lapar, Jena," mendengar namanya disebut, gadis itu mengembuskan nafas pelan. Tanpa kata lagi membangunkan tubuh polosnya dengan susah payah. Sakit, ngilu, perih, dan lemas yang Jena rasakan tidak dapat menjadi alasan untuk menolak permintaan Jaehyun.
"Aku mau daging dan sayur," ujar lelaki itu tanpa sedikitpun membuka mata. Mencari guling untuk dipeluk dan kembali membenamkan diri pada selimut putih tebal yang sudah terbiasa menjadi saksi kegiatan mereka.
Sementara yang mendapat perintah tertatih berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Setelahnya cepat pergi ke dapur untuk memasak.
"Huuh..." helaan nafas kembali keluar dari belah bibir tipisnya. Ini masih pagi, Jena. Tapi rasanya kesulitan satu-persatu telah berkumpul di pundaknya.
Daging dan sayur? Akan jadi berita baik jika Jaehyun hanya bercanda. Tetapi jelas dia benar-benar menginginkan dua makanan itu. Dan sialnya lemari es yang sedang menghantarkan dingin ke kulit pucat Jena itu kosong melompong.
Kesimpulannya, Jena harus pergi keluar untuk membeli bahan makanan. Dengan usaha penuh untuk melawan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
.
.
.
Bersyukur karena Jena dapat kembali ke apartemen ini dengan sekantung penuh belanjaan setelah 1,5 jam lamanya. Padahal minimarket tepat berada di seberang gedung. Tapi jangan salahkan juga, tubuhnya kali ini kurang bisa diajak kompromi.
"Kemana?" Jena baru saja melepas alas kaki. Saat mengangkat kepala menemukan Jaehyun yang tampak sudah rapi. Bahkan lelaki itu melenggang mendekatinya dan segera memakai sepatu dengan terburu-buru.
"Rea mau bertemu pagi ini. Dia mengajak sarapan bersama."
"Oh..." ucap Jena setelah sekian lama menggantung kalimatnya. Banyak kata yang telah disusun terpaksa ditelan kembali walaupun menimbulkan rasa pahit.
"Aku pergi."
"Hati-hati..." Jena tahu hanya dia sendiri yang mendengar ucapan itu. Si lelaki putih telah cepat berlalu meninggalkan debuman pintu yang terus terngiang di telinganya.
Sepertinya dia sangat terburu-buru ingin bertemu.
Jena ingat jelas ini helaan nafasnya yang ketiga. Ketiga kalinya dan bersumpah jadi terakhir untuk hari ini. Ayolah, hidup harus terus berlanjut jadi dia harus cepat-cepat memasak dan makan untuk mengisi tenaga. Bukan begitu?
.
.
.
Jaehyun-ah, mau makan bersama pagi ini?
Padahal yang kulihat ini hanya sebuah pesan teks. Tapi entahlah segera saja terbayang bagaimana gadis itu mengucapkannya sambil tersenyum dan suara lembutnya mengantarkan ketenangan di indra pendengaranku.
Rea, Nam Rea. Menurutku itu nama yang sangat indah. Begitu pula bagaimana indahnya dia memberi kasih dan sayang. Sosok yang lembut, penuh perhatian, ucapnya manis. Duh, aku bisa mengatakan dia sempurna.
Tidak berlebihan jika aku merasa sangat bahagia setelah mendapat pesan darinya. Masa bodoh dengan rasa kantuk yang masih membuat mataku berat. Masa bodoh pula dengan hal lainnya. Aku harus segera menemui gadis itu.
"Nona Rea ada di taman belakang," kata salah satu pelayan yang amat paham mengapa aku berkunjung ke kediaman Nam sepagi ini. Tak menunggu lama aku melangkah menuju ke sebuah halaman yang luas.
Aku menginjak rumput yang hijau, harusnya menyegarkan. Tapi bagiku ini kalah menyenangkannya dibanding dengan melihat eksistensi gadis yang tengah duduk di kursi taman. Di hadapannya sudah tersaji beberapa makanan dan teh hangat. Tampaknya dia benar-benar bersiap untuk menyambut kehadiranku.
"Masih terlalu pagi, kau bisa kedinginan karena udaranya," ujarku sambil menyelimuti bahu sempitnya. Selimut selalu tersedia di dekatnya yang rentan hawa dingin omong-omong.
"Tidak masalah, kau sudah di sini dan aku akan merasa hangat," dia mendongak dan tersenyum. Matanya tenggelam dengan cantiknya.
Ini akan menjadi pagi dan hari yang sempurna. Hatiku dipenuhi bahagia karena kehadiran Rea.
🕊
YOU ARE READING
The Blue Sky
FanfictionAku hanya ingin terbang tinggi dan menyentuh angkasa dengan hati yang rapi. Tetapi rasanya masih harus menunggumu, ya? Ayo cepatlah berbahagia. Aku ingin berlatih mengepakkan sayap yang terluka.
