***
Aku menunduk takut, tak berani menatap sepasang mata yang memandang ku tajam. Untuk hari pertama bekerja, aku sudah melakukan kesalahan. Bagaimana jika hari selanjutnya.
Telat pada hari pertama kerja, dan menabrak sang CEO perusahaan yang menyebabkan dokumen penting perusahaan ternodai dengan kopi panas milik ku. Sungguh buruk nasib ku pagi hari ini.
Bahkan, bahkan aku tidak tahu siapa nama bos didepan ku saat ini.
Ya Allah, bantu hamba..
Lirihku dalam hati..
"Siapa nama saya?", Suara bass yang berat itu membuatku sedikit gemetar. Pasalnya aku tidak tahu nama bos ku sendiri.
"Ga tau pak", cicitku pelan masih terus menunduk dan berkata jujur. Aku masih ingat, ibu ku pernah berkata jangan pernah berbohong. Jadi aku jujur saja lagipula ini murni kesalahan ku, tak ada gunanya aku berbohong bukan?
"Gimana kamu ini?! Nama bos sendiri tidak tahu, niat kerja tidak? Apa yang membuat kamu ingin kerja disini hah? Sampai sampai tidak tahu nama saya, jangan jangan kamu tidak membaca prosedur lamaran kerja?", tampak suaranya sedikit meninggi, aku yakin sekali pasti bos, benar benar marah dengan jawaban ku selanjutnya.
"Gak pak, soalnya saya cuma gabut daftar kerja disini pak eh taunya saya diterima, ya udah deh", ujarku polos sembari memilin ujung hijab yang ku kenakan.
BRAKK
Meja digebrak olehnya, aku menutup mata ku kala mendengar suara gebrakan meja yang cukup keras.
"Haduh.., ini siapa sih yang seleksi, kenapa saya asal terima saja karyawan yang seperti ini", sang CEO memijit kepalanya yang semakin pusing akibat ulah ku.
Sang CEO dengan cepat mengetik beberapa angka pada telepon kantor, dengan kening yang masih menimbulkan perempatan ia menghubungi seseorang yang ku yakin itu adalah sekretaris.
"Meira, segera pergi ke ruangan saya secepatnya, jangan lupa laporan karyawan baru yang baru masuk hari ini. Ada something", ujar sang CEO melirikku sebentar.
Beberapa saat hanya keheningan yang tercipta diantara kami, sang CEO hanya duduk menatapku tajam dari depan alhasil aku selalu gugup. Beberapa saat kemudian sekretaris yang diketahui namanya MEIRA ini datang dengan beberapa berkas berkas didekapannya lalu memberikannya pada sang CEO. Kemudian kembali berlalu meninggalkan kami berdua.
Beberapa saat kemudian aku mengernyitkan kala heran, kenapa sang CEO membaca sangat lama.
"Nahfiza Malayeka Asmid?", Ada sesuatu yang berbeda dari nada kalimat sang CEO saat menyebut namaku.
"Iya pak", ujarku sigap.
"Nama kamu beneran Nahfiza Malayeka Asmid?", Aku mengangguk kala sang CEO mengulang namaku, seakan akan tidak percaya.
Padahal udah jelas jelas namanya tercetak besar disana, masih juga nanya.
Nyinyir ku dalam hati.
"Iza.., ini beneran kamu?", Suara lembut menyapa Indra pendengaranku. Suara yang sudah lama tidak ku dengar namun masih tersimpan rapi dalam memory, suara yang sangat familiar kala memanggil lembut namaku.
Aku langsung mengangkat kepalaku.
Dan..
DEGG
Detak jantungku memompa dua kali lebih cepat dari biasanya, tanganku terkepal erat disamping tubuh, untuk sesaat nafasku tercekat.
Aku menutup mulut ku tidak percaya.
"GHIBRAN?!"
Mantan pacarku?!
***
ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH, ALHAMDULILLAH RIFA KEMBALI MEMBAWA CERITA BARU DIAKUN YANG BARU, JANGAN LUPA VOTE AND COMENT TERUS YA!
YOU ARE READING
Milk Boy
Romance🥛🥛🥛 "Susu emang manis sih, tapi manisan gue" "Gue lebih milih susu dari elu, susu putih, sedangkan elu butek. Susu manis, elu asem" "Jangan keseringan makan pudding deh, lihat tuh pipi lo makin melar" -Milkboy- 🍮🍮🍮 "Dasar maniak susu! Ngakunya...
