Happy Reading!
***
Author Pov.
Hujan lebat melanda kota Jakarta di sore hari. Terlihat seorang perempuan dengan jilbab kuning sedang menunggu angkot di depan sebuah butik baju muslim, dengan membawa sebuah payung.
"Lula, kamu mau pulang sekarang?" Seseorang menepuk pundak perempuan yang di ketahui bernama Lula itu.
Lula pun menoleh ke belakang, dan mendapati sang sahabat yang baru saja mengunci pintu butik.
"Iya, Syila. Tapi nunggu angkot dulu," jawab Lula pada Syila.
Syila memakai jaketnya dan hendak menuju motor yang terparkir di depan butik. Tapi sebelum memakai helmnya, dia menawari Lula untuk pulang bareng.
"Nggak usah, Syila. Aku bisa pulang sendiri kok. Mungkin besok motorku sudah selesai di perbaiki di bengkel."
Syila hanya bisa menghela nafas dan mengangguk. Dia sudah tahu perihal sifat sahabat nya itu, yang tidak suka merepotkan orang lain.
Gadis dengan lesung pipi di sebelah kiri itu melambai pada sahabat nya yang sudah melaju dengan motornya.
Lula Azura. Dia adalah gadis berumur 23 tahun yang sudah sukses bersama sahabat nya membangun sebuah butik baju muslim semenjak satu setengah tahun terakhir.
Sahabat yang sudah di kenalnya dari zaman SMP itu bernama Syila Ramadhani. Gadis ceria dan mudah berbaur dengan semua orang yang baru di temui, memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Lula.
Lula adalah gadis pendiam, yang cenderung sulit untuk memulai pembicaraan pada seseorang yang belum terlalu dia kenal. Bahkan untuk senyum pun dia hanya pada orang yang menyapanya.
Lula perlahan berjalan menembus hujan yang masih sedikit deras itu dengan payungnya menuju lebih dekat ke arah jalan raya, agar mudah untuk melambai pada sopir angkot.
Tanpa sengaja, mata Lula bertemu pandang dengan seorang pria memakai hoodie warna army dengan topi putihnya sedang tersenyum ke arah Lula.
Pria itu berada di seberang jalan, di bawah naungan atap halte.
Lula hanya memandang tanpa ekspresi pada pria tersebut. Tapi entah mengapa, jantungnya berdetak kencang hanya dengan melihat senyum sang pria.
Tak selang beberapa lama, angkot sudah melintas di depannya. Dan buru-buru Lula masuk kedalam angkot setelah melipat payung yang tadi di kenakan.
Astaghfirullah..kenapa jantungku deg degan banget ya Allah. Batin Lula dengan merapatkan jaket yang dia kenakan.
°°°°
Sesampainya di rumah, Lula mengetuk pintu dan memberi salam pada penghuni rumah.
"Assalamualaikum, Ibu!" Lula memanggil sang Ibu dengan agak berteriak, karena suara hujan yang merendam suaranya.
Tak selang lama, pintu terbuka menampilkan wajah sang Ibu.
"Waalaikumsalam, kok nggak nunggu reda aja sih, La? Ayuk masuk, langsung mandi, ya!" sang Ibu menggiring Lula memasuki rumah minimalis peninggalan sang Ayah.
"Udah sore Bu. Jadi takut nanti keburu maghrib kalo nunggu reda"
Dia langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan setelahnya sholat ashar, karena sebentar lagi memasuki jam setengah lima.
Adik lelaki Lula yang bernama Bian Darmawan yang sedang menonton televisi memandang sang Ibu penuh tanya.
"Tadi mba Lula, Bu?" Tanya Bian pada Cika, sang Ibu.
"Iya. Kehujanan pulang dari butik tadi," Ibu pun mendudukkan dirinya di sebelah sang putra yang sudah bersekolah kelas 12 SMA.
Ayah Lula sudah meninggal 10 tahun yang lalu, karena penyakitnya. Dan semenjak Lula SMP, sang Ibu lah yang banting tulang membiayai kehidupan Lula dan adiknya, Bian.
Setelah lulus SMA, Lula mengambil kursus menjahit juga mendesain baju, karena sedari kecil, dia sangat menyukai dunia fashion.
Dia ingin cepat-cepat membantu sang Ibu bekerja untuk membiayai keperluan hidup keluarganya nya. Dan alhamdulillah, sekarang Lula sudah sukses membangun bisnis nya dengan di bantu sang sahabat.
Selesai dengan acara mandi dan menjalankan sholat ashar yang hampir terlambat itu, Lula bergabung dengan Ibu juga adiknya di ruang televisi.
"Tadi gimana dengan keadaan butik? Lancar?" tanya Ibu, setelah Lula duduk di sebelahnya.
Lula mengangguk. "Alhamdulillah, tadi ada yang borong baju couple buat satu keluarga, Bu"
"Alhamdulillah kalo gitu. Eh, motor kamu masih di bengkel?"
"Iya. Paling besok pagi, pas pulang kerja aku ambil"
"Mba," Bian memanggil sang kakak. Dan Lula pun memandang Bian dengan raut bertanya.
"Tadi pas waktu aku pulang sekolah, tak sengaja kena srempet sama Abang-Abang yang pakek mobil, kan. Tapi alhamdulillah aku nggak papa kok, cuma kaget aja, gitu. Pas si Abangnya yang punya mobil keluar, beuh! Gantengnya ngalahin aku!" Cerita Bian berbinar-binar, seakan dia baru bertemu dengan Aliando.
Lula yang mendengarnya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia jadi teringat dengan pria yang tadi senyum kepadanya.
"Terus si Abangnya gimana?" Tanya Ibunya. Karena Lula hanya diam.
"Ya si Abangnya minta maaf ke aku, awalnya sih tadi nawarin nganterin pulang, tapi aku nolak"
"Kenapa di tolak?"
"Masalahnya tadi aku juga bareng temen-temen pulangnya"
Ibu hanya ber-oh ria mendengarkan penjelasan sang putra.
Ibu yang heran dengan keadaan Lula yang hanya diam pun menyikut lengan sang putri.
"Capek ya? Istirahat aja gih sana ke kamar. Lagi ada masalah apa sih, La?" tanya Ibu heran karena dia mengira Lula sedang capek dan memiliki masalah.
"Oh ng-nggak kok Bu. Aku hanya lagi inget sama pesanan baju yang belum aku kerjain,"
Ibu hanya mengangguk percaya. Setelahnya hanya suara hujan dan televisi yang mendominasi sore hari itu.
°°°°
Assalamualaikum guyss..
Ciaahh aku buat cerita baru guyss..
Hmm ada yang penasaran sama kelanjutannya gak nih?
Pasti pada kepo ye kan sama si Mas Mas pakek hoodie warna army dan bertopi putih?
Bukan berkuda putih yeee..
Atau Abang yang kata si Bian ganteng banget itu?
Yang mau lanjut, komen next ya..
See you!!!
Jazakallahu khairon katsiron...
Wassalamualaikum...
Kebumen, 16 November 2020.
firda_sunanti
YOU ARE READING
Smile Under The Rain
RandomPernahkah kalian berjumpa dengan seseorang yang belum di kenal di suatu tempat? Ya. Pastinya pernah. Itu yang pernah Lula alami. Berjumpa dengan seorang lelaki yang bahkan namanya pun tak dia ketahui. Ketika sang lelaki memberikan senyuman manis di...
