Maaf... maaf... maaf...
Entah sudah berapa kata maaf telah dia dengarkan. Kata maaf bernada datar yang hanya sekadar ucapan prosedural belaka. Terkadang kata maaf itu diikuti oleh alasan-alasan. Alasan yang selalu sama, anda belum memenuhi kualifikasi kami. Atau dalam kata lain, apa saja sih yang telah kau lakukan? CV busuk begitu hahaha.
Dia tak pernah mengira dirinya membutuhkan CV, dia, si jiwa malang kita ini, adalah seorang seniman yang hidup penuh dengan idealisme. Tak pernah sama sekali dia berpikir untuk bekerja kantoran dan merendahkan dirinya sendiri untuk atasan. Namun, kau tidak akan bisa hidup dengan lukisan-lukisan tak laku. Dan lukisan-lukisan tak laku takkan bisa mengisi pameran manapun.
Setelah tersenyum prosedural sembari undur diri—dia sudah belajar dari pengalaman sebelumnya untuk tidak mengumpat terang-terangan—dia menuju lift yang membawanya ke atap gedung, dia butuh rokok. Dilonggarkannya ikatan dasi yang seakan mencekik, yang tak pernah absen dipasangkan oleh istrinya setiap pagi, hanya untuk menyambutnya pulang dalam keadaan kacau balau.
Dia bersandar pada sisi gedung, menyalakan api yang sialnya sulit sekali menyala karena angin kencang. Setelah rokoknya tersulut dan diapit bibirnya, dia hanya berdiam diri di sana, menatap langit menerawang jauh. Kemudian naik ke atas tembok pembatas, merasakan angin sembari merentangkan tangan. Mencoba menghirup kebebasannya yang terenggut. Menyadari meski dia kini berdiri di puncak justru hidupnya sedang terjun bebas menuju dasar.
Angin yang berhembus kencang sedikit membuatnya kehilangan keseimbangan, rokok yang diapit bibirnya terlepas dan terjun bebas kebawah. Ya, bebas... setidaknya masih ada satu cara untuk bebas. Cara yang sangat tidak bertanggung jawab. Dia menghela napas dan terduduk lemas, mungkin dia tidak akan merokok lagi setelah ini. Itu juga hal yang tidak bertanggung jawab.
Malam mulai menjelang, dengan sisa uang yang tidak seberapa dia telah membeli sesuatu yang terbungkus rapi dalam kantong keresek di tangan kanannya. Setidaknya, itu adalah sesuatu yang cukup bertanggung jawab untuk mengosongkan isi dompetnya.
Sementara petir menyambar di kejauhan dan langit mulai menurunkan bulir-bulir hujan yang menderas dengan cepat. Ponselnya berdering dan dia berlari, tanpa sempat menyadari apa yang terjadi setelahnya. Dalam sepersekian detik sebelum dia sempat menyadarinya, suara yang memekakkan telinga, dan segala sesuatunya menjadi putih lalu gelap gulita.
YOU ARE READING
C.V : A Course of Life
General FictionSedang mencari pekerjaan? Siapkan CV-mu Lalu datang untuk wawancara Pakaian sopan dan rapi Siapkan mental juga hati Janganlah khawatir Tidak ada pesaing di sini Hanya kau dan CV-mu Lalu kami pewawancaramu Juga hidup dan matimu
